Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 28


__ADS_3

Dengan begitu manja Alexa bergelayut pada tubuh kekar Faruq, namun lelaki itu menepisnya dengan sedikit kasar.


"Aku capek..... Aku mau mandi, kamu duduklah disini. Kamu boleh keluar kalo sudah setengah jam" Ucap Faruq acuh. Diraihnya handuk yang ada di depan kamar mandi dan segera masuk ke dalamnya.


"Kenapa lelaki itu, Sedetik baik, lalu kasar di detik selanjutnya" Keluh Alexa sembari mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


Sebuah mobil mewah keluaran terbaru nampak berjalan begitu santai menyusuri gang sempit di pinggiran kota. Suara gemerisik aspal panas yang terlindas ban begitu jelas terdengar di pemukiman yang terlihat sepi. Mobil itu berhenti tepat di depan toko tanaman herbal yang terlihat usang.


Seorang lelaki keluar dari salah satu sisi mobil dan membukakan pintu penumpang.


"Silahkan Nyonya....." Ucap lelaki itu sambil membungkukkan badannya.


Keluarlah seorang wanita dengan pakaian modis yang tersembunyi di balik mantel panjang yang ia kenakan.


Wanita dengan kacamata besar hitam itu nampak mengamati sekitar sebelum akhirnya masuk ke dalam toko di hadapannya.


"Sudah lama sekali anda tak datang nyonya" Sapa pemilik toko dengan senyuman lebar.


Wanita setengah baya itu membuka kacamata lebarnya, menampakkan wajah cantik yang terawat dengan sempurna.


"Kamu masih mengingatku" Ucapnya datar.


Sang pemilik toko hanya terkekeh.


Wanita itu tampak tua, keriput sudah menghiasi semua detail wajah sawo matangnya. Rambut putih terlihat menyembul dari semua sisi slayer merah yang ia kenakan, manik matanya yang hitam sudah mulai tenggelam di dalam kelopak. Juga bibir keriputnya sudah menjejal ke rongga mulut yang menyisakan gusi tanpa sebuah gigipun tersisa.


"Apa kau sudah dapat pesanan yang kuminta?" Tanya wanita itu dengan kalimat yang begitu lugas.


Wanita tua itu terkekeh lagi.


"Apa kau masih memerlukannya?" Tanyanya sembari beringsut ke dalam toko.

__ADS_1


Wanita dengan mantel itu mengikuti pemilik toko yang berjalan ke dalam ruangan yang terlihat penuh dengan berbagai toples bening berisi tanaman herbal yang sudah di keringkan.


Rak rak kayu usang yang sudah menghitam menghiasi seluruh sisi tembok ruangan yang cukup kecil tersebut. Aroma berbagai macam herbal menyatu membuat udara disana terasa gersang dan kering, belum lagi tungku perapian di pojok ruangan menimbulkan bau asap yang sangat pekat.


Wanita setengah baya itu melepas mantel hitam yang ia kenakan, meletakannya di sandaran kursi, lalu mendudukan tubuhnya disana.


"Aku masih butuh beberapa lagi. Lelaki tua itu sepertinya sedikit kebal dengan herbal yang kau berikan. Aku harus menambahkan dosisnya agar itu bekerja dengan efektif" Ucap wanita itu menatap wanita tua yang sedang sibuk mencari sesuatu menyusuri semua rak yang ada disana.


"Apa kau tak punya herbal lain yang lebih bagus?"


"Kulihat tokomu ini cukup besar untuk sebuah toko herbal, apa iya tak ada barang bagus yang benar-benar bisa mengatasi permasalahanku" Lanjut bu Cristine sambil menatap sekeliling.


"Atau kau tak mau memberikannya kepadaku??" bu Cristine menatap punggung wanita tua itu dengan penuh curiga.


Wanita pemilik toko tersenyum kecil mendengar ucapan Cristine. 5 Tahun melayani Cristine tak jua cukup mendapatkan kepercayaan darinya. Wanita paruh baya itu selalu melihatnya dengan penuh kecurigaan.


"Pandanganmu belum juga berubah terhadapku Cristine" ujar wanita tua itu.


