Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 37


__ADS_3

"Apa yang di fikirkan lelaki ini?" Alexa berfikir sejenak, merasa mendengar sesuatu yang salah. Ia tutup pintu kulkas dengan sedikit kasar.


"Pernikahan kita sudah tak sehat sejak awal, dan aku ingin mengakhiri ini" Ucap Faruq lagi masih dengan tatapan kosongnya.


Alexa tersenyum kecut menanggapi ucapan Faruq, ia tak pernah berfikir jika lelaki itu akan secepat itu mengakhiri pernikahan mereka.


Alexa berjalan cepat menghampiri Faruq yang masih terdiam dalam posisi yang sama.


"Apa maksudmu?" Sentak Alexa, meletakkan susu kotak dingin ke atas meja dengan keras.


Faruq menolehkan pandangannya ke arah Alexa, tatapan dingin nan menusuk itu ia hunuskan begitu dalam ke netra hitam milik Alexa.


"Aku ingin kita bercerai"


Ringan dan santai, namun begitu kuat menghantam mental Alexa seketika. Faruq masih tak mempedulikan perasaan wanita di hadapannya itu, baginya kebahagiaan dirinya hanya bersama Ghea dan tak ada seorangpun yang bisa menggantikannya.


Alexa membuang senyum tipisnya ke arah lain yang tak bisa ia fokuskan, ucapan Faruq terasa menyekat saluran nafasnya hingga ia merasa sesak yang tak terkira.


"Sekarang apa lagi????" Ucap Alexa dengan penuh emosi, ia sungguh tak bisa menahan gejolak amarah yang kian menekan di ulu dadanya. Mukanya seketika memerah, tangannya gemetar sampai cake di tangannya terjatuh begitu saja.


"Wanita itu??? Cleaning servis itu??? Atau Ghea??" Alexa menampakkan matanya yang bulat sempurna. Kata-kata itu begitu saja terlepas dari bibir Alexa tanpa ia sadari.


"Tunggu..... Apa jangan-jangan Faruq sudah tau Ghea kembali kesini?" Batin Alexa seketika saat menyebut nama Ghea.


"Ciih Kau ini....." Faruq tersenyum masam sambil bangkit dari duduknya, berjalan santai menuju kulkas dan membukanya.


Alexa hanya terdiam dengan mata yang masih memantau gerakan Faruq yang terlalu absurd di matanya, ia sedang marah sekarang kenapa Faruq masih bisa tersenyum penuh ejekan dan bahkan tak menggubris ocehananya sama sekali.


Di lihatnya Faruq yang mengambil sekaleng minuman soda dan segera membukanya tepat didepan pintu kulkas yang masih terbuka, mata coklatnya menatap Alexa sejenak dengan tatapan yang tak bisa Alexa artikan lalu menegak minuman itu dengan nikmat.

__ADS_1


"Kau fikir kita punya hubungan apa Memangnya" ucap Faruq tanpa rasa berdosa sedikitpun.


"Kalo aku punya hubungan dengannya memangnya kenapa?"


Kata-kata itu sungguh menghempaskan harga diri Alexa jauh-jauh. Ia bukanlah seorang wanita berharga di hadapan Faruq. Sungguh kejam perlakuan yang Faruq berikan pada Alexa.


"Ooowwwhh Jadi benar kau punya hubungan gelap dengan Ana.... wanita cleaning servis itu" Alexa menggelengkan kepalanya, melemparkan pandangan ke atap rumah bergaris.


"Untung dia tak berangkat hari ini" Ejek Alexa yang mulai mencium bau keberhasilan untuk rencananya.


"Kau......" Geram Faruq menghampiri Alexa seakan hendak menerkamnya dengan brutal, tapi wanita itu nampak tak bergeming dengan tindakan Faruq, ia masih berdiri disana dengan santai. Sampai tangan Faruq sudah terayun di udara Alexa masih bersikap acuh, baginya rasa sakit dari sebuah tamparan atau pukulan masih tak ada apa-apanya ketimbang sakit yang ia rasakan di rongga dadanya.


Namun Faruq segera menghentikan gerakannya. Lelaki itu berdecak kasar sambil menurunkan telapak tangannya.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Faruq datar.


"Aku melaporkannya pada PT. Agar dia mendapatkan sanksi atas kesalahannya" Senyum tipis Alexa sunggingkan dengan tatapan kosong.


