
''
''
''
Rintik hujan mulai mereda namun tidak dengan air mata Adam yang masih setia membasahi pipi dan rahang nya yang sudah di tumbuhi bulu bulu halus dan sedikit lebat
Matanya fokus melihat video kebersamaan diri nya Yuna dan anak anak nya. Video yang dulu hampir tidak pernah Adam lihat mengabadikan momen hanya untuk di simpan dan memenuhi galeri ponsel nya sekarang hampir setiap malam Adam melihat video untuk mengurangi rasa kangen nya
sedang di tempat lain malam ini raya sedikit rewel suhu badan nya tiba tiba naik. Seperti biasa dalam keadaan seperti ini biasa nya Adam yang menemani raya dan gadis kecil itu sedari tadi tidak henti henti nya memanggil sang pipi di alam bawah sadar nya,
''Apa yang harus kita lakukan neng sedari tadi raya terus memanggil pipi nya,'' bik Jumi merasa kasian melihat keadaan raya seraya terus meng kompres kening raya dengan handuk hangat,
''Raya hanya seperti ini ke Tika sakit bik, bisa asa nya raya tidak pernah menanyakan pipi nya bibik tau sendiri kan,'' tutur Yuna
Bik Jumi diam mendengar kan tidak ingin menambah beban Yuna dengan bercerita yang sebenar nya, jika raya hampir setiap hari menanyakan pipi nya. Kapan pipi datang menjemput raya sudah kangen, raya ingin bermain dengan pipi ingin beli ice cream juga, keluh kesah raya yang selalu bik Jumi dengar dari mulut gadis kecil itu. Selalu nya Reyan yang akan memberi pengertian adik nya ketika raya sudah mulai menanyakan pipi nya.
Hari sudah menjelang subuh semalaman Yuna dan bik Jumi tidak tidur di kamar raya menemani gadis itu sedang Reyan selama adik nya sakit memilih tidur di ruang tamu
''Kita ke dokter sebentar lagi bik siap kan dulu keperluan raya, kita juga sekalian mengantar Reyan ke sekolah,'' Yuna berkata seraya bangun dari duduk nya baru sebentar tadi menjelang subuh Yuna dan bik Jumi sedikit bisa memejamkan mata,
''Mi apa demam adik sudah mendingan,'' tanya Reyan ketika melihat Mimi nya ke luar dari kamar nya dan juga sang adik,
''Mimi akan membawa adik ke dokter sebentar lagi sekalian kakak pergi ke sekolah,'' jawab Yuna berlalu pergi meninggal kan sang putra di ruang tamu
''bik apa demam raya sudah turun,''tanya Reyan menghampiri bik jumi
__ADS_1
''Den Reyan sudah bersiap,'' alih alih menjawab bik Jumi merasa bersalah melihat Reyan sudah rapi dengan seragam sekolah nya, ''maaf bibik tidak bisa membuat sarapan untuk Reyan,'' lanjut bik Jumi
''Tidak apa apa bik sekarang yang terpenting adik, Reyan tau bibik dan Mimi sudah menjaga adik semalaman, Reyan tadi susah buat susu sendiri,'' tutur Reyan
''maaf kan bibik ya,'' bik Jumi menatap Reyan dengan wajah sendu nya
''Terima Kasih bik,'' lirih Reyan
''Untuk apa,'' tanya bik Jumi tidak mengerti
''Sudah mau ikut Mimi pergi dan menjaga kami,'' lanjut reyan,
''Bibik akan merasa bersalah jika tidak ikut Mimi, karna mimi juga sudah banyak membantu bibik itu sudah menjadi tugas bibik,'' jawab bik Jumi
Reyan menghela nafas nya tangan nya terulur memeluk bik Jumi yang sudah di anggap nya seperti nenek nya sendiri,
''Reyan yang sabar ya ini hanya cobaan semoga secepat nya Reyan dan adik bisa berkumpul seperti dulu bersama pipi,'' Reyan mengangguk dalam pelukan bik Jumi
