
''
''
Saat melewati sebuah butik Dira melihat sebuah mobil yang di percayai itu mobil Yuna. Dengan ragu Dira mendekati mobil itu
''Deg.!
tungkai kaki Dira terasa melemas tak laki kuat melangkah kan kaki nya ketika melihat sang sahabat apa lagi tatapan tajam sea seakan menghunus tepat ke jantung nya.
"Dira apa yang kamu lakukan di sini." pertanyaan sea mampu membuat Dira tergagap tidak mampu menjawab.
"A aku melihat mobil Yuna. Apa Yuna ada di sini."
"Untuk apa kamu ingin menemui nya.'' Dira diam beberapa saat pertanyaan sea mampu membuat Dira seperti terintimidasi.
''Aku hanya ingin bicara pada nya dan minta maaf.'' lirih dira
''Tidak perlu. Apa kamu tidak berfikir dulu sebelum menemui Yuna. Aku saja muak melihat wajah mu apa lagi Yuna.''
''Aku datang sebagai sahabat.''
''Kamu bukan sahabat kami lagi. Pelakor seperti mu jangan pernah berharap menjadi sahabat kami. Kita level aku dan Yuna wanita terhormat.''
Dira tidak bisa berkata lagi ucapan sea sudah meluluh lantah kan harapan Dira.
''Aku memang orang miskin kita beda level karna sekarang kalian sudah sukses.'' Dira salah mengartikan ucapan sea
''Menjadi terhormat tidak harus di ukur dari kaya dan miskin nya. Dan wanita yang terhormat tidak akan memaksa seorang pria beristri untuk menikahi nya. karna hanya wanita yang tidak tau malu saja yang bisa melakukan nya.'' ucap sea telak
''Aku tau aku salah aku ingin sekali minya maaf.'' lirih dira lagi
''Buah jatuh tidak akan jauh dari pohon nya. Benar kata mertua Yuna kamu dan ibu mu sama saja.'' Dira yang semula menunduk menatap batu bata yang tersusun rapi di tanah seketika mengangkat pandangan nya. Begitu mendengar kata ibu mu
''Apa maksud mu se.'' tanya Dira tidak mengerti.
''Tanya kan pada ibu mu. Dia lebih tau. karna itu alasan terbesar Tante diah ibu nya Adam tidak merestui hubungan kalian dulu.'' jelas sea namun terdengar gamang di telinga Dira.
__ADS_1
''Kamu membenci ku se. Kenapa ibu ku juga di bawa bawa.'' tanya Dira.
''karna sifat ibu mu menurun pada mu. Dan ibu mu yang tidak bisa tegas menasehati mu.'' ucap sea
''Dalam hal apa.''
''Kenapa masih tanya dalam hal apa tanya kan pada diri mu sendiri apa kesalahan mu.'' ucap sea geram ingin sekali menampar mulut Dira
''Sea bicara sama siapa. Kenapa nada nya marah marah.'' batin Yuna berkata melihat sea tampak sedang berbincang dengan seseorang dengan nada tak biasa. Sayang nya Yuna tidak bisa melihat orang itu karata tertutup badan mobil nya.
''Se.'' panggil Yuna.
Dua orang itu seketika menoleh bersamaan ke sumber suara.
''Yuna..!
"Dira..!
Yuna sangat kaget melihat keberadaan Dira. Dengan cepat Yuna masuk kedalam mobil nya.
''Cepat masuk se. Kita harus cepat menjemput anak anak.'' ucap Yuna tanpa memperdulikan keberadaan Dira.
Tanpa menjawab Dira yang masih berusaha mengetuk kaca mobil Yuna terus melajukan mobil nya meninggal kan Dira dalam ke keputusasaan.
''Aku hanya ingin minta maaf Yun.'' teriak Dira di belakang mobil Yuna yang perlahan mulai menghilang.
''Kamu tidak apa apa.'' tanya sea pelan mengusap lembut lengan sahabat nya.
