
''
''
Sepanjang perjalanan pulang Dira diam tidak bicara sedikit pun pandangan nya kosong menatap ke luar jendela. Sama hal nya Bu asih kasian melihat putri sulung nya. Harus mengalami kehidupan seperti ini. Tak lama kemudian taksi sudah sampai di depan rumah Bu asih.
''kita sudah sampai ndok turun lah.'' Bu asih membuka pintu mobil kemudian turun dan membantu Dira turun dari mobil.
''Kenapa kita turun di sini Bu.'' tanya Dira heran kenapa turun di rumah ibu nya.
''Tinggal Lah disini dulu Dir. dengan keadaan mu seperti ini kamu sendirian di rumah mu.''
''Dira tidak apa apa Bu Dira baik baik saja.'' ucap Dira
''Tidak kamu harus tinggal di sini dulu nanti kalau Adam datang kamu pulang lah.'' Bu asih Keke ingin Dira tinggal di rumah nya.
''Mbak dira sakit apa.'' tanya Aldi begitu Dira masuk ke dalam rumah.
''Mbak mu hanya kecapean Al.'' sela Bu asih menjawab pertanyaan putra nya
''Istirahat lah dulu mbak Aldi mau keluar sebentar dengan teman.''
''Hati hati Al jangan malam malam pulang nya.''
pesan Dira pada sang adik bungsu reta keluar dari kamar nya melihat sang kakak duduk di ruang tamu reta menghampiri kakak nya itu.
''kak Dira kenapa apa kata dokter sakit apa.'' Sederat pertanyaan reta lontarkan dengan rasa penasaran nya.
''Kakak mu hamil reta.'' jawab Bu asih cepat
''kalau hamil tidak jadi bercerai dong.'' celetuk merata
''Mbak gak tau reta. Kenapa bayi ini hadir ketika mbak ingin menyudahi semua.'' lirih dira
''Jadi mbak Dira akan mempertahan kan pernikahan mbak Dira demi anak mbak Dira.'' tanya Mareta lagi Dira hanya diam tidak menjawab pertanyaan adik nya.
''jika mbak Dira mempertahan kan anak mas Adam disana yang akan menjadi korban. Sebalik nya jika mbak Dira melepaskan anak mbak Dira yang akan menjadi korban. Sungguh malang nasib anak anak nya mas Adam semua akan menjadi korban.'' lanjut reta.
__ADS_1
''Mbak Dira akan melepas kan reta. Anak anak Adam di sana sudah besar dan mengenal siapa bapak nya. Sedang anak mbak nanti kalau sudah besar mbak Dira masih bisa berbohong jika tanya soal bapak nya.'' tutur Dira mengenai keputusan nya.
''Aku akan mendukung keputusan mbak Dira. Jika mbak Dira ingin bercerai sekalian tidak usah memberi tau kehamilan mbak Dira biarkan saja mas Adam tidak mengetahui nya.'' ucap reta.
''Hem terimakasih masih mau mendukung mbak mu ini.'' Dira memeluk adik nya dengan erat seraya menangis di pelukan sang adik
''Janji ya. Mbak Dira harus bercerai setelah itu kita besar kan anak mbak Dira ber sama sama. Jangan sampai menunggu di labrak istri sah mas Adam rasa nya pasti sangat penyakitkan sekaligus memalu kan aku gak ingin itu terjadi sama mbak Dira.'' jelas reta.
''Jangan merasa sendiri Dir ada adik adik mu dan juga ibu. Yang selalu mendukung mu asal kamu berada di jalan yang benar.'' sela Bu asih ikut menimpali
''Terima kasih Bu. Mareta maaf jika sebelum nya Dira membuat ibu sama reta kecewa dengan ke egois san ku.'' lirih dira sendu.
''ini bisa menjadi pelajaran buat kamu reta. Jangan percaya begitu saja dengan lelaki apa lagi sampai menyerahkan kehormatan mu. dan juga carilah lelaki yang masih lajang tidak beristri.'' Bu asih menasehati putri ke dua nya menjadikan hal yang terjadi pasa kakak nya sebagai pelajaran
''Reta mengerti Bu. Ibu tidak usah kuatir reta pasti bisa jaga diri.'' jawab reta pelan
''Itu harus ta. Jangan seperti mbak mu ini cukup mbak Dira yang mengalami kamu dan Aldi jangan sampai mengalami hal yang sama dengan mbak Dira.''
