
''
''
Adam melajukan mobil nya pelan merayap hujan yang begitu deras sedikit mengabur kan pandangan nya kilatan petir menyambar nyambar. Angin juga turun ambil peran dengan meniup kan kencang hembusan nya.
Tin..tin..?
Adam menyalakan klakson mobil nya beberapa kali ketika melihat ada seseorang duduk dalam hujan di depan pintu pagar rumah nya.
''Siapa sih duduk di sana.'' gumam Adam sedikit kesal
Dira menyadari ada mobil yang hendak masuk dengan perlahan menggeser tubuh nya ke samping
Alangkah terkejut nya Adam melihat Dira berdiri dalam hujan saat terkena sorot lampu mobil nya.
Adam memarkir kan mobil nya terlebih dulu kemudian turun dan membawa payung.
''Apa yang kamu lakukan disini Dira.'' ucap Adam sedikit mengeras kan suara nya.
Dira diam tidak menjawab tubuh nya menggigil akibat kena hujan.
''Masuk dulu.'' Adam membawa dira berteduh di garasi nya.
''Bisa jelaskan pada ku apa yang kamu lakukan di sini.'' tanya Adam lagi.
''Aku hanya ingin bertemu dengan Yuna.'' lirih dira menahan getaran di bibir nya.
Adam melihat mobil istri nya belum terparkir di garasi mengira istri nya belum pulang mungkin masih di rumah sea dengan anak anak mengingat hujan cukup lebar. Sangat bahaya Membawa mobil di tengah hujan
''Kenapa kamu keras kepala sekali Dir aku bilang jangan menemui Yuna. Kamu membuat semua nya bertambah rumit.'' kesal Adam
__ADS_1
Melihat ada yang bicara dari luar bik Jumi yang berada di dapur membuka pintu.
''Siapa bik.'' tanya Bu Diah juga penasaran
''Pak Adam Bu. Tapi bicara sama siapa itu.'' ucap bik Jumi, penasaran Bu Diah melihat Adam dengan siapa di luar.
''Adam ngapain kamu bawa pelakor ini masuk. Bagai mana kalau Yuna tau.'' kesal Bu Diah. Tidak habis pikir.
''Bu biarkan Dira mengeringkan badan nya dulu. Setelah ini biar aku antar dia pulang.'' lirih Adam
''bik tolong bawa Dira ganti pakaian. Berikan dia baju yang kering.'' titah Adam pada bik Jumi
''Dir kamu ikut lah bik Jumi. Ganti dulu pakaian mu. Setelah ini aku antar kamu pulang.
''Dam kamu apa apaan. Bagai mana kalau Yuna tau Dira ada disini. Kamu tidak pernah memikirkan Perasaan Yuna dam. Yang kamu pikir hanya pelakor itu saja.'' Adam menghela nafas nya berat melihat tatapan tajam ibu nya seakan hendak menghunus jantung nya
''Bu biarkan Dira ganti baju dulu hanya sebentar setelah ini aku akan mengantar nya pulang. Ibu mau dira sakit dan merepotkan ku.'' lirih Adam mencoba memberi pengertian ibu nya.
''Bik jumi buat kan Adam kopi dan teh buat saya.'' Bu Diah sengaja agar bik Jumi tidak melayani Dira.
''Iya buk sebentar.'' jawab bik Jumi
''Neng ini baju bersih nya ganti dulu pakaian nya. Naik saja ke lantai atas paling ujung itu kamar tamu. Neng bisa ganti di sana.'' ucap bik Jumi kemudian meninggal kan Dira di tengah tangga.
Perlahan Dira menaiki tangga rumah Adam dan Yuna. Matanya tak luput memindai setiap sudut rumah itu. Tidak lah sebesar istana tapi cukup nyaman dan mewah. Adam dan Yuna benar benar sudah menjadi orang kaya. Bukan nya Dira tidak tau dulu siapa Adam dan siapa yuna.
