
"Kenapa pa????" Tanya bu Cristine masih dengan senyum yang terukir di bibir mungilnya.
"Ini kacamata papa kok nggak bisa buat baca ya" Tanya pak Morgan yang merasa aneh dengan kacamatanya. Tangannya dengan begitu aktif meraba setiap lekuk benda itu, ia tak menemukan kejanggalan.
"Masa si pa???" Bu Cristine menampakan wajah terkejutnya. Ia memang telah merencanakan hal ini sebelumnya.
"Apa aku ambilkan kacamata papa yang lain" Tawar Roy dengan begitu gesit.
"Ya....." Jawab pak Morgan singkat yang langsung di laksanakan oleh anak angkatnya itu.
Roy belari kecil menuju kamar papanya, mencari kotak panjang yang tersimpan di laci meja nakas, ia menemukan 2 kotak terjejer disana. Dengan sigap Roy mengambil kacamata yang tersimpan disana lalu menyimpannya di dalam vas bunga besar yang tergeletak di sudut kamar.
Lalu dengan senyum licik ia membawa kotak itu kepada papanya yang sudah menunggu di meja makan.
"Ini pah....." sodor Roy memberikan 2 kotak berwarna merah dan hijau pada papa tirinya.
Morganpun menerima kotak itu dengan tersenyum, sampai pada akhirnya ia harus kecewa melihat kotak merah itu kosong, matanya seketika membulat, lalu meraih kotak satunya dan mendapati sebuah kacamata di dalamnya. Ia segera mengenakannya dan memfokuskan pandangannya sekali lagi.
Mata tua Morgan seketika membulat memperhatikan kedua kotak yang ternganga di hadapannya.
"A.... Apa ini.....??" Pekik Morgan mengamati dengan teliti setiap kotak kosong itu.
Kedua orang yang duduk disana hanya terdiam,
"Kemana kacamataku.....???" Lanjut Morgan panik, ia tak pernah kehilangan kacamata sebelumnya, ia selalu punya cadangan lain ketika kacamata yang lain sedang bermasalah.
"Ta.... Tadi aku hanya mengambil dua kotak itu pah, tak memeriksa isinya sama sekali" Jawab Roy singkat, ia tampakkan wajah polos miliknya.
"Sepertinya aku harus pergi memeriksakan kesehatan mataku hari ini" Ujar Morgan sedikit kesal dengan problemanya di pagi hari.
Sejenak dia terdiam, terpaku pada lamunannya yang kosong sampai Roy menepuk pelan pundak papanya.
__ADS_1
"Pah..... Papa bisa tanda tangan, aku akan menuntunnya" Jelas Roy sembari menyelipkan sebuah bolpoin di sela ibu jarinya.
Morgan menatap anaknya yang berada sangat dekat dengan wajahnya, terdengar sangat jelas detak jantung yang terlalu cepat untuk aktifitas seperti itu.
Bukan tanda tangan itu yang membuat Morgan ingin menggunakan kacamatanya, tapi isi naskah dalam surat yang membuatnya penasaran.
Roy terus menuntun tangan kanan Morgan ke arah kertas putih di atas meja, lalu lelaki tua itu mulai menarikan penanya dengan gemulai disana.
"Baiklah..... Terimakasih papa" ucap Roy spontan setelah Morgan selesai dengan tanda tangannya, ada senyum sumringah yang terlukis disana dan itu tak luput dari pandangan Morgan yang terus mengawasi satu anaknya.
"Andaikan ada kedua anaknya yang lain pasti mereka tak akan berani melakukan ini" Batin Morgan geram.
Lelaki tua itu sudah belajar dari pengalaman masa kecilnya dulu, saat ia harus merelakan istri kedua papanya yang mengambil alih semua harta kekayaan papa sampai mereka harus hidup dengan ekonomi yang sulit.
Sekarang ia harus mengalami lagi hal yang sama, tapi kali ini Morgan tak akan tinggal diam. Harta kekayaan yang sudah susah payah ia kumpulkan harus jatuh kepada pewaris yang tepat.
"Kamu tak sarapan dulu Roy???" Tanya pak Morgan yang melihat Roy mengemas kertas tadi dan memasukannya ke dalam tas kerjanya.
