
"Tapi kamu tau Roy...." Wanita berambut pendek itu menatap Roy dengan begitu serius. Roy balas menatapnya, mencoba mendengarkan apa yang ingin ibunya sampaikan.
"Ibu mengkhawatirkan sesuatu" ucapnya serius menudingkan telunjuknya.
Roy mengernyitkan dahinya, menuntut kelanjutan ucapan ibunya.
"Daren sudah mulai mencurigai kita..... Kita harus lebih waspada sekarang" Jelasnya menatap dalam ke rongga mata anaknya.
"Benarkah???"
Bu Cristine mengangguk yakin.
"Ibu harus segera ke toko herbal, Semoga saja wanita itu sudah mendapatkan ramuan yang aku pesan" Ada senyuman licik yang terulas di bibirnya yang berwarna merah pekat.
Sedangkan di rumah sakit Daren dan Ghea masih saja gusar menunggu papanya tak kunjung siuman usai operasi sore tadi. Sudah beberapa jam berlalu, papanya hanya mengigau beberapa kali, menyebut nama wanita yang mereka benci. Menjadi tanda tanya bagi keduanya, lantaran papanya menyebut wanita itu dalam dunia bawah sadarnya, apa papanya begitu mencintai wanita itu, atau apa?
"Cristine...." Kembali papanya memanggil nama itu, samar namun cukup untuk membuat Daren dan Ghea yang sedikit terlelap di sofa terbangun.
Begitu antusias kedua anak itu menghampiri papanya yang mulai membuka sedikit matanya, Ghea berdiri di sisi kiri ranjang, meraih telapak tangan milik papanya dan menggenggamnya erat.
"Pah..... Ini Ghea pah" Tatapan sayu ia lemparkan pada wajah papanya yang di balut beberapa perban di sisi kanan dan kirinya, juga bibirnya yang menampakkan sedikit luka jahit di sisi bawah.
Morgan menolehkan pandangan pada anak perempuannya, sedangkan Daren sibuk memperhatikan keduanya, melihat papanya bisa siuman membuat ia merasa senang, menghilangkan kekhawatiran yang sedari tadi menguasai perasaannya.
Morgan terdiam, matanya masih belum sempurna terbuka, ia mengerjap beberapa kali, memperhatikan sekeliling lalu kembali mengarahkan pandangan pada Ghea.
"Siapa kamu??"
Ghea dan Daren saling tatap sejenak mendengar ucapan papanya, mulut keduanya ternganga lebar, merasa salah dengan indra pendengarnya.
Baru beberapa detik lalu Daren merasa tenang melihat papanya, kini ia harus menelan kekhawatiran untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"A.... Apa maksud papa???" Tanya Daren menatap lekat lelaki itu.
"Dimana aku??? Siapa kalian?" Tanya pak Morgan menoleh kekanan dan kekiri memperhatikan lingkungan sekelilingnya.
Ghea yang sedari tertegun hanya bisa menutup mulutnya yang menganga lebar, sedangkan air mata bening mulai memoles garis pada pipi mulus wanita itu.
"A.... Aku Ghea pa!!! Anak papa" ucap Ghea lirih mendekap lengan lelaki itu pada pelukannya.
"Apa papa tidak ingat aku?" Tanya Ghea merasa miris melihat keadaan papanya.
"Dimana istriku?? Cristine" Tanya Morgan mencari sosok wanita yang telah sepuluh tahun menjalin hubungan resmi dengannya.
Dengan mata yang meremang, Daren memencet tombol hijau di sisi atas ranjang. Mencoba memanggil dokter untuk mengidentifikasi ingatan papanya lebih lanjut.
Tak lama berselang dokter datang memeriksa keadaan pasien dengan seorang suster yang membantu pekerjaannya.
"Begini pak.... Pasien mengalami gangguan ingatan sementara, sepertinya ia melupakan sebagian ingatan miliknya, sebenarnya tidak terlalu parah, karena ia masih mengingat detail ingatan pada masa lampaunya. Mungkin butuh waktu untuk membuatnya ingat lagi semua ingatan yang ia lupakan. Saya harap bapak dan ibu bisa membantu pak Morgan mengingat semuanya, jangan paksakan jika beliau merasa pusing atau sakit pada kepalanya saat mengingat sesuatu. Akan menjadi parah nantinya" ucap dokter memberikan penjelasan pada Daren dan juga Ghea yang hanya bisa pasrah dengan semua yang terjadi sekarang.