''ini yang mana kamar nya. pintu nya banyak sekali.'' Dira bingung mau masuk ke pintu yang mana. Di ujung terdapat dua pintu. Dira memilih pintu pertama yang ada di ujung itu
Begitu membuka pintu mata Dira di suguhi pemandangan kamar yang begitu indah di setiap sudut nya barang barang tersusun rapi. Ranjang yang begitu besar dan tampak nyaman. Terdapat televisi yang cukup besar di kamar itu. Kamar yang selalu di dambakan bagi orang seperti Dira.
''Sebaik nya aku ganti baju ku cepat.'' gumam Dira kemudian Dira membuka pintu yang ternyata ruang ganti baju. Mata Dira kembali terpana melihat baju tergantung rapi. tas yang tersusun sesuai warna nya. Sepatu beraneka merek mahal dan tidak terkenal.
__ADS_1
''Apa ini semua milik Yuna.'' batin Dira seraya menelisik meja rias yang di hiasi alat makeup yang Dira tau tidak lah murah harga nya.
''Parfum ini pasti sangat mahal.'' melihat merek yang tertera di parfum itu Dira tau itu tidak lah murah.
Puas melihat isi ruang ganti baju di kamar itu Dira segera masuk ke kamar mandi. Mata Dira sekali lagi di buat takjub. Jika di rumah nya hanya ada kran dan ember untuk mandi. Di kamar mandi yang Dira masuki sangat lengkap. bathtub nya juga besar
''Pasti sangat nyaman jika berendam di sana.'' gumam Dira. Peralatan mandi yang nyaris di rumah Dira tidak ada.
''Nyaman sekali hidup mu Yuna.'' gumam Dira lagi seketika perasaan iri ingin memiliki hal yang sama dengan apa yang dira lihat ketika memasuki rumah ini merambat memburu di otak kecil Dira. Lupa sudah tujuan awal Dira mau apa.
Dira melangkah kan kaki ya memasuki bathtub perasaan ingin sekali berendam merasakan nyaman nya fasilitas di kamar mandi itu.
''Aku harus segera ganti baju.'' seakan tersadar Dira menyalakan kran air hangat. Dan mengguyur tubuh nya. Yang kedinginan.
''Ah ini nyaman sekali. Tidak perlu merebus air jika ingin mandi air hangat.'' gumam Dira menikmati guyuran air hangat langsung dari kran nya. Setelah selesai menikmati guyuran air hangat Dira bergegas mengeringkan badan nya
''Handuk di kamar mandi ini selalu baru dan bersih mungkin yuna menggunakan nya hanya sekali pakai dan di cuci.'' gumam Dira lagi. enak sekali hidup mu Yun.
setelah mengeringkan badan nya Dira segera mengenakan baju yang tadi di siap kan bik Jumi. Baju lama Yuna yang kemarin sempat mau di buang. Melihat baju itu masih bagus dan layak pakai bik Jumi urung membuang nya. Bik Jumi menyimpan nya untuk ia bawa pulang ke kampung. Lumayan buat Oleh oleh baju mahal. Jumblah nya juga lumayan banyak satu koper. Kini baju bekas Yuna itu di pakai Dira.
''Ini baju siapa. Mungkinkah ini baju Yuna. Ah tidak mungkin pembantu itu berani mengambil baju Yuna tanpa ijin mungkin baju ini memang di siap kan untuk tamu. Lumayan bagus dan pasti harga nya mahal.'' gumam Dira lagi melihat pantulan Diri nya di cermin.
Setelah selesai Dira segera keluar dari kamar mandi. Saat melangkah kan kaki nya dari kamar mandi mata Dira di suguh kan dengan foto pernikahan Yuna dan Adam yang terpajang tepat di atas ranjang. figura yang lumayan besar ukuran nya bertengger indah di tempat nya.
''Ternyata memang aku bukan siapa siapa. Aku tidak akan pernah bisa berada di posisi Yuna.'' gumam Dira lagi
Yang masih menatap dengan sejuta rasa yang tidak bisa dideskripsikan dengan gambaran kata. Semua rasa melebur menjadi satu rasa iri rasa kagum rasa luka rasa benci rasa bersalah dan menyesal.
Tiba tiba gagang pintu warna kuning ke emasan itu bergerak perlahan seperti ada yang membuka dari luar. Yang Dira pikir mungkin pembantu yang bernama bik Jumi tadi.
Rupanya...!
__ADS_1
Bersambung