
''
''
Yuna menatap sayu putri nya yang sedang terlelap. Air matanya kembali menetes setiap kali menatap raya hatinya terasa perih bak di sayat benda tajam yang mengiris iris hati nya. Tidak habis pikir kenapa harus orang yang yang telah memberinya luka dia juga yang menyelamat kan putrinya.
''Bu Yuna selamat pagi.'' sapa ramah dua perawat yang sedang memasuki ruang rawat raya.
''Pagi sus.'' jawab Yuna seraya menghapus sisa air mata nya.
''Ijin ya Bu. Kami akan membantu pasien membersihkan badan dan mengganti perban di luka nya. Ucap perawan itu ramah
''Silah kan.'' Yuna melihat dari sofa dua perawat itu membantu raya membersih kan badan dan juga merawat luka nya
''Suster apa masih lama.'' tanya Yuna
''kami belum selesai Bu Yuna. Memang nya ada apa.'' tanya salah satu perawat itu
''Kalau boleh Saya titip anak saya sebentar. Saya akan melihat keadaan suami saya.'' tutur Yuna pelan.
''Oh iya silahkan Bu Yuna tidak usah kuatir.''
Yuna keluar dari ruang rawat putri nya berjalan menuju ruangan di mana Adam di rawat.
''Mimi.'' panggil Reyan begitu melihat Mimi nya ke luar dari ruang rawat adik nya.
''Mimi. panggil Reyan lagi seakan tidak mendengar panggilan sang anak. Yuna melenggang pergi yakin pikiran dan jiwa yuna tak lagi berada di tempat nya.
''Nena Reyan susul Mimi dulu ya. Nena Langsung saja masuk ke ruangan adik.'' setelah berkata Reyan bergegas menyusul Mimi nya yang sudah sedikit menjauh dari nya.
Yuna masuk ke ruang rawat Adam setelah mengenakan baju khusus. Tanpa disadari nya Reyan berada tepat di belakang nya yang juga mengenakan baju yang sama.
Yuna menatap tubuh sang suami yang terbaring koma dengan peralatan medis yang menempel di tubuh nya. Bibir nya terkatup rapat tidak tau harus berkata apa.
Sedang Reyan saat ingin membuka mulut untuk bicara telinganya mendengar Isak tangis Mimi nya.
''Kenapa rasa nya sangat sakit mas, Sakit teramat sakit lebih sakit saat aku mengetahui berita perselingkuhan mu. Yang ini jauh lebih sakit mas.''
Yuna mendekati ranjang Adam lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan pandangan nya tajam menatap wajah pucat sang suami.
''Mas Adam sudah berhasil membuat ku tampak bodoh di hadapan selingkuhan mu itu. Mereka sudah berhasil menginjak injak harga diriku kamu tau itu mas.''
__ADS_1
sudut mata Adam kembali mengeluar kan air mata sama saat Yuna datang dengan keluh kesah mengeluarkan isi hati nya namun kali ini terdengar sangat memilukan. Sayang nya adam hanya mampu mendengar tampa bisa bangun dan menenangkan wanita nya.
''Seandai nya kamu bisa tegas waktu itu hal ini tidak akan terjadi mas. Aku harus apa sekarang,'' tangis Yuna terdengar begitu memilukan di telinga Reyan untuk kesekian kali nya, tidak tanah lagi mendengar tangis ibu nya Reyan perlahan mundur beberapa langkah
Yuna terus menangis tersedu di samping tubuh Adam yang koma.
''Apa aku bisa bertahan dengan keadaan seperti ini mas. bangun lah dan katakan pada ku apa yang harus aku lakukan.''
Mendengar ucapan ibu nya, hati Reyan juga sakit kenapa ibu nya harus merasakan nya, sama seperti ibu dari teman nya.
perlahan Yuna bangun dari duduk nya dan pergi meninggal kan Adam yang masih setia memejamkan matanya. Meninggal kan kesedihan yang tidak bisa di gambar kan di hati Adam.
''Apa yang kamu lakukan.'' teriak Yuna kemudian menarik Reyan di belakang punggung nya.
''Apa lagi yang kamu ingin kan dari putra ku setelah putri ku sekarang apa kamu juga ingin mengotori pikiran putra ku.'' ucap Yuna sarkas
''Bukan seperti itu Yun. Kebetulan aku melihat Reyan disini.'' ucap Dira membela diri.