Cristine hanya tersenyum kecut, membuang pandangannya ke arah lain.


"Ada yang lebih bagus dari ini, tapi harganyapun sangat bagus" Ucap wanita tua tersenyum lebar, senyum yang nampak mencurigakan.


"Berapa??" Tanya Cristine menaikan dagunya, Ia tak pernah mempermasalahkan tentang uang selama itu membuatnya puas.


"Lima kali lipat, tapi...... Selain harganya yang mahal, kau juga harus sedikit bersabar, karena benda itu sangat sulit untuk di dapatkan" Wanita tua itu menyunggingkan senyum di sudut kiri bibirnya.


Cristine menghela nafas kasar.


"Baiklah..... Berapapun yang kau minta akan ku berikan. Pastikan kau mendapatkan barang itu, atau aku akan menghancurkan bisnismu ini" Ancam bu Cristine dengan angkuhnya.


Lalu tanpa berkata lagi bu Cristine meletakkan segepok uang ke atas meja lalu meraih toples bergagang itu dan segera keluar dari ruangan kecil yang sudah cukup membuatnya kehabisan nafas sejak pertama ia memasukinya.

__ADS_1


Wanita tua pemilik toko hanya bisa tersenyum manis saat melihat salah satu langganannya itu pergi dari toko kecil miliknya.


......................


Secangkir cappuccino panas masih Ghea abaikan sejak di antarkan pelayan 10 menit lalu, ia memang tidak terlalu menginginkannya saat ini, hanya saja ia bisa di anggap orang pelit jika duduk di cafe hotel tanpa memesan satu menupun.


Mata coklatnya masih sibuk dengan layar datar di tangannya, mengetik kata demi kata untuk membalas setiap pesan dan email yang masuk.


Lama kelamaan rasa geram kian menghampiri fikirannya saat membaca sebuah pesan dari seorang hacker yang ia sewa.


"Aku masih belum bisa mengakses email palsu itu, tingkat pengaman yang ia gunakan sangat tinggi"


"AAARRRGGGHHHH"


Ghea merasa kesal dirinya sendiri yang tak jua menemukan petunjuk atau bukti kebohongan yang Alexa lakukan untuk menghancurkan hubungan Ghea dengan faruq.


Ghea meremas rambut dengan kedua tangannya. Amarahnya kian meninggi ketika ia mengingat adegan faruq yang secara terang-terangan bermesraan di depannya. Apa ia akan di suguhi adegan seperti itu selamanya, Ghea harus lebih cepat untuk menemukan bukti atau petunjuk itu jika tak ingin hatinya terbakar api cemburu kian lama.


"Huufffttt dasar lelaki buaya" Umpat Ghea geram mengingat faruq.


Ia tak pernah berfikir jika faruq akan melakukan hal itu di hadapannya, mungkin itu konsekuensi yang harus Ghea dapatkan atas penyamarannya. Setidaknya sekarang ia tau lelaki seperti apa faruq sebenarnya.


Selama ini yang ia ketahui jika faruq adalah sosok lelaki baik yang sempurna untuk menjadi pasangan hidupnya, namun ternyata semua yang Ghea lihat itu hanya sebagian sisi dari sifat faruq, Bagian lainnya tak pernah ia ketahui.


Ghea mengira jika faruq masih mencintai Ghea dan tak mungkin melakukan hal itu dengan Alexa meski setatusnya telah menjadi suami istri. Ghea fikir faruq se setia itu padanya, nyatanya anggapannya salah.


"Lelaki itu rupanya pandai bersandiwara ya....." Geram Ghea kesal. Tanganya mengepal kencang meremas semua emosi yang siap membeludak dalam dadanya.


"Apa mereka sengaja mempermainkan aku??" Gumamnya lagi.


Berkali kali Ghea mengernyitkan dahinya dan sudah mulai lelah dengan semua spekulasi yang terus bergulir di kepalanya.

__ADS_1


"Apa yang kau fikirkan sampai tak menyadari seseorang yang sedari tadi mengamatimu"


Seorang lelaki gagah dan tampan tiba-tiba duduk di kursi sebelah Ghea sembari tersenyum manis menatapnya.


__ADS_2