
''
''
Yuna memaksa ibu nya Dira untuk menunjuk kan di mana Dira berada. Dengan berat hati Bu asih membawa Yuna menuju ruangan di mana Dira di rawat. Dengan tatapan nyalang Yuna tidak berkedip melihat Dira yang terbaring lemah di atas ranjang pesakitan.
''yun kamu datang.'' Dira tampak senang sahabat nya itu datang ke ruang rawat nya
''Katakan apa maksud dan tujuan mu.'' tanya Yuna sarkas
''Maksud nya apa Yun.'' tanya Dira tidak mengerti
''Jangan pura pura tidak mengerti. Aku tau wanita seperti mu tidak akan pernah berhenti sebelum tujuan mu berhasil.''
senyum yang tadi mengembang di wajah Dira seketika sirna kala tau maksud kedatangan sang sahabat yang sedang tidak ingin berdamai dengan nya
''Sungguh aku tidak punya tujuan lain Yun.''
''Apa kamu pikir dengan menyelamat kan nyawa putri ku. Aku akan berterimakasih lalu menerima mu sebagai maduku memberimu ijin mempublish pernikahan mu dengan suami ku. Itu kan tujuan mu.''
Dira menggelengkan kepala nya tanda menolak semua ucapan yuna
''Kenapa kamu lakukan itu NADIRA..! kenapa kamu lancang sekali masuk kedalam kehidupan putri ku dengan mengotori darah putri ku dengan darah ja**ng mu itu.''
Dira tetap menggelengkan kepala nya. Air matanya mengalir dengan deras tidak pernah menyangka reaksi Yuna akan Semarah ini padahal Dira hanya berharap secuil maaf dari sahabat nya itu
''Aku minta maaf Yun. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu.
Aku ikhlas melakukan nya tanpa tujuan apa pun.''
__ADS_1
''Tidak ada tujuan apa pun dari awal kamu memaksa suami ku menikahi mu tujuan mu sudah jelas merebut suami wanita lain. Sekali pun wanita yang kau rebut suami nya itu bukan aku.''
Dira tertunduk dalam tangis nya sekalipun wanita itu bukan Yuna, sedari awal Dira tau Adam sudah beristri.
''Ampuni aku Yun.'' ucap Dira seraya turun dari ranjang pesakitan nya dan bersimpuh di hadapan Yuna.
''Tidak kah ada secuil maaf untuk ku. Aku sangat menyesal. Mengenai donor darah itu aku ikhlas Yun aku tidak bermaksud apa apa.''
''Dir sudah jangan merendah kan diri seperti ini jika tidak mendapat maaf ya sudah. Yang terpenting kamu sudah menyadari semua kesalahan mu dan ingin memperbaiki diri.''
Bu asih merengkuh tubuh Dira dan membawa nya bangun dari bersimpuh nya.
''Merendah kan diri Untuk minta maaf, Seharus nya aku melabrak mu sedari aku tau siapa selingkuhan suami ku. Menjambak mencakar bahkan aku ingin menonjok wajah mu. Supaya kamu tau wanita seperti mu tidak pantas untuk di maaf kan. Aku tidak melakukan nya meski sebenar nya kamu pantas untuk mendapat kan nya. Karna aku lebih terhormat darimu. Posisi mu hanya wanita ja**ang yang merebut suami orang.''
Ucap Yuna. sekali lagi menegas kan bahwa diri nya istri sah yang punya hak untuk tidak memberi maaf pada wanita yang sudah merebut suami nya.
Yuna sama sekali tidak bersimpati dengan keadaan Dira. Alih alih bertanya Yuna seakan ingin mencabik cabik mangsa di depan nya.
''Tante kenapa Tante tidak menasehati putri Tante ini saat akan menikah dengan suami orang. Oh aku lupa bukankah Tante dulu pernah melakukan hal yang sama. bagai mana reaksi Adam nanti saat tau ibu mertua nya ini orang yang pernah menggoda ayah nya dulu.''
