Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 61


__ADS_3

Sesuatu yang dingin menempel di punggung Daren yang penuh dengan peluh.


Lengan Daren terkunci di belakang punggungnya


Daren menatap garang lelaki di hadapannya yang terkapar tak berdaya.


Jeco menghampiri sang atasan dan membantu tubuhnya bangkit, darah merah menetas di sana sini dari luka yang Daren timbulkan.


Roy bangkit dengan tubuh yang terkulai lemah, dengan tumpuan tubuh Jeco, Roy berdiri dengan gontai. Keringat membasahi rambut Roy yang semula tertata rapi dengan wax yang selalu ia gunakan.


Dalam kondisi yang seperti itu, Roy masih sempat-sempatnya terkekeh. Mengangkat kepalanya ke arah Daren yang tak lagi berani bergerak sedikitpun.


Satu saja gerakan yang Daren timbulkan akan membuat security di belakangnya memencet tombol ON pada tongkat listrik di tangannya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?? Kamu bodoh kak.... Dengan cerobohnya masuk ke kandang macan." Roy terkekeh, ejekan demi ejekan terus saja terlontar dari mulutnya yang berdarah.


"Bawa dia ke kantor polisi, kita harus kasih dia pelajaran!!" Titah Roy dengan sombongnya.


Kedua security yang berada di sana segera menuruti perintah atasannya. Mereka memborgol pergelangan tangan Daren, lelaki bermata coklat itu berusaha melawan. Namun tenaganya tak cukup untuk mengimbangi kekuatan dua orang security berbadan kekar yang meringkus tubuhnya.


"Roy..... Dimana kamu sembunyikan papa....??"


Bagi Daren nasibnya tak pernah penting lagi, keselamatan papa jauh lebih penting baginya. Hanya pak Morgan satu-satunya orang tua yang masih Daren miliki.


"Cih...... Apa pedulimu dengan pak Morgan." Nada ucapan Roy begitu menjengkelkan.


Daren mendengus kesal, aliran amarah begitu deras menelusuri setiap inci tubuhnya.


"Aku peduli.... Kamu yang tak peduli padanya karena dia bukan papamu, kamu hanya menganggap dia sebagai papa karena kekayaannya saja kan?" kedua telapak tangan Daren mengepal kencang, tubuhnyapun sudah siap menerjang, namun security di sampingnya dengan gesit menghalau gerakan Daren.

__ADS_1


"Hidup itu keras, semakin tinggi jabatan dan kekayaan seseorang, maka akan semakin kencang terpaan anginnya. Mungkin tuhan sudah menakdirkan jatuhnya kekayaan keluargamu. Relakan saja." Dengus Roy begitu sombong memamerkan kemenangannya atas jabatan yang ia miliki sekarang.


"Kamu manusia tak punya hati Daren..... Aku tak akan pernah memaafkan kamu." Mata Daren menyata tajam dengan kebencian yang kian menguasainya.


BUUG......


Satu pukulan telak berhasil Daren hantamkan pada muka adik tirinya dengan keras. Lelaki dengan kemeja biru muda itu terhempas lagi ke lantai, cipratan darah tercecer di atas lantai granite yang mengkilap. Mulut dan hidung Roy mengucurkan darah segar dari luka yang baru saja Daren timbulkan akibat tinju yang ia lemparkan.


Sedetik kemudian, tubuh Daren bergetar hebat, sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuhnya, melemahkan syaraf dan ototnya seketika. Tubuh Daren ambruk ke lantai, matanya melotot tajam menahan aliran listrik yang memporak porandakan kekuatannya. Tubuh Daren di seret bak hewan buruan. Keluar dari kantor AZK layaknya seorang penjahat.


Dalam sekejap saja gosip miring tentang keserakahan Daren dan Ghea menyebar di antara karyawan. Seolah merekalah yang bersalah dalam kasus perebutan kursi kepemimpinan AZK Corp.


Tentu saja para karyawan membela Roy, karena memang mereka lebih lama mengenal Roy sebagai anak pak Morgan ketimbang Daren dan Ghea meski mereka anak kandung pak Morgan.


