Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 73


__ADS_3

Kaca pecah, pecahannya terhambur dimana mana. Nafas Daren kian tersengal. Beberapa detik kemudian tubuh Daren tak bisa bergerak lagi. Tiga orang polisi berhasil meringkusnya dan membatasi gerakannya seketika.


"Lepaskan aku!!!" Teriak Daren berusaha melepaskan diri. Namun ia tak bisa bekutik sedikitpun.


"Kalian tau..... Ini semua perbuatan Cristine.... Ibu tiri jahat." Daren membelalakkan matanya tajam. Memberikan intimidasi pada para anggota polisi itu. Namun tak ada yang mengindahkannya sedikitpun.


"Huuu huuuu......" Suara tangis yang cukup keras itu mencuri perhatian Daren dan beberapa perwira polisi yang ada di sana. Daren berhenti berontak, mengalihkan pandangan pada seorang wanita dengan dress hitam yang berjalan dari arah luar dengan beberapa orang yang berjalan mengikutinya.


"CRISTINE......" teriak Daren segera menghambur ke arah wanita yang sedang menangis itu. Ingin sekali Daren menamparkan tangan atau sekedar memberikan tinju besar pada wajahnya yang penuh drama itu. Namun belum sempat dirinya menggapai, dua orang pengawal sudah menamengkan tubuhnya di depan Cristine.


Cristine yang terkejut dengan kedatangan Daren memundurkan dirinya beberapa langkah ke belakang guna menghindari amukan Daren.


"Daren....." Pekiknya.


"Cristine.... Iblis apa sebenarnya kau ini...." Umpat Daren menatap tajam ke arah ibu tirinya. Tubuhnya sudah mendapat kekangan lagi dari beberapa perwira yang seketika berlari ke arah Daren saat tau dia berlari ke arah Cristine.


"Apa maksudmu Cristine??" Teriak Daren keras-keras. Namun wanita itu sudah berlalu menaiki anak tangga menuju lantai dua.


"Sialan kamu Cristine....." Daren begitu emosi melihat wanita itu. Amarahnya benar-benar mendidih sekarang ini.


"CRISTINE...... IBU TIRI BIADAB KAU...." teriak Daren makin menjadi, ia masih saja berontak ketika ketiga orang yang mengekangnya menyeret paksa tubuhnya keluar dari rumah Cristine.


Lalu dengan kasar perwira polisi itu melemparkan tubuh Daren ke atas paving rumah itu, menatap tubuh Daren dengan tatapan jijik.


"Pergi dari sini tuan? Atau anda harus mengikuti adik anda yang sudah di bawa ke polres?" Ancam perwira itu sambil berlalu begitu saja meninggalkan Daren yang masih terkapar di atas paving.


"Polres???" Batin Daren seketika. Kini tujuan utamanya adalah Ghea, adik satu-satunya.

__ADS_1


Daren bangkit segera, mengibaskan baju dari debu yang memberi sedikit noda padanya, bergegas menuju ke polres dengan mobil miliknya.


Sementara itu di dalam bui Ghea nampak bingung dengan semua tuduhan yang di berikan oleh anggota polisi. Ia tak tau harus berbuat apa untuk membebaskan diri dari tuduhan itu.


Ghea hanya bisa terdiam, terisak di pojokan bui, merasa takdir telah membalikkan keadaan dengan seenaknya. Keadaan ini telah memberikan penderitaan pada Ghea bertubi-tubi dari apa yang ia bayangkan. Seakan semuanya telah berlalu seperti semula.


Ghea fikir ia bisa memulai semuanya dari awal setelah ia menuruti permintaan Roy dan menyerahkan semua harta miliknya. Nyatanya ia harus menerima tipuan Roy begitu saja. Ghea tak pernah berfikir akan begini jadinya, semua terasa begitu cepat untuk terjadi.


"Ghea....." Panggilan Daren menyadarkan Ghea dari lamunannya. Ia segera bangkit,menghampiri pintu besi yang mengurungnya dua jam terakhir ini.


"Kak.... Bagaimana ini.... Papa.... Papa sudah....."


Air mata sudah mengalir deras di pipi Ghea, hingga ia tak kuasa melanjutkan kata-katanya.


