Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 40


__ADS_3

"Apa???" Alexa masih tersenyum manis menanggapi ucapan Faruq yang awalnya saja sudah membuat dirinya merasa was-was.


"Aku harus bercerai denganmu" ucapnya kemudian setelah mengambil nafas panjang untuk yang kedua kalinya.


Alexa mendengus kesal.


"Ini yang ingin kau sampaikan??" Wanita itu mendecakkan lidahnya dengan keras, tatapan nanar ia lempar ke sembarang arah. Sedangkan Faruq hanya terdiam menatap raut muka Alexa yang seketika berubah.


"Aku kira itu yang terbaik buat kita" ucapnya penuh keyakinan.


"Kita.....??" Wanita dengan rambut hitam lurus itu tersenyum masam.


"Kamu bilang ini yang terbaik buat kita? Apa kamu tak tau selama ini aku berjuang untuk bisa bersamamu Fa" Nada ucapan Alexa meninggi, matanya mulai memerah menahan amarah.


"Kenapa??? Aku tak menginginkan kamu, kenapa harus berjuang untukku?" Lelaki itu masih saja bersikap acuh meski sudah cukup lama hidup satu atap bersama dengan Alexa.


Kata-kata itu masih saja tajam menyayat meski Alexa sudah mendengarnya berkali-kali, tak berubah dan tetap sama.


"Kenapa kamu masih saja bersikap seperti itu padaku?? Kemarin kamu pernah bersikap baik dan juga mesra di depanku" Ingatan itu terasa manis membekas di ingatan Alexa. Hanya beberapa kali tapi mengukir memori indah tersendiri.


Faruq mengalihkan pandangannya menatap frame dengan lukisan abstrak di sebelah kiri sofa.


"Maafkan aku..... Itu kesalahan yang aku buat" ucapnya sendu.


"Lalu malam itu??" Senyumnya masam. Ia berharap lebih dengan semua memory manis yang ia ungkapkan.


"Itu......" Faruq menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali. Ia bingung harus berkata apa pada Alexa.


Sedangkan Alexa tersenyum bangga penuh kemenangan. Ia bisa menjatuhkan lelaki itu dengan tipu dayanya.


"Aku akan tetap bertanggung jawab jika kamu hamil" ucapnya datar, mungkin hanya itu yang bisa Faruq tawarkan kepada wanita di hadapannya.


"Cih....." Decak Alexa kasar.


"Hanya itu yang bisa kamu tawarkan untuk harga diriku yang kau jatuhkan?" amarah Alexa mulai meninggi menatap Faruq dengan tajam.

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kau minta dariku?" Tawar Faruq datar, ia tak yakin jika Alexa akan meminta sesuatu yang sesuai tawaran, mengingat ia begitu mendambakan hidup bersama Faruq.


"Memangnya apa yang membuatmu ingin bercerai dariku?" Alexa cukup penasaran, sebelumnya Faruq masih acuh dengan status mereka berdua sebagai pasangan.


"Aku telah bertemu dengan Ghea, dan aku benar-benar masih mencintainya" Senyum manis begitu saja terukir disana.


"Apa kau tak ingat tentang pengkhianatannya padamu?" Matanya membulat dan memerah. Ia baru merasa menjadi sebuah penghalang pada hubungan keduanya.


"Aku yakin kita hanya salah sangka satu sama lain, aku bisa melihat dengan jelas tatapan cinta dari kedua bola mata itu" Raut kebahagiaan jelas sekali tergambar di sana, membuat Alexa iri seketika. Faruq belum pernah tersenyum begitu manis ketika berkata dengannya. semuanya karena Ghea, ingatan manis milik Faruq hanya tentang Ghea.


"Kau ini......" Geram Alexa merasa jengkel melihat senyum manis Faruq.


"Aku akan persiapkan surat-suratnya, jadi siapkan juga dirimu!!" Pesan Faruq sambil membalikkan badan kembali ke kamar pribadinya.


"Aaarrrgggghhhh Ghea....." teriak Alexa cukup keras setelah Faruq resmi masuk ke dalam kamarnya. Giginya bergemelutuk menahan amarah yang meluap-luap memenuhi rongga dadanya.


"Kenapa kamu harus muncul setelah Faruq mulai memberiku kemesraan yang selama ini aku idamkan" oceh Alexa membanting bantal sofa di sampingnya, tatapan tajam ia edarkan ke seluruh ruangan, seakan mencari sosok wanita yang telah membakar amarahnya.