"Ternyata jahat banget ya si Ghea, tega banget merebut kekuasaan yang tidak seharusnya ia dapatkan." Desus seorang karyawati kepada karyawati lainnya.


Tatapan mereka sungguh mengintimidasi Daren yang berjalan lunglai dengan di seret kasar oleh dua orang security berbadan besar.


Roy berjalan sedikit jauh dari Daren dengan di dampingi Jeco dan satu karyawan lain.


Di dalam mobil Jeco yang menyetir mengikuti Daren berkali-kali menengok atasannya lewat sepion tengah.


"Apa anda tidak apa-apa tuan?" Tanyanya sembari sesekali memperhatikan jalanan bergantian. Daren sibuk menyeka noda darah dengan tisu basah.


"Gak papa..... Ini cuma luka kecil. Harus ada pengorbanan untuk mendapatkan hewan buruan." Jawab Daren masih menyeka memar di pelipis dan pipinya.


"Apa memang sebaiknya begini? kita bisa menghabisinya di suatu tempat tuan." Jeco mencoba memberikan ide lain yang lebih cemerlang.


"Jangan..... Aku menginginkan lebih dari pada itu." Roy tersenyum samar.

__ADS_1


"Drama apa yang akan kau mainkan ini tuan? Sepertinya menarik." Puji Jeco menanggapi rencana licik yang sudah Roy rencanakan.


"Kita lihat saja nanti, bagaimana aku menghancurkan kedua orang itu." Roy tersenyum licik menatap cup mobil hitam di depannya.


Sementara itu Ghea yang mendengar kabar tentang kakaknya, segera mengesampingkan rencana awalnya, bergegas pergi ke kantor polisi dan menghampiri kakaknya disana.


Saat sampai Ghea di kejutkan dengan hadirnya banyak reporter dan juga beberapa awak media yang telah hadir di halaman kantor kepolisian.


Bahkan Ghea harus kewalahan memasuki kantor karena serbuan para awak media yang mewawancarainya secara sepihak. Untung saja ia bisa masuk ke sana dengan bantuan para polisi meski dengan usaha yang berat.


Roy memang sudah merencanakan ini, ia ingin agar awak media menyebar luaskan berita tentang perebutan kekuasaan itu, memberikan berita palsu agar semua orang berfikir Ghea dan Daren lah yang bersalah dalam kasus ini.


Ia sedang mencari muka pada masyarakat banyak agar mereka mendukungnya.


"Kak Daren......" Pekik Ghea saat mendapati kakaknya sedang di introgasi oleh pihak penyelidik dengan kondisi kedua tangan terborgol di depan pangkuannya.


Daren hanya menatap adiknya sekilas, merasa bingung harus bagaimana bereaksi. Harusnya dia yang bisa melindungi adiknya, tapi dengan kondisi seperti ini Daren merasa menjadi beban untuk adiknya. Harusnya Daren bisa melindungi, bukan malah meminta untuk dilindungi.


Ghea menatap Roy tajam, masih sangat terasa luapan emosi yang terus saja membakar hati Ghea saat melihat raut muka Roy yang begitu mengejek kekalahan Ghea.


"Kenapa kamu lakukan ini kepada kakakmu sendiri Roy...." Geram Ghea menggenggam kedua tangannya kencang.


Roy hanya tersenyum masam, membuang pandangannya ke tempat lain. Ia mulai merasa malas melihat wanita yang selalu membuatnya iri sejak kedatangannya ke dalam keluarganya.


"Mulai dari ini aku akan menghancurkan kamu Ghea." Roy bergumam dalam hatinya. Kebencian yang selama ini simpan semakin lama semakin kuat menggerogoti perasaannya, menimbulkan dendam yang seakan menguasai semua nalarnya.


"Aku ingin lelaki ini di hukum seberat-beratnya pak!" ucap Roy dengan tatapan tajam ke arah Daren yang masih saja menundukkan pandangannya ke arah lantai.


"Tunggu dulu pak..... Nggak bisa seperti itu, kakak saya pasti punya alasan sendiri sehingga melakukan itu kepada Roy." Ghea berusaha membela kakaknya meski ia sendiri tak yakin jika usahanya itu akan membuahkan hasil.

__ADS_1


__ADS_2