Daren mengacungkan telunjuknya di depan bibir memberi isyarat jika ia sudah tau semuanya. Daren menggapai lengan adiknya, memeluk tubuh layu adiknya dengan berbatas pagar besi yang memisahkan keduanya.


"Tenanglah!!!! Kakak akan segera membebaskan kamu. Tunggu disini!!" ucap Daren menarik dirinya. Ghea hanya bisa menurut, mengangguk pelan mengikuti instruksi kakaknya.


Satu jam berlalu cukup lama, Ghea begitu senang ketika melihat kakaknya kembali dengan selembar kertas di tangannya. Lalu memamerkan kertas itu sembari mendekat ke arah sang adik.


Ghea tersenyum sumringah, ia tau jika kakak satu satunya itu sangat bisa ia andalkan.


Seorang polisi datang membawa kunci lalu membuka pintu pagar besi tempat Ghea di tahan. Ghea segera keluar dari sana, menyongsong kakaknya dengan pelukan penuh kerinduan.


"Bagaimana kakak bisa membebaskan aku kak???" Tanya Ghea yang memang tak tau seluk beluk tentang hukum.


"Itulah gunanya sekolah, untuk apa kakak sekolah tinggi-tinggi jika tak bisa membebaskan adik kesayangan kakak." Ledek Daren sembari berjalan bersama dalam rangkulan hangat antara kakak beradik.

__ADS_1


"Mereka tak punya bukti yang kuat untuk memenjarakan kamu. Pokoknya kakak akan melindungi kamu dengan segenap kekuatan kakak." Jawab Daren mantap sembari menghidupkan mesin mobilnya. Ghea tersenyum melihat tingkah kakaknya.


Entah mengapa ia merasa sangat terharu ketika melihat sang kakak datang ke polres untuk menyelamatkan adiknya, perjuangan yang manis.


"Ini semua perbuatan Cristine, aku sudah mencurigainya tempo hari, tapi kakak terlalu santai dan tak menganggap serius masalah itu, kakak tak menyangka jika masalah yang sengaja Cristine rencanakan adalah masalah sebesar ini." Ucap Daren yang terlihat fokus dengan kemudinya.


"Aku tak menyangka jika aku hanya sebagai seseorang yang Cristine tumbalkan untuk melancarkan aksi jahatnya." Lagi-lagi Ghea menangis, ia ingat betul bagaimana ekspresi papa saat ia temui sebelum kematiannya.


"Tega sekali nenek sihir itu membunuh papa....." Ghea tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi terus saja membanjiri pelupuk matanya yang sudah membengkak.


"Pasti kasus ini akan jadi kasus besar, Cristine sengaja mengundangmu untuk menjadikanmu kambing hitam dalam masalah ini." Jelas Daren menatap serius jalanan yang mulai ramai dengan pengendara.


"Sepertinya kamu harus pulang dulu ke rumah lama kuta, itu jalan terbaik. Aku akan mengusut kasus ini dahulu." Daren melirik adiknya sebentar.


"Lalu bagaimana dengan papa?" Ghea menyeka air matanya.


"Biar aku yang urus, sembunyikan dirimu dari publik. Jangan sampai mereka tau keberadaanmu." Pesan Daren, Ghea mengangguk menuruti kata-kata kakaknya.


"Kakak akan mengurus semuanya, kakak akan siapkan alasan tepat agar kamu tak mendapat tambahan pidana karena berusaha kabur." pesan Daren.


Ghea menghela nafas kasar, ia tak mengira jika jalan hidupnya akan serumit ini pada akhirnya.


......................


Sudah seminggu lebih sejak kejadian naas yang menewaskan papa Ghea, namun kesedihan yang di tinggalkan masih terasa begitu membekas dalam relung dada Ghea. Apalagi sekarang posisinya jauh dari sang kakak yang selalu mensuport dirinya dari segala sesuatu yang membuat hidup Ghea penuh tekanan.


Hanya Daren satu-satunya orang yang peduli kepada Ghea. Ia tak punya anggota keluarga lain sekarang. Mama dan papa telah meninggalkan Ghea ke alam berikutnya.

__ADS_1


Air mata bening masih sesekali menetes dari ujung mata Ghea yang terlihat melamun dalam diamnya, menatap rintik hujan yang pelan membasahi tanah berpaving.


__ADS_2