"Sampai kapan kiranya papa saya bisa sembuh dari amnesianya itu dok?" Tanya Daren meminta kejelasan.
"Nanti akan kita lakukan scan kepala untuk mengetahui cidera otak beliau separah apa" lanjut dokter sembari tersenyum ramah.
"Baik dok...." Jawab Daren mengangguk.
"Baik, semoga pasien lekas sembuh ya"
"Terimakasih dok" ucap Daren yang di balas dengan anggukan oleh sang dokter. Lalu mereka berlalu dari ruang inap itu.
"Dimana Cristine???" Tanya Morgan lagi menatap kedua anaknya dengan tatapan yang terlihat cukup absurt untuk keduanya.
Ghea dan Daren saling tatap, mencoba berdiskusi lewat tatapan yang mereka lontarkan pada saudara kandungnya.
__ADS_1
"Emmbbb Gini pah..... bu Cristine sedang sibuk sekarang, nanti dia pasti datang kesini" ucap Ghea menghampiri papanya segera. Meraih telapak tangan lelaki itu dan menggenggamnya dengan lembut.
"Jangan panggil aku papa, aku bukan orang tua kalian" sentak Morgan menepis tangan Ghea dengan kasar.
Seketika air mata menggenang di pelupuk mata Ghea, meski papanya berkata seperti itu karena lupa dengannya, tetap saja itu cukup menyakiti perasaannya. Sekuat tenaga Ghea menahan air matanya agar tak tumpah begitu saja. Namun sesak sekali dadanya menahan itu.
Daren yang faham langsung mendekat ke arah Ghea, menarik tubuh adiknya dalam dekapan dadanya. Mengusap rambut ikalnya dengan penuh kasih sayang, sedetik kemudian tubuh wanita itu terguncang, bebarengan dengan suara isak yang tertahan dalam. Daren kian mendekapnya erat, meminta adik perempuannya itu membagi derita yang menghimpit dadanya.
GLEK
Pintu terbuka begitu saja, seorang wanita dengan pakaian casual dan juga seorang pria yang mengenakan kemeja biru tua masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah angkuh yang seketika membuat Ghea merasa emosi.
Ghea sudah mengambil satu langkahnya untuk mengusir dua orang itu, namun lengannya di tarik oleh Daren.
"Biarkan saja mereka" ucap Daren menatap netra coklat adiknya, Ghea mendelik kesal, namun sedetik kemudian ia layukan pandangannya, kembali mengalihkan tatapan pada ibu dan adik tirinya.
"Hay pa.... Bagaimana keadaanmu?" Tanya bu Cristine yang berakting dengan raut muka sedihnya, ia hampiri lelaki yang tercatat dalam kartu sebagai suaminya.
Cristine segera memutar balik mobilnya ketika mendapat panggilan telephon dari seorang suster di rumah sakit tempat pak Morgan di rawat. Sebelumnya ia memang sudah meminta pihak rumah sakit untuk memberinya kabar terbaru tentang perkembangan pak Morgan, dan pihak rumah sakit menyetujuinya.
Pak Morgan tersenyum, merasa senang dengan kehadiran dua orang yang ia kenal dengan baik.
"Aku sudah baikan" jawabnya dengan nada yang lemah.
"Aku sangat merindukan papa" ucap Roy menimpali ucapan ibunya. Pak Morgan kembali tersenyum. Melihat anak tirinya yang terlihat gagah dengan baju kerjanya membuatnya bangga.
"Apa kamu bisa menghendel semua pekerjaan papa di kantor?" Tanya Morgan mencari kejelasan.
"Bisa pah..... Aku akan melakukan yang terbaik buat papa" Jawab Roy dengan mata berbinar.
"Si.... Siapa mereka Cristine?" Tanya Morgan pada istrinya dengan tatapan tanya yang mendalam.
__ADS_1
Cristine tertegun mendengar penuturan suaminya, ia alihkan pandangan kepada kedua anak tirinya yang berdiri tak jauh dari ranjang.
"Kenapa bukan kamu yang menunggu aku?" Tanya Morgan lagi.