"Papa..... Lanjutkan sarapanmu" ucap Cristine menyadarkan lamunan suaminya.
"Aku akan mengaturkan jadwal untuk pengecekan matamu" Ucap bu Cristine menyudahi sarapan paginya.
Lalu wanita dengan senyuman itu berlalu ke arah dapur, dan kembali dengan secangkir teh dalam cangkir berwarna ungu muda.
"Ini teh milikmu pa, Jangan lupa di minum!!" Pesan bu Cristine sebelum dirinya berlalu ke ruangan lain.
Morgan hanya mengangguk pelan sembari menyantap sarapan miliknya yang tak kunjung habis.
"Apa kedua orang itu telah merencanakan sesuatu untuk menghancurkanku?" Lamun Morgan meletakkan garpu di tangannya, lalu segera meraih cangkir berisi teh dengan warna coklat kekuningan.
Morgan mendekatkan cangkir itu pada hidungnya, lalu mencium bau teh yang entah sudah berapa lama ia konsumsi.
__ADS_1
Kecurigaan mulai hinggap di fikirkan Morgan tentang minuman yang selalu di seduh Cristine untuknya. Ia bangkit membawa cangkir itu dan menuangkannya pada pot bunga di sudut ruangan.
Lalu kembali mendudukan dirinya di kursi makan. Melamunkan tentang sesuatu yang membuat fikirannya penuh dengan segala hal yang seketika saja terlintas.
Ia hanya orang tua sekarang, semua tindakannya tak akan bisa sesempurna dulu, ia hanya bisa pasrah sekarang, mencoba menjaga diri dengan semua usaha kecilnya.
......................
Sinar mentari yang hangat menerobos masuk ke dalam kamar Faruq lewat kaca jendela bening yang hanya tertutup tirai transparan dari dalam. Bayangan dedaunan menari nari tertiup angin terlihat jelas di lantai keramik berwarna putih.
Faruq mengerjapkan matanya beberapa kali, merasakan pening di kepala yang belum juga hilang, efek mabuknya semalam.
Ia pijit begian belakang lehernya yang terasa berat, tapi seketika gerakannya terhenti ketika menyadari sikunya menyenggol sesuatu di sampingnya, benda yang janggal dan tak pernah ada di sana sebelumnya.
Faruq tolehkan muka dan melihat sesuatu itu dengan mata pandanya. Nafasnya terhenti beberapa detik sebelum akhirnya nafas itu tersenggal dengan cepat. juga detak jantung yang berubah berantakan seketika setelah melihat sesuatu yang ada di sampingnya.
Dilihatnya Alexa tengah terlelap disana, terlihat jelas bagian pundaknya yang polos tanpa sehelaipun kain menutupinya. Alexa hanya menggunakan badcover untuk menutupi bagian dadanya sampai bawah. Sedangkan lengan dan pundaknya terekspos begitu saja.
Netra coklat tua milik Faruq membulat, Mulutnya yang kering menganga melihat pemandangan di hadapannya, ia alihkan penglihatannya pada tubuhnya yang masih terbaring di atas ranjang miliknya.
Ia singkab badcover batik yang menutupi tubuhnya. Namun sedetik kemudian ia terheyak mengetahui tubuhnya yang terlihat polos tak berpakaian barang sehelaipun. Faruq buru-buru menutup tubuhnya kembali dengan badcover yang sama.
"Oh my god...... Apa yang terjadi semalam....." Gumam Faruq menggigit bibir bawahnya dengan kasar.
Ia tatap pakaiannya yang tercecer di lantai dengan berantakan, bersatu dengan pakaian Alexa disana sini.
"Aahhh..... Bodoh....." Faruq mengejek dirinya sendiri.
"Kenapa seperti ini" Faruq benar-benar tak ingat dengan apa yang terjadi pada mereka semalam. Ingatannya benar-benar hilang, tak meninggalkan jejak barang sedetikpun.
Dengan segala kebingungan yang menutupi fikirannya, Faruq beringsut dari ranjang, memungut pakaiannya satu persatu dan segera menenggelamkan dirinya di balik pintu kamar mandi.
__ADS_1