Sahabat Ku Madu Ku

Sahabat Ku Madu Ku
hamil


__ADS_3

''


''


Adam kembali ke restoran karna restoran sangat membutuh kan diri nya saat ini. Sepanjang perjalanan Adam memikirkan ucapan Dira dan juga ke adaan nya saat Adam tinggal tadi Dira masih dalam keadaan pucat dan lemas. Ada rasa senang saat Dira meminta untuk berpisah tidak lagi harus membohongi Yuna dan anak anak nya namun bersamaan juga ada rasa berat di hati Adam. Ada rasa kasian melihat ke adaan Dira dan keluarganya. Entah perasaan berat ini cinta atau kasian.


Bu asih tertegun dengan ucapan putri nya yang mengutarakan ingin berpisah dari Adam bukan nya tiga bulan lalu Dira yang memaksa Adam untuk menikahinya dengan dalil Adam sudah menodainya dulu.


''Rasa penyesalan memang datang belakangan ndok jika tidak membuat kesalahan manusia tidak akan menjadi lebih baik dan menyadari kesalahan nya. Kita lanjutkan kehidupan kita seperti biasa nya. Semoga kelak ada pria yang menyayangimu dan mau menerima mu apa ada nya.''


Bu asih menasehati putri sulung nya yang menangis tersedu di pang Kuan nya sepulang nya Adam tadi Dira membicara kan niat nya yang ingin berpisah dengan Adam. Bu asih merasa lega dan bahagia begitu juga sang adik mareta bahagia kasian miris juga melihat keadaan sang kakak.


uwek uwek...!


Tiba tiba Dira merasa perut nya mual bergegas ke kamar mandi untuk memuntah kan seluruh isi perut nya sarapan yang baru saja di makan nya.


"Kamu kenapa Dir." tanya Bu asih panik melihat Dira muntah muntah.


''Dira tidak tau Bu dari kemarin Dira merasa mual dan sakit kepala.'' tutur Dira pada ibu nya


''Apa kamu sudah mendapat kan tamu bulanan mu Dir.'' tanya Bu asih serius ingin mendengar jawaban Dira


''Seperti nya belum Bu. seharus nya membuat Minggu lalu.'' jawab Dira pelan badan nya tampak lemah tak bertenaga


''Bagai mana jika kamu hamil Dir.'' tanya bu asih takut jika Dira hamil sedang baru tadi Dira bicara ingin berpisah dengan Adam.


''Dira tidak tau Bu.'' lirih dira sama seperti ibu nya yang takut jika diri nya hamil di saat Dira ingin berpisah dengan Adam.


''Sebaik nya kita periksakan saja Dir. Siapa tau kamu memang hamil agar tidak sembarang minum obat.'' ucap Bu asih lagi


''Ibu anterin ya kita naik taksi saja ke puskesmas.'' lanjut Bu asih Dira mengangguk pelan kemudian mengganti baju nya dan memakai jaket sambil menunggu taksi yang di pesan nya lewat aplikasi sebentar tadi


Setelah taksi datang Dira dan ibu nya segera menaiki taksi yang di pesan nya tadi taksi pun bergegas meluncur menuju tempat tujuan Dira dan ibu nya yaitu puskesmas tidak butuh waktu lama taksi yang Dira tumpangi susah sampai di pelataran puskesmas.

__ADS_1


Perlahan Dira turun di papah ibu nya. Memasuki puskesmas.


''Tunggu disini Dir ibu mengambil antrian dulu.'' tutur Bu asih pelan meninggalkan Dira duduk di bangku tempat menunggu.


Setelah mendaftar dan mengambil antrian Bu asih kembali menghampiri putri nya ikut duduk di samping Dira sambil menunggu giliran di panggil tak berapa lama giliran Dira di panggil


''giliran kira dir.'' Bu asih membawa Dira ke ruang KIA ruang khusus untuk pemeriksaan kandungan mendengar keluhan Dira dokter menyuruh nya untuk mengambil urin air Seni nya untuk di periksa lebih lanjut. Dira keluar dari ruangan khusus membawa air seni nya yang sudah di tampung di wadah khusus


''Ini dok.'' Dira menyodorkan wadah yang iya bawa. Kemudian dokter memeriksanya dengan alat testpack bibir dokter itu melengkung membentuk sebuah senyuman


''Bisa berbaring disini.'' dokter meminta Dira berbaring di berangkat untuk pemeriksaan lebih lanjut.