''Aku tidak apa apa.'' lirih Yuna
Hening tanpa ada yang bicara lagi Yuna mau pun sea kedua nya larut dalam pikiran masing masing. Kurang dari dua puluh menit Yuna sudah sampai di depan sekolah anak anak nya. Tepat nya hari ini hanya les
Sea turun untuk membawa putra putri nya dan putra putri Yuna. masuk kedalam mobil hari ini sea akan membawa anak anak itu bermain di taman dekat rumah sea. Ada acara yang di adakan komplek perumahan rumah sea.
''Se tidak apa apa kan aku meninggal kan anak anak bersama mu.'' ucap Yuna tidak enak hati.
''Tenang saja Yun. Ada bik Ijah dan adik ku. Bantu jagain mereka.'' jelas sea
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian mobil Yuna sudah mulai memasuki komplek perumahan sea. Sepanjang jalan tampak mobil sudah memadati area acara.
''pulang ke rumah dulu Yun. Nanti biar berangkat dari rumah.'' Yuna mengangguk pelan.
''Reyan jagain adik jangan nakal biar tidak ngerepotin Tante sea. nanti Mimi jemput kalau sudah selesai. Remaja dua belas tahun itu mengangguk patuh dan mengerti pesan pesan Mimi nya.
Yuna mencium putra dan putri nya kemudian. Pamit pulang dalam perjalanan pulang Yuna masih teringat kehadiran Dira tadi.
''Apa yang harus ku lakukan ya tuhan. Aku sendiri tidak tau harus ngapain.'' gumam Yuna pandangan nya lurus ke depan fokus pada ke mudi mobil nya. Sesampai nya di depan rumah Yuna tampak kesal melihat mobil tetangga nya yang selalu parkir sembarangan di depan pintu gerbang Yuna. Mobil itu hampir memakan separoh pintu gerbang Yuna. Al hasil Yuna tidak bisa memasuk kan mobil nya. Ia memarkirkan sedikit jauh di bawah pohon yang teduh.
Sedang di tempat lain Dira tampak mendatangi restoran milik Adam suami nya.
''Mas permisi.'' panggil Dira hati hati kepada salah satu staf restoran itu
''Ada yang bisa di bantu mbak.'' ucap staf yang di panggil Dira tadi.
''Mas apa pak Adam ada di sini.'' tanya Dira
''Pak Adam tidak ada. Mungkin kalau tidak salah pak Adam pergi ke restoran nya yang baru di buka. Memantau di sana.'' terang staf itu.
''Kalau Bu Yuna.'' tanya Dira lagi.
''Kebetulan Bu Yuna susah pergi sejak tadi.'' jawab nya lagi
''Oh sayang ya. Tadi di suruh ke sini.'' ucap Dira memelas
''Di telepon saja mbak.'' staf itu memberi saran
''Ponsel saya kehabisan daya mas. Kalau boleh bisa tidak saya minta alamat rumah nya saja. karna ini sangat penting.'' ucap Dira
Staf tampak ragu tidak lama kemudian ia datang dengan secarik kertas di tangan nya
''Ini mbak.'' Dira tampak senang jika tidak bisa menghubungi Yuna. bertemu di jalan Yuna pun menghindar Dira akan mendatangi rumah nya.
''Apa pun yang terjadi aku akan minta maaf pada Yuna.'' gumam Dira seraya melangkah kan kaki nya ke luar dari restoran. Sesaat sampai di luar restoran Dira kembali menoleh ke belakang menatap bangunan megah di belakang nya.
''Restoran yang cukup besar. Tidak hanya satu.'' gumam Dira
__ADS_1
Kembali melangkah kan kaki nya untuk memanggil taksi. Hari ini juga Dira akan mendatangi rumah Yuna. Tampak awan mendung mulai menghitam di angkasa tak berselang lama angin kencang datang menerpa. Seperti nya hari akan hujan
Bersambung