Sahabat Ku Madu Ku

Sahabat Ku Madu Ku
Reyhan al-Fatih''


__ADS_3

''


''


''


hujan turun dengan deras nya sejak menjelang tidur hingga dini hari Yuna tidak dapat memejamkan mata nya rasa sakit di perut akibat kontraksi lah penyebab nya, ibu dua anak itu memilih bertahan menunggu pagi tiba untuk pergi ke rumah sakit, Yuna juga tidak ingin merepotkan bik Jumi wanita yang sudah menemani hari hari nya selama pergi dari rumah,


''Mimi.'' panggil reyan saat melihat kamar Mimi nya masih terang dan pintu kamar nya pun tak tertutup dengan benar


''Mimi kenapa,'' tanya reyan kuatir melihat sang ibu seperti sedang menahan sakit


''Mimi tidak apa apa reyan, ini hal biasa saat bayi mau di lahir kan.'' jawab Yuna setenang mungkin tidak mau membuat putra nya semakin panik


''Mimi yakin reyan panggil kan bibik ya,'' ucap reyan masih kuatir


''Jangan sayang kasihan bibik, biarkan bibik tidur sebentar lagi juga sudah pagi baru Mimi bisa ke rumah sakit, tolak Yuna saat reyan ingin memanggil bik Jumi,


''tapi mi,''


''Tidak apa apa sayang Mimi masih bisa menahan nya ini sakit nya masih belum kuat, reyan sendiri ngapain malam malam begini bangun,'' tanya Yuna pada putra nya


''Reyan hanya ingin ke kamar mandi,'' jawab nya pelan


''Ya sudah pergi dulu, setelah ini lanjut lah tidur,'' reyan mengangguk patuh setelah selesai dari kamar mandi reyan tak lantas melanjutkan tidur nya melain kan menemani Mimi nya,


''Kamu kenapa lagi kak,'' tanya Yuna pelan


''Kakak mau di sini saja mi,'' putra sulung Yuna itu duduk bersila di hadapan Yuna lalu mulai memijit kaki ibu nya


''Lagian besok kakak juga libur sekolah nya,'' lanjut reyan Yuna tersenyum dan mengangguk sambil menahan sakit di perut nya saat kontraksi itu datang,

__ADS_1


''Jangan di tahan mi,'' ucap reyan seraya mengusap keringat yang menetes di dahi ibu nya Yuna tersenyum sambil meringis perlahan mengatur nafas nya tarik dan hembus kan berulang ulang sampai rasa sakit itu mereda kembali hingga datang lagi,


''Apa Mimi yakin tidak ingin menghubungi pipi,'' tanya reyan pelan putra sulung Yuna itu tidak pernah membahas atau bertanya tentang pipi nya ini yang pertama kali,


''Pipi mungkin sudah bahagia di sana kak, Mimi bisa kok tanpa pipi,'' jawab Yuna pelan


''tapi Kakak yang tidak tega melihat Mimi seperti ini,'' lirih reyan lagi yang sebenar nya reyan juga sangat merindukan ayah nya itu tapi reyan tidak ingin mengutarakan nya secara langsung,


''Mimi baik baik saja kak, jangan kuatir kan Mimi,'' ucap Yuna lagi mencoba meredakan rasa kuatir putra nya,


''Apa kakak rindu pipi,'' tanya Yuna ingin tau, reyan menatap wajah ibu nya sebelum mengangguk pelan takut Yuna kecewa


''Maaf kalau Mimi sudah egois dengan kita disini membuat kakak dan adik tidak bisa bertemu dan terpisah dari pipi, kalau kakak ingin menemui pipi bulan depan setelah ujian akhir semester kakak libur sekolah beberapa hari kan, ikut lah untei sea asal jangan beri tau alamat kita,'' reyan kembali menatap wajah sendu ibu nya


''Mi.''


