Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 11


__ADS_3

"Hey gadis bodoh,,,, gadis miskin. Bisa-bisanya kamu kuliah di sini..... Mengganggu pemandangan saja" ucap seorang mahasiswi dengan setelan rok pendek dan kaos yang ketat, beberapa wanita nampak mengekorinya dari belakang.


Alexa hanya terdiam sambil menatap lantai keramik di bawah kakinya. Ia enggan untuk ribut dengan mahasiswa di sana, Alexa tau jika berurusan dengan salah satu di antara mereka bisa saja mengakhiri karir kuliahnya yang sudah sepenuh hati ia perjuangkan.


"Hei...... Kenapa kamu hanya diam" ucap wanita berpakaian pendek itu, lalu dengan kasar ia dorong tubuh Alexa sampai terjatuh ke lantai.


Meski Alexa di lecehkan seperti itu tapi ia tetap diam dan tak berani berkata apapun, terlebih lagi dia masih anak baru di universitas ternama tempat ia menempuh pendidikannya.


Kakak kelas di hadapan Alexa seketika pergi setelah mendorong Alexa dan mengumpat beberapa kali. Alexa merasa sangat lega, ia pungut buku cetak yang sempat terjatuh dari tangannya. Ada jejak sepatu yang terpampang di bagian sampul buku itu, kakak kelas itu memang sempat menginjak buku Alexa sebelum ia pergi.


Di usapnya buku yang belum sempat ia baca itu sambil menitikkan air mata. Alexa merasa kecewa dengan hidupnya yang jauh dari kata sempurna. Menjadi anak dari keluarga yang hidupnya serba kekurangan memberikan tekanan tersendiri untuk Alexa.


Dari jauh Ghea terus memperhatikan Alexa yang satu angkatan dengannya, ia merasa iba melihat Alexa yang berkali-kali di tindas oleh para kakak kelas karena status sosialnya di bawah rata-rata para mahasiswa di sana.


Ghea buru-buru menghampiri Alexa yang sedang termenung sendiri di meja kantin sambil memakan semangkuk baso.


"Hay..... Kenalin..... Aku Ghea dari jurusan Management Bisnis" Sapa Ghea sambil mengulurkan telapak tangannya ke arah Alexa.


Sejenak Alexa hanya terdiam sambil memandang Ghea dengan cukup intens. Sebenarnya Ghea merasa sedikit risih dengan pandangan itu, tapi ia berusaha untuk berfikir positif, terlebih lagi Alexa akhirnya tersenyum dan membalas jabatan tangannya.


"Aku Alexa dari management bisnis juga....." Jawab Alexa sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Waahhh kita satu jurusan yah" Ghea begitu antusias, meski sebenarnya dia sudah tau jika Alexa satu kelas dengannya.


"Iya kau benar..... Tapi aku tak terlalu melihatmu" ujar Alexa yang memang tak tau tentang Ghea.


"Bagaimana kamu bisa tau aku jika kamu selalu menundukkan pandanganmu" ujar Ghea membatin.


"Eee..... Mungkin karena kita baru beberapa minggu kuliah" Sanggah Ghea.


"Boleh aku duduk disini?" Tanya Ghea menunjuk bangku kosong di depan Alexa.

__ADS_1


"Duduklah!!!" Balas Alexa sambil menyendok bakso miliknya.


Ghea segera mendudukkan dirinya di kursi sambil meletakkan es cappuccino di atas meja.


"Kamu tidak makan?" Tanya Alexa saat melihat Ghea hanya membawa segelas minuman dingin.


Ghea hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Nih makan bareng aku!!!" Alexa memberikan sebuah sendok kepada Ghea.


"Nggak usah..... Aku sudah makan kok" Jawab Ghea sambil menggoyangkan telapak tangannya.


"Serius???" Alexa mengangkat kedua alisnya. Ghea mangangguk mantap.


"Tapi melihat dari caranya berpakaian sangat tidak mungkin jika dia selevel denganku" Batin Alexa sambil menatap setiap aksesoris dan juga tas yang Ghea kenakan.


"Kenapa kamu bisa kuliah di sini?" Tanya Alexa penasaran.


Alexa menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil tersenyum. Alexa berfikir jika ia berteman dengan Ghea, ia bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan nilai bagus di mapel kuliahnya.


