
''
''Sepulang dari joging Adam tampak Diam tak banyak bicara. Hanya terdengar suara Raya Reyan yang berceloteh di barengi tawa mereka sesekali Bu Diah ikut menimpali.
Sedang di rumah seperti biasa Yuna sudah menyiap kan sarapan keluarga kecil nya di atas meja
''Mimi.'' teriak raya dari luar.
''Bik ambil kan handuk raya dan Reyan pasti berkeringat.'' setelah berkata Yuna bergegas menyambut kedatangan mereka.
''Keringat nya banyak sekali. Keringkan dulu baru mandi ya.'' Yuna mengeringkan wajah dan leher putri nya.
''Yun ibu belikan kamu bubur.'' Bu Diah meletak kan bungkusan bubur di atas meja.
''Ibu sudah makan.'' tanya Yuna seraya meraih bungkusan yang baru saja di letak kan Bu Diah.
''Ibu makan dulu di sana sudah laper banget soal nya.'' jawab Bu Diah
''Mas Adam sudah makan.'' tanya Yuna lembut
''belum.'' jawab Adam singkat seraya menikmati kopi panas nya.
''Makan sekarang apa mau mandi dulu.'' tanya Yuna lagi
''Mandi saja sayang tapi tunggu badan ku kering.'' jawab Adam lagi.
yuna menikmati sarapan bubur nya dengan Reyan dan juga raya. sedang Adam naik ke kamar nya untuk mandi merasa badan nya susah gerah oleh keringat padahal tidak sedang olah raga hanya saja hati nya kesal dengan Dira yang tidak mau mengerti Adam berfikir Yuna juga istri nya tidak salah jika Adam bercinta dengan Yuna.
''Reyan sudah selesai sekarang mau mandi juga Gerah.'' putra sulung Yuna itu beranjak dari duduk nya dan bergegas untuk mandi merasa badan nya sudah lengket karna keringat.
''Pelan pelan makan nya sayang. Mimi masih disini menemani raya.'' Yuna berkata lembut
raya menghabiskan sisa bubur nya yang tinggal sedikit di temani Mimi nya yang setia menunggu hingga bubur raya habis.
__ADS_1
''Anak pinter.'' Yuna menyodorkan gelas berisi air putih kemudian raya meminum nya sedikit
''Mi.'' panggil raya seraya meletak kan kembali gelas air putih nya.
''mi. Tadi raya liat pipi bicara di telpon sambil marah marah.'' terang raya mengatakan apa yang di lihat nya baginya ini kali pertama melihat pria yang sangat di sayangi nya itu marah marah.
''memang nya pipi bicara apa.'' tanya Yuna penasaran.
''Raya tidak dengar raya hanya melihat dari tempat raya bermain ayunan. Jelas pipi sangat emosi tadi.'' lanjut raya.
''Ya sudah tidak apa apa mungkin pipi banyak pekerjaan sayang. Sekarang raya mandi ya sama bik jumi.'' putri kecil Yuna itu mengangguk patuh dan pergi mencari bik jumi
Yuna menenggak air putih di gelas nya hingga tandas tiba tiba dadanya terasa sesak tidak bisa membayangkan jika suami nya memang punya wanita lain di luar sana.
Yuna melangkah kan kakinya menuju tanga naik keatas menuju kamar nya saat Yuna berada di kamar nya Yuna tidak melihat keberadaan Adam. Di kamar mandi kosong di ruang ganti baju juga kosong dari arah balkon sayup terdengar Adam sedang bicara dengan langkah perlahan Yuna mendekati arah balkon yang masih tertutup tirai tebal itu
''Kamu memang tidak pernah mengerti dari awal aku sudah memberimu pengertian tentang konsekuensi nya. Jangan membuat aku pusing dengan celotehan mu itu aku tidak ingin rumah tangga ku hancur. tetap lah diam sampai hari aku mencerai kan mu.''
seketika dada Yuna bergemuruh kembang kempis menahan tangis nya. dengan cepat Yuna keluar dari kamar nya menuju kamar tamu. Untuk menghindari siapa pun melihat keadaan nya yang shock mengetahui fakta suami nya punya wanita simpanan di luar sana dan akan segera mencerai kan nya. Siapa wanita itu apa kekasih Adam dulu. Yuna berdiri di jendela kamar tamu yang tepat bersebelahan dengan kamar nya. Membuka jendela kamar itu lebar lebar berharap masih bisa mendengar kan suara Adam
''Siapa pun kamu aku tidak akan membiarkan mu menang merebut suami ku susah payah aku membangun semua ini. Aku akan merebut cinta suami ku aku pastikan aku bisa mendapat kan cinta suami ku. akan ku buat kamu tidak bisa berpaling dari ku mas.'' Yuna mengepal kan tangan nya kuat kemudian menghapus air mata di pipi nya Yuna bertekad tidak akan menangis meski hatinya hancur keluar dari kamar tamu Yuna kembali ke bawah menyiap kan Sarapan Adam.