''Suami nya di mana.'' tanya dokter itu seraya membuka sedikit baju Dira dan mengolesi nya dengan gel.


''Masih kerja dok.'' jawab Dira apa ada nya.


''Apa ini yang pertama.'' tanya dok Ter itu lagi.


''Maksud dokter.'' tanya dira tidak mengerti.


''Putri ibu tidak apa apa Bu apa ibu sudah punya cucu sebelum nya.'' tanya dokter itu lagi


''Belum dok.'' jawab Bu asih.


''Kalau begitu selamat ibu akan punya cucu dan untuk anda nona selamat anda akan menjadi ibu. Lihat lah kantong kecil ini.'' dokter menunjuk kan layar hitam putih di depan nya


Bu asih menatap Dira dengan rasa kasihan entah harus senang atau sebalik nya Dira juga sama tampak kaget dengan ucapan dokter yang mengatakan diri nya sedang hamil.


''Berikan kejutan yang manis untuk suami nya. Karna ini berita menggembirakan.'' lanjut dokter itu lagi


''Iya dok.'' jawab Dira pelan kemudian Dira bangun dan duduk di depan meja sang dokter menunggu penjelasan selanjut nya.


''Usia kandungan nya baru menginjak dua sampai tiga Minggu untuk sekarang bayi nya sangat sehat. Jangan capek capek. Hindari kerja berat dan makan makanan yang bergizi.'' jelas dokter panjang lebar.

__ADS_1


''Iya dok.'' jawab Dira singkat masih merasa kaget dan tidak percaya. Sedang Bu asih hanya diam tidak bisa berkata lagi.


''Ini resep obat nya bisa di tebus di depan semua gratis tidak usah bayar.'' lanjut dokter melihat Dira hendak mengeluarkan uang nya


''Terimakadih dok.'' ucap Dira kemudian keluar dari ruang dokter kandungan


''Dir.'' lirih Bu asih


''Dira tidak tau Bu harus bagai mana.'' jawab Dira pelan.


''Tunggulah di sini biar ibu yang mengambil obat nya tempat nya agak jauh di sana.'' Dira hanya diam dan mengangguk menatap punggung ibu nya yang sudah mulai menghilang.


''Apa yang harus aku lakukan kenapa dia hadir saat aku mulai merelakan.'' jerit batin Dira dalam di lema. Tanpa terasa air mata membasahi kedua pipi nya. Tangan nya mengusap lembut perut nya yang rata.


''Ibu.'' Bu asih menoleh ke sumber suara.


''Nak Adam.'' gumam Bu asih kaget dengan ke hadiran Adam di sana


''Ibu ngapain disini apa sakit nya Dira parah Bu.'' tanya Adam kuatir


''Tidak kok nak Adam Dira baik baik saja ibu kesini untuk periksa gigi ibu yang sakit.'' ralat Bu asih berbohong.


''Nak Adam sendiri ngapain disini.'' tanya Bu asih penasaran apa yang dilakukan suami siri putri nya itu.


''Adam mengantar salah satu pegawai Adam Bu. Tadi ada kecelakaan kecil di dapur restoran tangan nya tersiram air panas. Itu masih menunggu di ruang UGD.'' jawab Adam apa ada nya.


''Ibu sama siapa biar Adam yang anterin pulang.'' ucap Adam menawarkan diri mengantar ibu mertua nya.


''Tidak usah nak Adam terimakasih ibu datang dengan reta dia menunggu di luar.'' bohong Bu asih lagi


Bu asih tidak mau berterus terang baginya bukan ranah nya meski Dira putrinya biar Dira sendiri yang memberi tau Adam dan membuat keputusan. Tentang kehamilan nya


Terimakasih yang sudah mampir. Terima kasih juga yang sudah like dan komen meski tidak di balas author selalu membaca setiap komen yang masuk

__ADS_1


bersambung


__ADS_2