Rise Of Legend [ LIGHTNING]

Rise Of Legend [ LIGHTNING]
Bab 34 Melihat Siapa?


__ADS_3

Selain Familiar, setiap Guardian memiliki senjata masing-masing yang disebut sebagai Schafer. Schafer ini senjata yang diberkati oleh Dewa dan hanya bisa digunakan oleh Guardian itu sendiri. (Schafer\=senjata)


"Sekian lama waktu, banyak orang yang mengira-ngira Schafer sebagai pedang. Tapi leluhur bangsa Elf mencatat bahwa Schafer adalah lima jenis senjata yang berbeda."


Lima Schafer memiliki jenis senjata berbeda, baik penggunaan atau kekuatannya. Tentu saja Schafer ini merujuk pada kekuatan terbaik yang dimiliki Guardian itu sendiri. Pedang, Kipas, Hammer, Tongkat dan


"Busur." semua mata menatap gadis berambut ungu yang asik menguyah strawberry. Ellena, gadis itu mengangkat bahunya singkat seolah dia tidak mengatakan apa-apa barusan.


"Wahai, benar, sebuah Busur. Busur yang tak akan pernah kehabisan anak panahnya." Ellena memalingkan wajahnya dari Freya yang menatapnya ingin tahu.


"Wahai, Nona kecil, apa kau pernah melihat Schafer?"


Ellena menggeleng kepala, "Tidak pernah." mungkin, lanjutnya dalam hati.


"Wahai, baiklah. Lalu apa tanda Guardian lainnya? Ah bukankah pertanyaan ini sangat mudah? Lihatlah Nona kecil El, bukan kah dia sangat istimewa dari orang-orang yang kalian temui?"


Beberapa orang seperti Andesz menganggukkan kepalanya karena sebenarnya sejak pertama kali bertemu Ellena di Delos, dia sudah merasakan bahwa gadis yang kala itu menyamar menjadi pemuda adalah orang istimewa. Sisihkan tentang wajah yang mirip adiknya, karakter Ellena yang unik sesungguhnya juga menarik.


Gadis itu sangat mudah beradaptasi dengan sekelilingnya. Ellena cepat mengambil posisi dan menempatkan dirinya sehingga semuanya bisa bekerja dengan baik. Namun itu semua dilakukan dengan topeng yang menutup wajahnya. Seolah sedang bermain peran, Ellena memerankan El si bocah ceria, supel, sarkas, jahil dan energik. Sementara saat topeng-nya di buka, Ellena berubah menjadi layaknya singa ganas yang siap mencakar siapa saja dan melindungi kawanannya.


Bahkan jika Andesz belum mengenal Ellena lama, pria yang kini berambut putih itu berpikir Ellena memberikan kesan kuat kepadanya. Tentu sifatnya yang curigaan, tidak gampang percaya dan sarkas sangat menyebalkan dan kadang membuat sakit kepala. Tapi seperti tadi, tindakan Ellena menarik Nora kesisinya seolah melindungi bocah kecil itu dari mara bahaya tertinggal pada benak Andesz. Gadis itu siap melindungi orang-orangnya bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun. Pemikiran bila dia bisa menjadi orang yang dipercaya Ellena, itu bisa memudahkan segalanya.


Nora yang polos mengangguk cepat, "El memang keren. Kuat, tahan banting, dan pintar. Dulu dia menyelamatkan ku dari pedagang budak sedangkan para pedagang semua mati tersambar petir." tukas Nora bersemangat.


Tapi Ellena, seperti biasa, langsung menyenggol adik angkatnya itu, "Nora, diamlah."


Tahu dia bicara yang tidak perlu, Nora seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan dan mata melebar. Dia keceplosan lagi.


"Wahai, itu cerita yang menarik. Boleh kami. mendengarnya?" Pinta Freya dengan suaranya yang merdu menggoda.


Ellena menggaruk kepalanya canggung, "Waktu itu aku dalam perjalanan kembali ke penginapan setelah menyelesaikan misi menghabisi belut besar. Karena hujan aku berteduh, tak jauh dari sana para pedagang budak juga sedang berhenti." Ellena kemudian memandang Nora lalu mengelus kepalanya dengan sedikit tekanan gemas, "Entah apa yang merasukiku, aku nekat mengendap dan tanpa sengaja menarik Nora yang jatuh dari gerbong ke semak-semak. Selanjutnya suara petir dimana-mana dan saat berhenti seluruh pedagang sudah mati gosong." Ellena mengakhiri ceritanya seraya mengelap mulut Nora yang kotor dengan tangannya tanpa jijik.


"Jadi kau memanggil petir dan menghabisi para pedagang budak itu?" celetuk Andesz tetiba.

__ADS_1


Ellena segera membantah, "Aku tidak memanggil petir!"


"Kalau bukan mana bisa petir-petir menyambar begitu saja dan secara kebetulan mengenai semua pedagang? Kutanya apa ada budak lain yang tewas?"


