
Suara denting ponsel seketika membuyarkan lamunannya tentang masalah perusahaan papa. Notif email terpampang di layar ponselnya.
Ghea tercengang saat melihat email yang masuk itu, sebuah pesan dari sahabatnya, Alexa. Ghea tersenyum acuh. Ia tak menyangka jika sahabatnya itu masih berani mengiriminya email setelah mengacuhkan emailnya sekitar enam bulanan terakhir.
"Apa dia sudah mulai mencurigai keberadaanku?" Gumam Ghea sedikit khawatir tentang penyamarannya. Ghea berusaha menepis fikirannya itu dan segera membaca pesan email yang Alexa kirimkan kepadanya.
Tanpa ragu Ghea membalas email itu, sambil tersenyum getir. Ia berpura-pura tidak tau apapun tentang kehidupan Alexa. Mencoba menghancurkan musuh dari belakang, sepertinya strategi perang seperti itu terkenal efektif untuk mengalahkan lawan.
"Baiklah Alexa...... kamu yang memulai pertikaian ini, kamu harus menerima akibatnya" ucap Ghea geram.
Di tempat lain terlihat Alexa yang baru saja membersihkan diri, rambut basahnya ia biarkan terurai begitu saja. Ia lirik laptop yang masih menyala di atas meja nakas. Ada sebuah notif balasan email disana.
Dengan sedikit tergesa Alexa mendudukkan dirinya yang hanya berbalut handuk tepat di depan benda pipih bercahaya itu.
"Ghea......" Pekik Alexa sedikit kaget. Ia membaca kata demi kata yang Ghea kirimkan untuknya.
Alexa merasa gugup saat membaca kalimat Ghea. Kata demi kata yang seakan mengintimidasi dirinya. Ia benar-benar tak ingin membalas pesan itu, tapi Ghea pasti akan mencurigai sesuatu tentangnya.
"Aku harus terlihat baik di depannya, agar aku bisa terus mengawasinya" Gumam Alexa sambil memikirkan kata-kata yang pantas untuk membalas email yang Ghea kirimkan.
Dari pesan yang Alexa kirimkan, ia tau jika Ghea masih berada di Jakarta dan belum pernah kembali sejak ia kesana. Satu hal yang mengkhawatirkan fikiran Alexa telah terjawab.
"Berarti itu bukan lipstik milik Ghea. Lalu siapa wanita itu?" Kening Alexa berkerut memikirkan wanita yang mungkin menjadi simpanan Faruq.
Dengan masih memikirkan wanita itu, Alexa berjalan ke ruang tengah setelah berganti pakaian. Tiba tiba mata Alexa yang sipit menangkap sesuatu yang terlihat mencuri pandangannya.
Sebuah kertas kecil nampak tergeletak begitu saja di atas meja depan Tv.
"Kertas apa ini?" Alexa membatin sambil membuka kertas itu perlahan.
__ADS_1
Sebuah struk bill dengan nama sebuah hotel ternama tercetak jelas di sana. Ada nomor kamar, tanggal reservasi, cek out dan bahkan layanan kamar yang telah di gunakan.
Alexa tertegun namun ia berusaha untuk bersikap tenang. Ia masih mencari-cari sesuatu yang akan membuat ia menarik kesimpulan jika bill itu hanya kebetulan berada di sana.
Namun sedetik kemudian Alexa memutuskan untuk menyerah dengan pemikirannya setelah ia menemukan sebuah nama terpampang di sana. Nama yang sangat ia kenali. Faruq Abiyan.
Seketika mata Alexa memerah. Tubuhnya seakan kehilangan kekuatan dan lunglai pada sofa di belakangnya.
"Faruq......" Rintihnya pelan sambil menutupkan telapak tangannya pada mulutnya yang terus bergetar.
..........
"Apa kamu sudah mulai menjalankan rencanamu?" Tanya seorang wanita dalam balutan dress span berwarna dongker sembari mengaduk secangkir teh di atas meja.
Lelaki muda di hadapannya hanya berdecak sambil menghela nafas kasar.
Wanita paruh baya itu melepaskan kacamata hitam besar yang ia kenakan. Ditatapnya lelaki yang terlihat sangat formal dengan jaz hitam juga dasi panjang yang ia kenakan.
"Apa kamu tidak menawarkan beberapa uang untuk mereka?" Tanya bu Cristine mulai terpancing emosi.