''Sayang sarapan ku mana.'' tanya Adam seraya menjatuh kan bobot tubuh nya.
''Di meja mas.'' jawab Yuna datar
Adam memulai sarapan nya dengan tenang Yuna menatap pria yang sudah menikahinya tiga belas tahun yang lalu itu dengan tatapan luka dengan tega nya Adam menghancur apa yang Yuna sudah jaga selama tiga belas tahun ini. Hati cinta kesetiaan kepercayaan. Kehormatan dan keutuhan rumah tangga nya susah payah Yuna menjaga semua ini. Agar orang memandang suami nya dengan rasa hormat. Hancur dengan Adam nya wanita idaman lain. Di samping Adam.
''Yun kamu kenapa.'' Bu Diah mengaget kan Yuna yang sedang melamun.
''Yuna tidak apa apa Bu.'' jawab Yuna pelan
''Kamu sakit.'' Bu Diah menangkap Gelagat tidak biasa pada menantu nya itu.
__ADS_1
''putri ibu baik baik saja Bu. Jangan kuatir.'' jawab Yuna sengaja mengatakan putri memang bu diah tidak pernah menganggap Yuna menantu nya melainkan Yuna sudah seperti putri nya sendiri.
''Karna kamu putri ibu itulah kenapa seorang ibu bisa merasakan putri nya tidak sedang baik baik saja. Apa ada yang menggangu pikiran mu.'' tanya Bu Diah lagi
''Tidak ada Bu aku hanya takut ibu punya putri lain selain aku.'' mendengar ucapan istri ya Adam yang sedang menikmati sarapan nya seketika tersedak
Adam terbatuk batuk Bu Diah dengan cepat meraih gelas berisi air putih di tangan Yuna dan memberikan nya pada Adam seraya menepuk nepuk punggung nya
''Pelan pelan kenapa dam. Tidak akan ada yang mau merebut makanan mu.'' ucap Bu Diah
Melihat suami nya batuk batuk bukan nya membantu Yuna cuek dan berlalu pergi tidak seperti biasa nya dengan sigap membantu Adam dalam segala hal bahkan Yuna mengutamakan suami nya ketimbang diri nya
Bu Diah menatap kepergian Yuna dengan perasaan tanda tanya apa dengan menantu nya. tidak biasa nya Yuna seperti itu tidak memperdulikan putra nya
Sedang Adam pun sama merasa Yuna tiba tiba bersikap aneh.
''Dam apa kalian bertengkar.'' tanya nya Diah langsung ke inti nya
''tidak Bu kamu baik baik saja.'' jawab Adam
''Kenapa sikap istri mu seperti itu tiba tiba.'' tanya Bu Diah lagi.
''Mungkin Yuna kecapean Bu. Biarkan saja dulu.'' jawab Adam yang sebenar nya juga heran dengan sikap Yuna yang tiba tiba cuek.
Setelah menghabiskan sarapan nya Adam menyusul istri nya yang sedang menyiram tanaman nya di halaman rumah kegiatan Yuna di hari minggu jika tidak kemana mana.
''Sayang mau di bantu.'' tanya Adam mengambil alih pot bunga yang sedang Yuna pindah kan
''Tidak terima kasih.'' jawab Yuna cepat ekspresinya juga berubah datar
''Nanti kita mau ke luar tidak bawa anak anak jalan jalan. Kalau tidak aku mau ke luar sebentar'' tanya Adam lagi
''Terserah mas Adam.'' jawab Yuna singkat
__ADS_1
Merasa Yuna tidak begitu merespon Adam masuk kembali kedalam rumah berfikir ada apa dengan istri nya kenapa tiba tiba berubah cuek tidak memperdulikan nya. Tadi pagi ketika Adam pulang joging Yuna masih baik dan seperti biasa nya
Bersambung