Pada pertanyaan Andesz, Ellena dibuat bungkam karena saat dipikir ulang memang tidak ada budak yang tewas. Hanya trauma ringan karena suara-suara petir yang seperti ledakan. Selain itu karena Bibi Em melarang Ellena tahu kelanjutan kejadian itu dan keduanya terburu pergi ke Delos, akhirnya Ellena juga kurang tahu ada korban lain atau tidak.


Tapi sungguh bukan Ellena yang memanggil petir!


Melihat Ellena terdiam Andesz akhirnya sekali lagi menuai kemenangan debat kali ini, "Petir-petir itu mungkin menyambar karena kau berharap para pedagang budak mati, iya bukan?"


Waktu itu Ellena memang berharap para manusia biadap itu mati.


"Dan kau masih menyangkal kau adalah Guardian Divernian? Petir-petir itu jelas-jelas kekuatanmu yang berarti kau adalah Lightning."


Julukan apa lagi itu? Seperti tadi Andesz juga menyebut-nyebut nama itu sekilas.


Mengerti Ellena belum memahami maksud Andesz, Freya dengan sabar menerangkan, "Wahai, Kita sampai pada pertanyaan apa kekuatan nona kecil El."


"Wahai, sejauh dari yang kulihat dan kudengar, tidak diragukan bahwa nona kecil El adalah seorang Lightning. Itu adalah julukan untuk Guardian yang memiliki kekuatan terhadap petir dan listrik."


"Tapi bibi Em bilang aku harus hati-hati dengan langit karena dia bisa saja musuhku." kata Ellena kemudian.


Sudah lama sekali sejak Emily memeperingati Ellena untuk berhati-hati terhadap langit terutama saat hujan. Tapi dipikir lagi bibi Em tidak lagi begitu setelah kejadian pedagang budak yang gosong. Wanita baya yang masih seksi itu berganti lebih agresif melatih Ellena gila-gilaan. Itu juga yang membuat tinggi badan nya bertambah pesat.


"Nyonya Em bilang begitu?"


"Dulu... sekarang tidak, kurasa." Ellena menjawab Andesz.


"Wahai, mungkin saja bibi nona kecil tidak sesederhana kelihatannya." kata Freya.


Dahi Ellena menyerngit. "Apa maksudnya?"


Namun bukannya menjawab sang reyna melambaikan tangannya lembut, "Wahai, bukan aku yang boleh menjawabnya atas bibi mu, nona kecil."

__ADS_1


Bibir Ellena terkatup. Emosi sesaat yang tadi sempat terbesit langsung sirna. Tadinya Ellena siap mendebat ratu Elf di depannya semisal Elf cantik itu melontarkan praduga kurang ajar. Mau ratu Elf bahkan Kaisar langit sekalipun, tidak akan Ellena biarkan siapa pun menghina, menjelekkan dan meragukan Bibi Em di depan matanya.


"Wahai, nona kecil, apa sekarang kau mengerti? Kau adalah Guardian Lightning. Kau memiliki hubungan dengan langit meski koneksi itu mungkin sebatas emosimu saja. Tubuhmu memiliki regenarasi cepat setelah mendapat tato pohon kehidupan, bahkan aku yakin sebelumnya daya tubuhmu juga kuat hingga kau jarang sakit. Nona kecil, tanda itu berarti kau sudah pernah melihat Pohon Kehidupan, aku benar?"


Lagi lagi Ellena memalingkan wajah dan menjawab singkat, "Aku tidak yakin."


Beberapa potongan mimpi sebelum dia bangun perlahan teringat jelas dikepalanya. Tapi Ellena tidak berniat membaginya dengan siapapun saat ini.


Untungnya Freya tidak mendorong Ellena lebih jauh, "Kekuatanmu tidak terbatas nona kecil. Dengan elemen petir dan kepintaranmu, kekuatan petirmu akan sempurna dan segera kau menemukan Familiar serta Schafer milikmu, maka kau tidak akan tertandingi."


Apa yang paling di inginkan manusia? Tentu yang menjadi terkuat. Dengan itu maka kekuasaan dan kekayaan bisa datang dengan mudah. Ellena memutuskan menjadi petualang karena alasan itu. Menjadi terkuat dan bisa menghasilkan banyak uang dengan kemampun dan popularitas nya.


Tapi... kenapa setelah kesempatan itu ada di depannya Ellena merasa tidak nyaman? Sesuatu dalam dirinya membuatnya yakin cerita-cerita ini tidak bohong dan benar. Ellena merasa akrab. Neraka! Bahkan dia bisa bicara dengan Druk, naga hebat, dengan sengatan dikepalanya.


Namun disisi lain, ada yang mencegah Ellena menelan mentah-mentah semua itu.


"Freya... "


Sang reyna menatap Ellena.


"Andesz... "


Pria berambut putih dan bermata biru menatap Ellena.


"Dan kalian para Older Elf..."


Semua orang, bahkan Nora dan Druk memandang Ellena.


"Siapa yang kalian lihat saat melihatku? Aku atau Guardian Lightning?"


Tidak ada yang menjawab. Suasana hening membumbung tinggi di langit yang mulai memerah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2