
''
''
sepuluh hari sudah berlalu Adam masih tidak menunjuk kan tanda tanda dia ingin bangun. Keadaan nya masih sama. Yuna dan bu diah setiap hari melihat dan mengajak nya bicara. begitu juga Dira ia memilih sembunyi sembunyi dari Yuna dan Bu Diah. Untuk bisa menjenguk Adam dan mengajak nya bicara.
Sedang raya sudah di perbolehkan pulang dan di rawat di rumah.
Hari ini Yuna baru saja menemui dokter kandungan bayi nya sangat sehat Yuna juga tidak mengalami mual dan muntah. justru Yuna tampak tidak sedang Halim kehamilan nya hanya dirinya dan Reyan yang tau tidak dengan Bu Diah. Yuna tidak memberi tau nya bahwa ia sedang hamil.
Setelah dari dokter kandungan Yuna bergegas menuju ruang rawat sang suami. Saat Yuna hendak mengenakan pakaian khusus sayun sayup terdengar seseorang sedang bicara. Yuna melihat Dira sedang menangis di samping Adam. Yuna menghela nafas nya lalu melepas baju nya dan ke luar.
''Bu Yuna tidak jadi masuk.'' tanya perawat yang menjaga Adam.
''nanti saja sus aku masih mau menemui dokter dulu.'' ralat Yuna yang sebenar nya tidak ingin bertatap muka dengan. Dira selain Yuna juga menghindar tidak ingin emosinya meledak di depan Adam.
Sedang Dira di ruangan Adam tampak menangis tersedu. Menyesali semua nya.
''Cepat lah bangun dam. Kasian Yuna sendirian merawat mu dan juga raya. Aku juga menunggu ku bangun mari kita selesaikan urusan kita. Segera ceraikan aku.'' ucap Dira Adam masih sama seperti sebelum nya masih setia menutup mata nya rapat.
''Aku juga minta maaf dam aku tidak bisa menjaga bayi ku. kondisiku kecapean di tambah lagi bayinya sangat lemah. Aku tidak bisa menyelamat kan nya.'' ucap Dira lagi berharap Adam membuka mata nya dan sadar.
''Bangun lah dam kasian anak anak mu. mereka menunggu mu bangun setiap hari.'' lanjut Dira memberi semangat Adam.
Setelah dirasa cukup lama Dira berada di ruangan Adam Dira segera pergi takut jika Yuna atau Bu Diah datang menjenguk Adam.
''Aku pergi dulu dam besok aku kesini lagi.'' pamit Dira kemudian segera pergi
Setelah beberapa lama Yuna duduk di tangga darurat menunggu Dira ke luar dari ruangan Adam kini giliran Yuna yang masuk.
__ADS_1
''Apa kabar hari ini mas. Kapan mas Adam mau bangun sedang putri kesayangan mu semangat nya untuk sembuh sangat tinggi hari ini raya sudah belajar berjalan meski masih sakit tapi putri mu itu tidak menyerah. luka luka di kulit nya juga sudah kering dan mulai mengelupas. Sedang mas Adam kapan mau bangun.''
ucap Yuna menceritakan perkembangan raya pasca pulang dari rumah sakit. Meski Adam tampak sedang tidur dokter bilang Adam bisa mendengar orang bicara.
''Mas mungkin hari ini hari terakhir aku datang. Maaf aku tidak bisa menemani mu Sampai kamu bangun karna aku sudah menunggu mu kamu tidak mau bangun.'' ucap Yuna pelan tangan nya terulur menyentuh tangan suami nya.
Bak aliran listrik yang Yuna berikan melalui tangan nya tangan Adam seakan merespon genggaman tanga istri nya.
''Aku Reyan dan raya mau pergi. Aku butuh ketenangan mas. aku sudah memikir kan nya baik baik karna bukan hanya aku yang terluka Reyan juga. Bahkan mungkin raya juga kalau dia tau pipi nya punya wanita lain selain ibu nya.''
Yuna menangis dalam tunduk nya kepala nya ia sandarkan di lengan Adam. Tanpa tau bola mata Adam bergerak tangan nya juga mulai merespon
''Kamu tau mas sampai detik ini aku masih sangat mencintai mu meski mas Adam sudah sangat melukai perasaan ku. Apa lagi saat aku melihat wanita mu yang lain datang ke sini setiap hari Hati ku semakin terluka.''