Dira dapat bernafas lega meski meminta cerai dari Adam dalam ke adaan sedang hamil paling tida adik dan ibu nya masih mendukung nya.
Sedang di tempat lain Yuna dan Adam sedang menikmati makan siang nya di salah satu restoran nya.
"Mas Adam kenapa seperti tidak fokus begitu apa ada masalah." tanya Yuna heran melihat suami nya itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak apa apa mungkin aku hanya kecapean badan ku rasa nya sakit semua." ralat Adam menghindari Yuna bertanya lebih
"Mau aku pijitin." ucap Yuna menawarkan diri seperti biasa nya Yuna akan memijit badan suami nya jika Adam merasa capek
"Boleh setelah makan." Adam melanjut kan santap siang nya
Namun pikiran nya masih sama memikirkan obat yang di tebus ibu nya Dira bukan obat sakit gigi melain kan obat anti mual sakit kepala dan juga vitamin untuk ibu hamil. Adam mengetahui nya karna setelah ibu nya Dira pergi Adam sempat bertanya pada petugas apotik.
Dira hamil itu yang ada di pikiran Adam. Tidak mungkin Adam menceraikan nya dengan keadaan Dira yang sedang hamil anak nya.
"Sayang aku akan ke toilet sebentar pamit Adam pada Yuna.
Adam membasuh wajah nya sedikit kasar berharap pikiran nya kembali tenang ingin sekali mendatangi rumah Dira namun Adam tidak bisa pergi ada Yuna bersama nya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan." Adam ingin sekali menghubungi Dira namu takut di dengar oleh pegawai nya mungkin Adam akan menunggu sampai besok untuk pergi ke rumah Dira. Meski hatinya berkata tidak dan ingin sekarang juga pergi ke rumah Dira hanya sekedar memastikan.
''Jika benar Dira hamil aku harus bagai mana seperti ini saja aku sudah pusing di buat nya. Apa lagi dengan kehadiran bayi itu.'' Adam semaki. Pusing di buat nya.
Kemudian Adam keluar dari toilet kembali ke mejanya di mana Yuna sudah menunggu.
''Ale di mana ibu.'' tanya Adam pada salah satu pegawai nya yang tidak melihat keberadaan istri nya
''Bu Yuna di dapur pak. Ada banyak pesanan dari pelanggan yang di atas.'' jawab Ale.
''Oh ya sudah bilang sama ibu aku di ruangan ku.'' ini kesempatan Adam untuk menghubungi Dira dari ruang kerja nya.
Benar saja sesampai nya di ruang kera nya Adam langsung menghubungi Dira beberapa panggilan tak terjawab sampai terdengar suara serak nan Lemah di sebrang telpon
''Halo Dir. Kamu baik baik saja kan.'' tanya Adam cepat begitu telpon nya di angkat
''Aku baik baik saja dam.'' jawab Dira pelan
''Dir jawab dengan jujur. Aku tadi di puskemas bertemu dengan ibu apa ibu bersama mu.'' tanya Adam penasaran
''Iya ibu bersama ku.'' jawab Dira jujur sesuai yang Adam harap kan.
''Siapa yang periksa tadi ibu atau kamu.'' tanya Adam lagi
''Aku.'' jawab Dira lagi
''Karna apa sampai kamu kamu mendatangi puskesmas.'' tanya Adam penasaran
''Sakit di kepala ku tak kunjung membaik karna itu ibu membawa ku berobat di Puskesmas.'' jawab Dira berbohong mengenai kehamilan nya
''Apa kamu yakin tidak ada yang lain. Tidak ada yang kamu sembunyikan dari ku.'' tanya Adam lagi.
''Yakin memang nya kenapa.''
''Aku tau semua nya Dira. Kamu memeriksakan kehamilan mu. Sejak kapan kenapa tidak memberitahu ku tadi pagi.''
mendengar ucapan Adam Dira terdiam tidak bisa bicara niat nya tidak ingin memberi tau Adam rupanya Adam sudah tau sendiri
__ADS_1