
''
''
Betapa kaget nya Yuna mendapati sosok yang tidak ingin di temui nya berada di kamar nya.
''Apa yang kamu lakukan disini.''
Kilatan amarah Yuna. Bak petir yang menyambar dengan dahsyat nya. di barengi gemuruh hujan yang belum reda.
''Yun a ak-''
''Tidak cukup kah kamu menggoda suami ku dan sekarang kamu berada di kamar ku. Apa kamu ingin tidur di kamar ini juga. Lalu menjadi nyonya rumah ini. Jangan mimpi..''?
Setelah berkata Yuna keluar dari kamar nya dan membanting pintu sekencang mungkin. Membuat Dira terlonjak kaget.
''Ibu..? Ibu..?
Dengan cepat Yuna menuruni tangga dan meneriak kan ibu mertua nya itu
''Yun ada apa.''
Bu Diah yang mendengar teriakan Yuna yang menggelegar bak suara Guntur lari tergopoh gopoh menuju tangga.
''Ibu kenapa ja**ng itu berada di kamar ku siapa yang membawa nya kemari.''
Bu Diah ragu untuk menjawab melihat kilat amarah menantu ya yang menyambar nyambar yang sebelum nya Yuna tidak pernah seperti itu.
''Sayang.'' panggil Adam dengan lembut.
__ADS_1
''Sayang tadi Dira berdiri di luar dengan basah kuyup aku mengijinkan nya masuk untuk mengeringkan badan.'' ucap Adam mencoba menjelaskan
''Sekali pun dia mati tersambar petir aku tidak perduli. Kenapa mas Adam membawa nya masuk kesini. Lalu membawa nya masuk ke kamar kita. Apa mas Adam ingin mengantikan posisi ku di rumah ini dengan selingkuhan mu itu.''
''Tidak sayang aku sama sekali tidak tau Dira masuk ke kamar kita.'' jelas Adam lagi
''Jangan sebut namanya di depan ku mas. aku muak mendengar nya.'' ucap Yuna dengan amarah nya.
Adam menghampiri Yuna yang masih sangat di selimuti amarah. Lalu mendekap nya dengan erat memberi kehangatan berharap amarah istrinya segera mereda.
''Bik jumi. Bawa ibu duduk dan ambil kan air minum.'' titah Adam yang melihat badan ibu nya gemetaran.
''Sayang dengar kan aku sekali ini saja. Aku tidak berniat membawa dia ke sini tadi aku melihat nya berdiri di depan pagar rumah kita dengan keadaan hujan lebat. aku tidak dengan sengaja membawa nya kesini aku juga tidak tau dia masuk ke kamar kita.'' ucap Adam penuh kelembutan
''Kamu bohong mas. Kamu sengaja kan membawa nya kemari.'' ucap Yuna dengan tangis yang mulai merembes membasahi wajah cantik nya. tangis yang memilukan untuk Adam tangis yang mampu menyayat hati Adam. Sayang nya ia tidak mampu mencegah tangis wanita yang ia cintai itu
''Sayang ku mohon jangan menangis hati ku sakit melihat nya. Maaf kan aku yang selalu membuat mu menangis.'' lirih Adam masih memeluk erat tubuh mungil Yuna.
''Kamu tidak akan kemana mana. Biar dia yang pergi.''
''Kalau begitu cepat usir dia dari sini.'' ucap Yuna dengan suara keras nya.
''Sebentar sayang biarkan hujan reda dulu setelah ini aku panggil kan taksi untuk nya.'' ucap Adam lagi
''Tapi aku tidak mau berada satu atap dengan nya bernafas dengan udara yang sama. Barang semenit pun.'' ucap Yuna lagi
''Sayang ku mohon. Dia sedang hamil kalau dia sakit bagai mana.'' mendengar ucapan Adam yang seakan tidak ingin Dira keluar dari rumah nya membuat emosi Yuna yang tadi sempat mereda meradang kembali.