Dapat Adam dengar ucapan sang istri rasa nya Adam ingin segera bangun tapi matanya masih sangat berat untuk di buka.
''Karna itu aku ingin pergi saja. Maaf aku membawa juga yang di sini usianya sudah lima Minggu dia sangat sehat. dahulu aku sangat senang dan bahagia saat hamil Reyan dan raya. Berharap mas Adam bisa mencintai ku saat aku hamil anak anak mu.''
''Aku selalu berdoa untuk kesehatan mu mas. Semoga mas Adam cepat bangun dan perpisahan kita ini semoga bisa merubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.''
''maaf kalau aku belum bisa menjadi istri yang baik dan sempurna untuk mas adam. Maaf jika selama pernikahan kita aku banyak sekali kekurangan nya aku hanya wanita bodoh yang mengejar cinta suami ku aku juga tidak tau suami ku mungkin tidak pernah mencintai ku.''
lelehan air mata Yuna tidak berhenti turun hingga membasahi lengan Adam hatinya terasa sangat sakit ketika mengucap kan kata berpisah
''Selamat tinggal mas aku sudah menyiap kan semua nya aku letak kan di laci meja rias surat perceraian kita, mas Adam tinggal menandatangani nya nanti saat mas Adam bangun.'' lanjut Yuna bibir nya bergetar saat mengucap kan kata perceraian
''Boleh kah aku berharap mas Adam tidak menandatangani surat itu. aku berharap Adam secuil rasa di sini.'' Yuna meraba dada sang suami yang masih tertempel alat medis. ''berharap mas Adam menjemput ku dan anak anak pulang nanti jika saat itu ada kita bisa memulai kehidupan baru. Aku akan menunggu mas.''
tanpa menoleh Yuna melenggang pergi meninggal kan Adam tanpa Yuna sadari tangan Adam bergerak seakan ingin mencegah istri nya pergi.
__ADS_1
Yuna sudah menyiap kan semua nya dia hanya akan menjemput Reyan dari sekolah sedang raya sudah selesai dengan terapi nya.
''Dok maaf aku lama pergi nya terapi nya sudah selesai ya.'' ucap Yuna saat memasuki ruangan dokter yang membantu terapi raya.
''Kami baru saja selesai Bu Yuna.'' ucap nya ramah
''Bagai mana perkembangan nya dok.'' tanya Yuna penasaran
''Perkembangan nya sangat bagus. terus lah berlatih berjalan meski pelan karna itu akan membantu merangsang otot kaki nya kembali.'' terang dokter
''Terimakasih ya dok.''
Setelah selesai dengan terapi raya Yuna bergegas menuju sekolah Reyan. Ternyata ada bik Jumi di sana
''Bik jumi ngapain di sini.'' tanya Yuna penasaran apa jangan jangan bik Jumi tau Yuna akan pergi.
''Maaf ya Bu Yuna. Bik Jumi ikut Bu Yuna pergi saja.'' ucap bik Jumi sedikit ragu takut Yuna menolak nya
''Dari mana bik Jumi tau aku mau pergi.'' tanya Yuna lagi
''Subuh tadi bibik melihat Bu Yuna memasuk kan koper kedalam bagasi mobil karna itu bibik tau Bu Yuna ingin pergi dan maaf bibik tidak sengaja melihat ada surat di laci meja rias tadi saat bibik membereskan kamar Bu Yuna.'' terang bik Jumi
''Bagai mana dengan ibu bik.'' tanya Yuna sebenar nya tidak tega meninggal kan ibu mertuanya tanpa pamit
''ibu tidak tau. Lagian di rumah masih ada minten sama bik Sri.'' lanjut bik Jumi
''Bibik yakin ingin ikut Yuna.'' tanya Yuna lagi
''Yakin Sekali.''
__ADS_1
Yuna setuju bik Jumi ikut serta dengan nya hari ini juga Yuna pergi tanpa Yuna tau sejak Yuna meningal kan rumah sakit Adam juga sadar dari koma nya
Betsambung