''Selamat pagi dik bagai mana keadaan mu,'' tanya Reyan lembut Reyan tau suhu badan adik nya masih panas namun sudah tidak tinggi seperti semalam
''Apa pipi sudah datang kak, raya melihat pipi ingin jemput kita tapi pipi tidak tau jalan nya,'' ucap raya dengan suara lemah nya
''Pasti pipi akan jemput kita raya yang sabar ya mungkin pipi masih sibuk mengurus semua cabang restoran kita,'' ucap Reyan mencoba memberi pengertian sang adik
''Tapi raya melihat nya pipi ke bingungan mencari kita,'' ucap raya lagi
''Raya hanya sedang bermimpi,'' dengan lembut Reyan mengusap pucuk kepala adik nya,
__ADS_1
Pagi itu Yuna meminta salah satu staf restoran nya untuk menyupir menuju rumah sakit Yuna merasa tidak sanggup dengan keadaan Yuna yang kurang tidur di tambah lagi dengan perut nya yang sudah semakin membesar
''Bagai mana keadaan putri saya dok,'' tanya Yuna kuatir dan penasaran,
''Hanya demam biasa seperti nya raya sedang merindukan seseorang,'' mendengar penjelasan dokter putra Yuna sedikit bernafas lega
''Apa raya mengatakan sesuatu dok,'' tanya Yuna penasaran dengan ucapan dokter putra yang bilang raya merindukan seseorang dokter putra tersenyum mendengar pertanyaan Yuna
''Tadi saya hanya bertanya apa raya ingin beli sesuatu yang sangat di ingin kan lalu memendam nya, jawab nya tidak raya hanya ingin bertemu pipi,'' melihat wajah Yuna yang berubah murung dokter putra sudah bisa menyimpul kan mungkin ada masalah dengan rumah tangga dari ibu pasien nya tersebut di tambah lagi raya bilang lama sekali hampir satu tahun tidak bertemu ayah nya, tepat nya selama usia kandungan Yuna
''Iya pipi nya masih bekerja dok,'' lirih Yuna,
''Ya sudah segera pertemukan Bu, seperti nya raya memang sudah lama menahan rindu,'' lanjut dokter putra
Dalam perjalanan pulang Yuna diam melamun sembari menatap keluar jendela kaca mobil nya egois kah Yuna memisah kan raya dengan ayah nya Yuna menatap ke arah perut nya yang tinggal beberapa hari lagi akan melahir kan, bahkan bayi yang belum di lahir kan nya
''Mimi boleh kan raya beli ice cream itu,'' tunjuk raya saat mobil berhenti di lampu merah dan raya melihat salah satu toko ice cream Yuna tersentil dari lamunan nya
''Raya masih sakit sayang nanti saja ya,'' lirih Yuna tidak mengijinkan raya untuk membeli ice cream gadis itu kembali murung
''Selalu seperti itu dulu raya tidak sakit pun Mimi bilang begitu, nanti saja ya,'' gadis kecil itu menirukan ucapan yuna ''kalau ada pipi pasti raya sudah makan ice cream,'' lanjut nya
''Raya sayang tadi dokter bilang apa raya harus sehat dulu tidak boleh makan sembarangan dan harus beristirahat,'' bik Jumi menimpali
''iya dokter juga bilang kalau raya sudah sembuh segera raya bisa bertemu dengan pipi,''
Tiba tiba rasa sesak menghantam dada Yuna merasa diri nya sangat egois dalam keadaan seperti ini mungkin bukan hanya raya yang merindukan ayah nya tapi juga Reyan meski Reyan tidak pernah mengungkap kan kerinduan nya
__ADS_1
Hai gengss terimakasih yang masih setia di naskah receh author, lebaran telah lama usai tapi author belum sempat mengucap kan minal Aidin walfaidzin untuk raider ku yang merayakan nya
Jangan lupa tinggal kan jejak