''Baik lah kalau begitu aku yang ke luar.'' sekuat tenaga Yuna mendorong Tubuh Adam menjauh dari nya dengan cepat Yuna menyambar kunci mobil nya dan keluar dari rumah.
__ADS_1
''Sayang..! sayang tunggu kamu tidak boleh ke luar. Aku tidak mengijinkan.'' dengan cepat Adam merampas kunci mobil Yuna dan memasuk kan nya ke dalam saku celana nya.
''Kamu egois mas kamu jahat. Sama sekali tidak memikirkan perasaan ku.'' Yuna berlari keluar dari rumah nya menerobos hujan yang semakin lebat. Dengan cepat juga Adam menyusul istri nya yang keluar dengan keadaan marah.
Sedang di ujung tangga tungkai kaki Dira terasa lemas rasanya sulit untuk berpijak. Tubuh nya kaku lidah nya kelu. Air mata nya tak berhenti mengalir sejak Yuna memergoki nya berada di kamar utama rumah itu. Apa lagi mendengar ucapan demi ucapan Adam. Semakin menyadarkan Dira bahwa Adam memang tak lagi mencintai nya. Rasa Adam terhadap Dira hanya sekedar kasian.
''Sudah puas kamu. ini kan yang kamu ingin kan. Sama seperti ibu mu yang menggoda suami ku dulu. Saat aku sedang hamil besar ibu mu datang memporak porandakan rumah tangga ku. Sekarang kamu datang melakukan hal yang sama memporak porandakan rumah tangga putra dan putri ku. Yuna bukan menantuku tapi putri ku asal kamu tau itu.''
Lemas kaki Dira tidak dapat lagi menopang berat tubuh nya. Mendengar ibu nya juga pernah menjadi pelakor nyatanya lebih menyakit kan terlebih pria yang di rebut adalah ayah nya Adam. Sekarang Dira baru sadar kenapa dulu ibu nya Adam mati Matian tidak merestui Dira dan Adam.
Mengingat putra nya tidak bisa kena hujan Bu Diah memanggil bik Jumi untuk membawa payung dan mencari Adam yang ke luar mengejar istri nya.
''Cepat cari bik. Aku tidak mau Adam kenapa Napa. Biar aku yang mencari Yuna.''
Bu Diah pergi meninggal kan Dira yang masih terduduk lemas di lantai keluar ikut menerobos hujan guna mencari putra dan menantu nya.
''Ya tuhan untung saja anak anak tidak ada di rumah.'' gumam bik Jumi yang juga ikut menerobos hujan mencari tuan nya.
Lebat nya hujan membuat pandangan Adam kabur dan tidak bisa menemukan istrinya. Kepalanya juga mulai terasa sakit badan nya sudah menggigil Adam ambruk di jalan meraung merutuki diri nya yang tidak bisa melindungi istri nya. Membiarkan wanita yang di cintai nya itu pergi begitu saja.
''Pak Adam.'' panggil bik Jumi dari kejauhan.
''Ya tuhan pak Adam. Kita pulang dulu kita pakai mobil dan cari Bu Yuna ya.'' perlahan bik Jumi membantu Adam berdiri
''Dam kita pulang dulu dam.'' tampak Bu Diah juga sangat panik.
''Yuna tadi lari kesana Bu.'' Adam engan pulang kekeh ingin mencari istri nya.
''Kita pakai mobil saja dam.'' Bu Diah dan bik Jumi berusaha mengarahkan tubuh Adam untuk pulang.
__ADS_1
Sedang Yuna rupanya tidak jauh dari tempat Adam ambruk tadi Yuna berteduh di pondok pondok yang ada di pinggir jalan komplek perumahan nya. Setelah hujan sedikit mereda Yuna meneruskan langkah kaki nya menuju jalan utama tujuan nya ke rumah sea.
Bersambung