Sahabat Ku Madu Ku

Sahabat Ku Madu Ku
permintaan Bu diah


__ADS_3

''


''


Adam hanya diam mendengar dan menerima omelan. Yang ibu nya lontar kan. tiada yang lebih menyakit kan bagi Adam selain melihat ibu dan istri nya menangis. Bak di sayat benda tajam pilu Adam merasakan nya. Pria kekar itu diam diam juga meneteskan air mata nya. semua terdiam tanpa ada ya g bicara hingga sebuah suara menyadar kan ketiga nya


''Pipi.'' suara panggilan raya mampu membuat Adam kembali ke alam nyata perlahan menyeka sudut matanya yang berair.


''Ya sayang. raya sudah pulang.'' tanya Adam buru buru memberi gadis kecil itu pelukan dan Kecupan di pipi nya tidak di pungkiri Adam sangat merindukan gadis kecil nya itu.


''Dimana kakak.'' tanya Adam bukan hanya raya yang ia rindukan tapi juga Reyan.


''Kakak di sini pih.'' jawab Reyan yang baru masuk karna masih menurunkan beberapa barang nya dari mobil sea.


''Untie sea mana kak.'' tanya Yuna yang tidak melihat sahabat nya itu masuk kedalam rumah nya.


''Untie sea tidak turun mi. kata nya buru buru mau ke


Bandara jemput ungkle Nathan.'' terang Reyan


''Reyan mau naik dulu ke atas mau natih ini.'' pamit Reyan seraya menunjuk kan tas ransel nya. sedang raya masih bersama Adam gadis kecil itu memang dekat sekali dengan pipi nya.


''Ingat mas kalau kamu tidak menyudahi semua nya aku pastikan kamu akan kehilangan momen seperti ini dengan anak anak.'' bisik Yuna pada Adam.


'' ku pastikan tidak akan.'' jawab Adam.


''Kita lihat saja nanti.''

__ADS_1


Bu Diah diam melamun di dalam kamar nya. Apa yang harus di lakukan dengan kehamilan Dira. Rasa nya Bu Diah tidak bisa menerima anak Dira sebagai cucu nya.


''Aku harus segera menemui nya. Wanita itu demi kebahagiaan Yuna cucu cucu ku.'' batin Bu Diah dalam lamunan nya.


''Sekarang saja aku akan pergi. Mumpung Adam dan Yuna di rumah.'' batin bu Diah lagi.


Tak berapa lama Bu diah sudah siap hendak menemui dira di rumah sakit.


''Ibu mau pergi.'' tanya bik Jumi menghentikan langkah kaki Bu Diah.


''ah iya.! Jumi aku keluar sebentar ada urusan sedikit.'' ralat Bu Diah tidak mungkin Bu Diah mengatakan yang sesungguh nya ingin menemui Dira di rumah sakit.


''oh iya tidak apa apa. hanya untuk nanti kalau Bu Yuna atau pak Adam tanya biar bibik tau kemana ibu pergi.'' jawab bik Jumi


''Bilang saja ibu menemui teman ibu yang biasa nya.'' ucap Bu Diah lagi.


''Mau ke mana Bu.'' Mendapat pertanyaan dari supir taksi Bu Diah tidak tau harus menjawab apa. Bu Diah sendiri tidak tau Dira di rawat di rumah sakit mana.


''Tujuan nya mau ke mana Bu.'' tanya supir taksi itu lagi.


''Sebentar pak.'' jawab Bu Diah masih berfikir mau ke mana


''Apa mereka masih tinggal di tempat dulu ya. Kalau iya pasti Dira di larikan di rumah sakit tidak jauh dari tempat tinggal mereka.'' batin Bu Diah mencoba menerka nerka


''Rumah sakit bina sehat pak.'' ucap Bu Diah Ahir nya memilih rumah sakit yang di rasa sangat dekat dengan tempat tinggal Dira dan ibu nya. Filing nya tidak mungkin membawa Dira di rumah sakit lebih jauh dari rumah nya.


Tiga puluh menit kemudian taksi yang di tumpangi Bu Diah sudah sampai di rumah sakit tujuan yaitu rumah sakit bina sehat.

__ADS_1


''Terima kasih ya pak.'' ucap Bu Diah setelah membayar ongkos taksi nya kemudian bergegas masuk kedalam rumah sakit. Dan menuju meja resepsionis menanyakan tempat Dira di rawat. Bu Diah bernafas lega rupanya filing nya benar tidak salah rumah sakit. Dira memang di rawat di rumah sakit ini.


Dira dan ibu nya sedang asik berbincang ringan tiba tiba mendapati pintu di buka dari luar alangkah kaget nya Bu asih melihat Bu Diah ada di hadapan nya.


''Ada apa kaget ya.'' ucap Bu Diah sinis. ''Apa kabar kamu asih lama ya kita tidak bertemu kamu masih ingat kah dengan ku. Tiga puluh tahun yang lalu tepat nya. Kamu pernah merusak kebahagian ku. Aku hanya sekedar mengingat kan jika kamu lupa pada ku.'' ucapan Bu Diah mampu membuat Dira dan ibu nya tertunduk tidak bisa bicara apa apa.


''Tante.'' lirih dira


''Kalian sebenar nya mau apa. Uang aku akan berikan berapa pun yang kalian ingin kan asal jauhi Adam dan tinggal kan dia.'' ucap bu diah tanpa ingin mendengar Dira ingin bicara apa


''Dira apa yang kamu lakukan sekarang, apa kamu meneruskan perjuangan ibu mu dulu mendapatkan sesuatu yang belum ibu mu dapat kan.'' ucap Bu Diah lagi


''Tidak tante. Bukan seperti itu aku memang bersalah karna sudah meminta Adam untuk menikahi ku. Aku minta maaf sebesar besar nya Tante semua ku lakukan karna memang aku mencintai Adam bukan karna uang nya.'' ucap Dira membela diri.


''cepat katakan berapa yang kalian mau. setelah itu tinggal kan putra ku.'' ucap Bu Diah lagi.


''Tidak tante aku tidak membutuh kan uang Tante. Aku memang sudah berniat untuk pisah dengan Adam. Tanpa Tante meminta seperti ini apa lagi memberi ku uang.'' ucap Dira lagi.


Sedang Bu asih hanya diam dalam tunduk nya terlalu malu untuk membela diri. berhadapan dengan ibu nya Adam saja Bu asih sudah kehilangan muka apa lagi untuk membela diri rasa nya sudah tidak mungkin


''Kenapa kamu hanya diam asih. Apa kamu tidak menasehati putri mu untuk tidak melakukan hal yang sama yang pernah kamu lakukan pada ku mencintai suami orang dan merusak rumah tangga nya.''


Lagi lagi Bu asih hanya diam dalam tunduk nya jangan kan untuk menjawab menatap wajah Bu Diah saja rasanya tidak sanggup.


''Dira mohon Tante maaf kan Dira dan ibu Dira.'' ucap Dira tampak memohon. ''Dira janji Dira akan segera meninggal kan Adam dan tidak akan menggangu nya lagi.'' lirih dira tertunduk menahan tangis nya.


''Memang harus seperti itu Dira. tinggal kan Adam dan jangan menggangu nya lagi. Masalah anak mu aku akan menanggung semua nya. aku akan bertanggung jawab untuk biaya hidup nya.'' tegas Bu Diah sadar ada anak di antara Dira dan Adam tidak ingin lepas tanggung jawab begitu saja Bu Diah masih menawarkan biaya untuk anak nya Dira, walau bagaimana pun anak dalam kandungan Dira adalah darah daging nya juga

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2