"Kau juga lelaki tak tau di untung..... Memangnya aku barang sekali pakai, sudah menikmati tubuhku 2 kali langsung mencampakkan aku begitu saja" ucap Alexa merasa kesal mengingat Faruq pernah menidurinya di hotel saat ia setengah sadar.


"Hah..... Omong kosong macam apa itu.... Wanita bodoh.....Aku tak pernah menidurimu 2 kali, hanya saat aku mabuk lusa, itupun aku tak ingat sama sekali" Gerutu Faruq yang merasa sedikit malu mengingat kejadian itu.


"Saat itu di hotel Cakra......" Ucap Alexa merendahkan nada bicaranya, ia mulai mengkhawatirkan sesuatu sekarang.


Faruq termangu sejenak.


"Jangan mimpi yah...... Dalam keadaan seperti ini saja aku tak mau melakukan hal itu padamu, kenapa aku harus melakukan itu di hotel" Sanggah Faruq membela diri, meski sebenarnya tertegun mendengar penuturan Alexa. Lalu dengan siapa kiranya Alexa tidur di hotel itu? Faruq berfikir sejenak.


"Lalu......" Alexa tak melanjutkan kata-katanya lagi, fikirannya melalang buana ke ingatan saat ia sedang mabuk.

__ADS_1


"Bukan..... Itu memang bukan Faruq" Batin Alexa yang sedikit mengingat tekstur muka, rambut dan juga aroma tubuh lelaki itu yang jauh berbeda dengan Faruq. Kenapa Alexa harus telat mengetahui  hal sepenting Itu.


Seketika mulutnya menganga lebar, ia merasa malu dan juga was was mengingat hal itu. Dengan tergesa Alexa berlari ke dalam bilik kamarnya dan mengunci pintu dengan cepat.


Beberapa detik ia masih terpaku di belakang pintu sembari mencerna sebuah hal yang membuatnya cukup syok saat mengetahuinya.


"Kenapa aku sebodoh ini sih....." Gumam Alexa menjambak kasar rambutnya yang tergerai.


"Huuu Lelaki biadab....." rutuknya kepada seseorang yang tak ia ketahui jelasnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Katakan!!..... Dimana temanmu itu?" ucap seorang lelaki yang nampak masih berpakaian lengkap ala kantornya. Kerah atasnya ia buka dua kancing dan menampakkan kaos putih tipis yang menerawang dada bidang lelaki itu.


"Dia.... Dia sedang sakit, jadi tidak bisa kerja tuan" Jawab lelaki bertubuh gempal dengan sedikit takut.


"Kamu bohong!!" Teriak lelaki tinggi itu lagi sambil memelototkan matanya dengan sengit.


"Sungguh tuan, lengannya terluka jadi dia mengambil cuti" suara lelaki gempal itu terlihat bergetar. Ia bingung harus berkata apa lagi, tak tau maksud lelaki di hadapannya dengan semua pertanyaan itu.


Seharusnya tak masalah jika rekan kerjanya libur, toh ada yang menggantikan posisinya. Tapi melihat ekspresi Faruq yang seperti itu rasanya tak mungkin jika ia hanya mempermasalahkan absensi saja, ada faktor lain yang membuatnya seperti itu.


"Apa dia tau tentang penyamaran Ghea???" Batin lelaki gempal sembari melirik sekilas raut muka Faruq.


"Siapa sebenarnya Ana???" Pertanyaan singkat itu saja sudah berhasil mengintimidasi si lelaki gampal begitu dalam. Jantungnya berdetak kencang, bingung harus berkata apa. Ia tak mau terkena masalah dengan mengatakan yang sebenarnya, tapi ia juga akan terkena masalah lain jika tak mengatakannya. Ia seperti berdiri di antara dua jurang yang sama dalamnya, keputusan apapun yang di ambilnya akan menjerumuskan dirinya dalam lubang berbeda tapi begitu mirip.


"Tidak tau tuan....." Lelaki itu menundukkan mukanya.


"Katakan!!! Atau aku akan memecatmu" Ucap Faruq dengan nada penuh ancaman.

__ADS_1


Mata coklatnya melotot kian tajam, memberikan gertakan yang lebih kejam.


__ADS_2