Itulah awal pertemuan Alexa dan Ghea yang akhirnya menyulut api permusuhan di antara mereka.


......................


GLEK


Suara dari pintu kayu dengan fernis coklat terasa begitu melegakan Ghea yang sudah menunggu momen ini.


Sudah hampir 3 hari Ghea berusaha berbagai cara agar bisa masuk ke dalam kamar yang selalu terkunci itu. Dan berkat bantuan orang-orang kepercayaannya ia berhasil membuka kamar yang selalu membuatnya penasaran.


Dengan sedikit ragu Ghea melangkah memasuki kamar di hadapannya. Ada sebuah ranjang besar dengan seprai berwarna dark coklat, beberapa foto terpajang tepat di atas ranjang, juga beberapa piagam penghargaan yang terpampang di salah satu sisi dinding kamar.

__ADS_1


Mata Ghea langsung membulat ketika melihat foto dirinya terpajang di bingkai berwarna biru muda tepat di meja nakas. Dengan antusias Ghea menghampiri bingkai itu dan tanpa ragu mengambilnya.


Ghea tersenyum tipis saat melihat foto itu. Potret dirinya saat masih menempuh pendidikan di jakarta. Muka yang masih polos dengan semua tingkah konyolnya.


"Kenapa Faruq masih menyimpan foto ini? Bahkan setelah menikah dengan Alexa" Ghea merasa ada yang janggal dengan hal itu.


Ghea melihat sekeliling, membuka satu persatu lemari disana. Ia tatap lekat-lekat setiap baju milik Faruq yang tersimpan di sana. Ada kecemburuan yang tidak bisa Ghea sembunyikan.


"Seandainya kamu menjadi milikku Fa....." Gumam Ghea sambil memeluk salah satu kemeja putih yang tergantung di sana. Tanpa ragu Gheapun mendaratkan sebuah kecupan manis pada kemeja putih itu, meninggalkan sebuah noda coklat yang samar. Gheapun tak menyadarinya.


Begitu dalam cinta Ghea kepada lelaki yang sudah lebih dari 4 tahun resmi menjadi pacarnya, namun hubungan mereka sekarang sudah berbeda.


Ghea melihat sebuah foto dengan bingkai hitam motif garis di atas meja kerja, nampak foto Faruq yang terlihat sangat tampan dengan setelan jaz warna navi, dengan sigap Ghea meraih bingkai itu lalu menenggelamkan pada pelukannya yang cukup erat.


Entah sudah berapa lama ia merindukan wajah yang dulu sering sekali ia lihat, kini ia hanya bisa menatap foto itu saja, sedangkan raga Faruq telah dimiliki oleh yang lain.


Tak terasa air matanya mulai meleleh, mengalir melewati cembung pipi Ghea yang memerah. Ia membenci lelaki itu, tapi ia juga merindukannya.


Ghea mendudukkan dirinya di kursi kerja milik Faruq, membuka benda hitam yang setengah terbuka disana. Mencoba untuk menyelidiki hal yang terlihat janggal. Namun sedetik kemudian Ghea menghela nafas, laptop itu menggunakan pasword.


Ghea mencari sesuatu dalam saku celananya, ia mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Mencari sebuah nama dalam daftar kontaknya.


"Hallo..... Aku membutuhkan bantuanmu" ucap Ghea setelah mendengar orang di seberang sana mengangkat telfonnya.


"Hari ini nggak bisa, besok bagaimana?" tanya seorang lelaki dengan suara dalam.


"Baiklah, aku mengandalkanmu" Jawab Ghea Sambil menutup panggilannya.


Sementara di sebuah rumah mewah, terlihat seorang lelaki setengah tua yang terlihat gusar sambil menatap lelaki muda di hadapannya.


"Bagaimana????" Tanya Roy dengan senyum sinis yang misterius.

__ADS_1


"Perusahaan DBN itu sudah di ambang kebangkrutan, jika kita mengembangkan dana perusahaan kesana, sama saja kita membuang uang. Aku yakin perusahaan itu takan mudah bangkit untuk beberapa tahun kedepan" Jawab Direktur Mark mencoba menjelaskan alasannya menolak untuk menandatangani berkas yang diberikan Roy.


__ADS_2