"Sudah..... Tapi mereka tak mau menerima uang suap yang aku tawarkan" jelas Roy tanpa memandang ibunya yang begitu antusias dengan cerita Roy.
"Kalo sudah begini aku khawatir jika mereka akan melaporkan hal ini kepada papa atau Ghea" Mata sayu yang dingin itu begitu jelas membiaskan kebencian. Jarinya ia kepalkan dengan kuat, seakan ingin meremas orang-orang yang menghalangi jalan kesuksesannya.
"Kenapa tak kau singkirkan saja kuda-kuda liar itu" Ujar bu Cristine mencoba memberikan ide. Jarinya begitu asyik menari mengelilingi pinggiran cangkir di hadapannya.
"Ibu benar, aku harus menyingkirkan mereka selagi sempat" jawab Roy dengan penuh semangat sembari bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan bu Cristine yang belum sempat menikmati teh di depannya.
Wanita itu terlihat senang dengan keputusan anaknya, ia ketuk-ketuk meja dengan ketukan yang teratur sambil tersenyum licik dari sudut kiri bibirnya.
__ADS_1
Bu Cristine memang sengaja menikahi pak Morgan karena ingin mewarisi harta miliknya. Siapa juga wanita yang tidak tertarik kepada lelaki dengan kekayaan melimpah seperti pak Morgan. Terlebih lagi statusnya yang sedang menduda, tentu saja itu hal yang di inginkan semua wanita.
Pernikahan pak Morgan dan bu Cristine yang semula baik-baik saja, tiba-tiba berubah menjadi panas ketika pak Morgan mendapatkan informasi tentang keberadaan kedua anak kandungnya yang sudah ia cari selama ini.
Di tambah lagi pak Morgan bersikukuh ingin menjadikan salah satu anaknya sebagai pemimpin perusahaan untuk menggantikannya. Hal itu memicu kecemburuan bu Cristine yang memang menginginkan kekayaan pak Morgan. Ia benar-benar tidak rela jika kedua anak pak Morgan mendapatkan harta papanya, mereka juga tak hidup dengan papanya selama ini.
Bu Cristine merasa keputusan yang di ambil pak Morgan tidaklah adil. Ia yang hampir 10 tahun hidup bersama pak Morgan, seharusnya anaknyalah yang pantas menggantikan posisinya. Bukan memberikannya kepada anak yang hadir setelah orang tuanya sukses.
......................
"karyawan loundry menemukan lipstik ini di jaz milikmu" Ucap Alexa acuh sambil meletakkan lipstik berwarna nude yang ia dapatkan dari kurir loundry.
Faruq yang sedang duduk santai di depan Tv mengernyitkan dahinya, ia tatap wanita di depannya dengan tanda tanya.
Wajah Alexa yang acuh jelas saja mencerminkan kecemburuannya, Faruq sangat faham itu, tapi ia bersikap masa bodoh dengan perasaan Alexa. Dari awal memang Faruq tak pernah berniat untuk membalas cinta Alexa.
Faruq meraih benda berbentuk silinder kecil itu, mengamatinya dengan seksama. Tapi ia tak mengingat siapa pemilik lipstik nude itu.
"Aku memang bertemu beberapa clien minggu ini, tapi aku tak mengingat warna lipstik yang mereka gunakan" Jawab Faruq dengan nada pelan sembari mengingat kembali jika ada yang ia lupakan.
"Ah.... Sudahlah..... Pasti wanita itu akan beli lagi jika lipstiknya hilang, iya kan??" Jawab Faruq santai sambil menatap Alexa sekilas.
"Apa kamu juga bertemu clien di hotel Merpati minggu ini?" Tanya Alexa dengan intonasi yang tinggi, ia sungguh sudah meredam emosinya, namun urat nadi di lehernya tak bisa terkontrol lagi.
Faruq menoleh ke arah Alexa yang setengah berteriak kepadanya. Ia bingung harus berkata apa atau bagaimana sebaiknya ia berekspresi.
"Kenapa???" Tanya Faruq datar sambil kembali menatap layar datar di hadapannya.
Alexa melemparkan kertas bill yang sedari tadi sudah ada di genggamannya.
__ADS_1
"Apa ada clien yang menemuimu tengah malam? di hotel pula" ujar Alexa dengan emosi.