"Kenapa kamu harus muncul Ghea......" Nafas wanita itu tersengal-sengal, badannya panas dan penuh keringat. Kebencian kian memenuhi hati Alexa.


......................


Seorang wanita paruh baya dengan sebuah daster batik nampak sedang asyik menyiangi bunga-bunga dalam pot yang berjejer rapi di teras depan. Tanganya yang mulai kendur dengan telaten memainkan gunting memotong cabang tua dan daun yang sudah menguning.


Bibirnya yang mungil terlihat segar dengan lipstik warna merah bata dan sentuhan glossy yang tidak terlalu kental.


Terdengar lagu merdu yang ia putar lewat tape jadul miliknya yang masih terawat rapi sampai sekarang. Ia nampak asyik merawat bunga-bunga miliknya sembari berdendang lagu jaman mudanya dulu. Nike ardila dan juga Dian piesesha masih menjadi favoritnya.


Pinggulnya yang sudah tak langsing ikutan melenggok ke kanan dan ke kiri mengikuti irama dari lagu yang ia putar.


"Ibu......"


Bu Jasmin mendongakkan kepala ke arah gerbang depan miliknya, ia sedikit memicing lalu melepas kacamata yang selalu bertengger di atas hidungnya saat sedang beraktifitas.


Nampak seorang wanita berambut lurus berdiri di depan gerbang sembari melambaikan tangannya.

__ADS_1


Meski sudah melepas kacamatanya tapi wanita paruh baya itu masih tak faham dengan wanita yang menunggu di depan rumahnya itu. Dengan sedikit tergesa ia berjalan mendekat ke arah gerbang.


Setelah jarak sudah semakin dekat barulah ia faham dengan wanita yang mengenakan celana jeans dengan atasan blouse berwarna magenta. Senyumnya seketika merekah.


"Alexa......" Panggilnya dengan sumringah.


"Iya bu....." Jawab Alexa ramah.


Bu Jasmin segera membuka gerbang yang terkunci itu dan membiarkan menantunya masuk.


Alexa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ini baru kedua kalinya ia datang kesana setelah resmi menjadi istri Faruq. Ia memang terlalu sering jalan dengan kawan-kawannya sehingga tak punya waktu untuk berkunjung ke rumah mertuanya yang jaraknya sekitar satu jam dari tempat tinggalnya bersama Faruq.


"Gimana kabarmu?" tanya bu Jasmin berjalan di depan Alexa


"Baik bu..... Bunga-bunga ibu bagus sekali, terlihat sangat terawat" Puji Alexa mencoba menarik simpati ibu mertuanya yang memang suka sekali mengoleksi bunga.


Bu Jasmin berjalan ke ruang tamu, di ikuti dengan Alexa yang mengekor di belakangnya.


"Aku tadi lewat toko bunga, jadi aku belikan untuk ibu" ucap Alexa sembari menyodorkan satu buket bunga pada wanita di hadapannya.


Bu Jasmin terlihat begitu senang mendapat buket bunga itu. Bunga mawar dengan berbagai warna yang tersusun rapih dengan kertas berwarna merah di sekelilingnya.


"Cantik sekali.... Terimakasih menantuku" Puji bu Jasmin.


"Bagaimana dengan Faruq??" bu Jasmin mendudukkan dirinya di sofa kayu. Alexapun mengikuti ibu mertuanya, mendudukkan diri tepat di hadapan wanita yang sudah ia panggil sebagai ibu.


"Baik bu..... Hanya saja......" Senyuman manis Alexa ia ganti dengan wajah sendu penuh kesedihan. Ia menggantungkan kata-katanya, membuat wanita paruh baya dengan daster warna merah itu sedikit tertegun.


"Kenapa???" Tanyanya.


"Aku bingung harus bercerita dari mana" Wajah Alexa seketika menjadi sayu.


"Cerita lah nak..... Mungkin ibu bisa kasih solusi yang baik untukmu" Ujarnya lembut. Tatapan teduhnya ia berikan pada wajah Alexa yang memang terlihat murung. Sedari tadi wajahnya ia tundukkan dalam-dalam.


"Faruq ingin kita bercerai bu....." Tatapan penuh kesedihan ia ratapkan pada wajah wanita setengah baya di hadapannya, seakan memohon suatu nasib baik yang bisa ia ubah.

__ADS_1


__ADS_2