''Reyan kamu tidak apa apa kan.'' tanya Yuna memindai seluruh tubuh putra nya
''Reyan tidak apa apa mi.'' ucap nya pelan
''Tunggu.'' Reyan menghentikan langkah kaki Yuna.
''Tante maaf. Seperti nya Tante bukan teman Mimi ku. Teman dan sahabat Mimi Ku hanya Untie sea.'' ucap Reyan kemudian melangkah bersama Yuna meninggal kan Dira di depan di mana Adam di rawat.
''memang nya apa yang orang itu katakan pada mu kak.'' tanya Yuna penasaran.
''orang itu mengatakan dia teman dan sahabat Mimi dan Untie sea.'' jawab Reyan.
''Apa lagi yang dia katakan.'' tanya Yuna lagi.
''Dia bilang Reyan bisa memanggil nya Tante Dira. Dan kalau ada apa apa jangan sungkan untuk meminta bantuan nya.'' terang Reyan.
''Sudah Mimi duga. Pasti dia ada tujuan nya.'' gumam Yuna namun masih bisa di dengar oleh Reyan
''Apa orang itu yang menjadi selingkuhan pipi.'' tanya Reyan seakan dia mengerti dengan semua masalah yang ada. Yuna diam tidak menjawab wajah nya tampak sendu menatap wajah putra nya.
''Orang itu juga yang mendonorkan darah nya untuk raya.'' tanya Reyan lagi. Yuna masih diam tidak menjawab
''Mi..! Mimi tau kan Reyan ada di sini untuk Mimi.'' lirih Reyan memberi kekuatan untuk Mimi nya.
__ADS_1
''Reyan tau..! Mimi sekarang di posisi sangat sulit. dia orang yang telah menghancur kan hubungan Mimi dan pipi dia juga.'' ucap Yuna
''Lepas kan saja mi Reyan tidak mau Mimi bertahan dengan rasa sakit ini.''
''Reyan.--''
''Jika pipi sayang dengan kita pipi akan memilih kita.'' lanjut reyan
''Reyan yakin.'' tanya Yuna lirih.
''Yakin mi..! Kita bisa hidup bertiga dengan adik dan juga ini.'' Reyan mengusap perut Yuna yang masih rata. Kemarin Reyan juga melihat dan mendengar saat dokter menjelaskan pada Yuna
(flesback)
''Bu Yuna silahkan duduk.'' ucap dokter ramah
''Saya ingin menjelaskan sesuatu. ini tentang hasil tes darah Bu Yuna.'' lanjut dokter
''Memang nya ada apa dok apa ada yang serius. Dokter tadi hanya mengatakan darah saya tidak cocok dengan putri saya.'' ucap Yuna
''Iya benar. Selain darah anda tidak cocok anda saat ini sedang hamil.''
''Sa saya hamil dok.'' tanya Yuna tidak percaya.
''Iya benar lebih jelas nya silahkan Bu Yuna periksa ke dokter obigin.''
(flesback off)
''Berempat kalau calon adik Reyan sudah lahir nanti.'' Lanjut Reyan
''Reyan.''
Yuna memeluk putra nya erat. Seakan punya jalan keluar dari pikiran nya yang kalut ucapan putra nya mampu memberi Yuna sedikit ketenangan
''Bagai mana dengan pipi..! Pipi masih belum sadar kan diri.'' ucap Yuna seakan meminta pendapat putra nya lagi.
''Pipi ada nena dan istri pipi yang lain biarkan pipi disini. Kita berdoa supaya pipi cepat bangun dan segera sadar. Reyan yakin pipi sayang sama kita dan pasti akan mencari kita.'' jelas Reyan
''Mimi mengerti. ijinkan Mimi memikirkan dulu. Mimi tidak mau mengambil keputusan dengan terburu buru. Walau bagai mana pun pipi masih sakit adik juga belum Pulih sepenuh nya.''
Bukan menolak saran sang putra masih banyak yang Yuna pertimbangkan. Ucapan Reyan ada benar nya ini bisa menjadi pelajaran untuk Adam saat dia sadar nanti. Biarkan Adam meresapi kesalahan nya
__ADS_1