''Mimi tidak ingin menahan kerinduan mu terhadap pipi, Mimi tau saat ini pasti akan terjadi, cepat lah kembali sebelum sekolah di mulai, hubungi untei sea kalau kakak sudah ingin pulang,'' reyan memeluk tubuh Yuna erat rasa senang dan berat menjadi satu


Yuna sudah di larikan ke rumah sakit setelah pagi menjelang, seperti biasa reyan dan raya sudah pergi ke sekolah, bik Jumi menemani Yuna yang akan segera melahirkan bayi nya,


''Neng Yuna kenapa tidak ngomong sama bibik kalau sudah kontraksi dari semalam,'' bik Jumi merasa bersalah tidak bisa menemani Yuna dalam sakit nya semalaman


''Tidak apa apa bik reyan sudah menemani Yuna semalam, sekarang bibi susah menemani Yuna kan, dalam ruang bersalin bik Jumi masih mengajak Yuna untuk ngobrol sebelum dokter mengambil tindakan,


''Apa neng Yuna yakin tidak mau memberitahu pak Adam, maaf kalau bibi lancang,'' ucap bik Jumi berhati hati saat bicara


''Tidak bik, biarkan seperti ini saja,'' ucap Yuna sambil tersenyum, bukan apa saat Yuna sudah bertekad meninggal kan rumah Yuna sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada bahkan Yuna sudah siap jika Adam setuju menandatangani surat cerai yang Yuna tinggal kan juga Yuna sudah siap melahirkan seorang diri tanpa di temani suami nya,


Tak berapa lama terdengar tangis bayi dari ruang bersalin Yuna sudah melahir kan bayi nya dengan selamat,


''Bayi nya laki laki bu Yuna,'' ucap dokter yang menolong persalinan Yuna, senyum dan tangis datang bersamaan menghiasi wajah ayu Yuna begitu juga bik Jumi yang sedari tadi tidak pernah meninggal kan Yuna,

__ADS_1


''syukurlah neng Yuna bayi nya lahir dengan sehat,'' ucap bik Jumi merasa bahagia tidak lupa bik Jumi mengucap rasa syukur nya


menjelang sore setelah pulang sekolah dan berganti pakaian reyan dan raya bergegas menuju rumah sakit di antar salah satu staf restoran yang biasa nya juga menjadi supir Yuna, untuk melihat adik kecil nya, raya yang sudah tidak sabar sedari mendapat kabar adik nya sudah di lahir kan, begitu antusias bahagia dan juga senang


''Adik di mana mi,'' tanya raya saat tak mendapati sang adik di ruang rawat ibu nya,


''Adik ada di ruangan lain sayang,'' jawab Yuna dengan suara nya ya g masih lemah,


''Kenapa tidak di sini raya kan ingin melihat nya,'' ucap nya lagi


''Iya sebentar biar bik Jumi panggilkan perawat untuk membawa adik kesini,'' mendengar ucapan ibu nya raya tampak senang tidak sabar menunggu adik nya datang,


''Bagai mana keadaan Mimi,'' berganti Reyan yang menanyakan keadaan ibu nya,


''Mimi baik kak, adik lahir dengan selamat dan sehat,'' tutur Yuna memberitahu ibu tifa anak itu tau putra sulung nya kuatir,


''Kakak sudah punya dua adik,'' lanjut nya sambil tersenyum begitu juga Yuna mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan putra nya,


tak berapa lama perawat datang membawa bayi kecil Yuna, untuk di susui karna memang sudah waktunya bayi itu menyusu dan bertemu ibu nya


''Adik ini kak raya dan kak reyan adik namanya siapa,'' celoteh raya begitu perawat meletak kan bayi itu kedalam bok di samping Yuna, mengundang senyum setiap orang yang mendengar


''Adik kecil belum punya nama raya, kak raya punya nama tidak untuk adik kecil,'' tanya Yuna ingin tau


''Terserah Mimi saja nama nya yang pasti raya ingin huruf depan nya R biar sama raya dan kak reyan,'' tutur raya yang ingin nama adik kecil nya sama berinisial R


Sedang Yuna diam mengingat sesuatu di masa lalu, saat reyan pertama kali hadir di dunia ini Yuna dan Adam sempat berdebat kecil mengenai nama untuk putra pertama mereka Yuna menginginkan nama reyan sedang Adam ingin anak pertama mereka bernama Reyhan


''Reyhan al-Fatih''


Kenapa Yuna memilih nama itu karna nama itu adalah nama impian Adam yang ingin menyemat kan nama itu ke anak pertama nya dulu hari ini Yuna menyemat kan nama itu untuk anak ke tiganya yang berjenis kelamin laki laki

__ADS_1


__ADS_2