Bu asih benar benar tidak bisa berkata lagi saat Yuna mengungkit masa lalu nya. sebelum menikah dengan ayah nya Dira Bu asih pernah menjadi duri dalam rumah tangga wanita lain.
''Kami memang bersalah Yun. dan kami sudah menyesali perbuatan kami demi tuhan. Tante tidak pernah mengajar kan Dira untuk merebut suami orang Tante juga sudah berulang kali menasehati nya. Mungkin ini sudah suratan takdir Yuna. Kalian hidup saling berbagi suami.'' tutur Bu asih pelan
''Takdir Tante bilang. Semua bisa di cegah saat anak Tante ini bisa berfikir dengan waras tapi sayang nya tidak. Sekali lagi aku tegas kan kalian tidak akan bisa menginjak injak harga diri ku lagi.
Setelah berkata Yuna keluar dari ruang rawat Dira tanpa pamit. Hilang sudah rasa hormat dan respek Yuna terhadap dira dan ibu nya. Bagi Yuna ibu Dira juga ambil peran dalam hal ini bisa saja seorang ibu dengan tegas menasehati putri nya agar tidak menikah dengan pria beristri.
Yuna berhenti di tangga darurat. Menangis tersedu sedu tangis yang sedari tadi ia tahan agar tak jatuh di hadapan Dira dan ibu nya. Yuna tidak ingin terlihat lemah di depan rival nya Perasaan nya begitu hancur. Mengetahui fakta siapa yang telah mendonor kan darah untuk putri nya.
__ADS_1
''Seandai nya kamu bukan wanita yang merebut suami ku. Aku akan sangat berterima kasih pada mu Dira. Sayang nya juga kamu melakukan hal itu dengan tujuan lain.'' lirih Yuna dalam tangis nya.
Puas menangis di tangga darurat Yuna kembali ke ruangan putri nya. Bu Diah dan sea tampak bingung melihat Yuna datang dengan mata sembab.
''Yun ada apa.'' tanya sea penasaran
''Kamu tidak apa apa kan Yun.'' tanya Bu Diah juga penasaran.
''Yuna tidak apa apa Bu.'' lirih Yuna
''Jadi kamu sudah tau siapa yang mendonor kan darah nya untuk Raya.'' Yuna menggeleng terpaksa berbohong
''Ibu Yuna sudah menghubungi supir restoran. Sebentar lagi datang. Ibu pulang lah dulu sama Reyan istirahat lah Bu.'' ucap Yuna
''Apa kamu tidak apa apa ibu tinggal sendiri.'' Yuna kembali menggeleng
''Yuna tidak apa apa Bu masih ada sea di sini.'' lanjut Yuna
''Ya sudah nanti ibu bawakan baju ganti untuk mu besok ibu akan datang lagi.'' ucap Bu Diah Yuna hanya mengangguk tidak menjawab
setelah Bu Diah dan Reyan pergi sea tidak bisa menahan diri nya lagi untuk tidak bertanya pada Yuna kenapa Yuna datang dengan mata sembab.
''Ada yang ingin kamu ceritakan yun.'' tanya sea penasaran. alih alih menjawab Yuna langsung menangis sea menghampiri sahabat nya dan mengusap lembut bahu sang sahabat.
''Menangis lah jika itu bisa membuat mu lega.'' sea menunggu sampai Yuna tenang kembali dan sudah bisa bercerita.
''Orang itu Dira se. Orang yang mendonorkan darah nya untuk raya.'' mendengar ucapan Yuna sea memejamkan matanya mencoba mengerti dan dan menyelami perasaan Yuna saat ini.
Hancur pasti nya orang yang telah menorehkan luka di hati nya, orang itu juga yang menjadi malaikat penyelamat untuk putri nya.
__ADS_1
''Gengss pingin nya dobel up. Apa daya hari ini ada kegiatan bagi bagi takjil ikut author berpartisipasi tidak enak kan sama tetangga yang lain
Bersambung