Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 42


__ADS_3

"Apa ini????" Tanya Faruq menatap Ghea sejenak, kemudian ia tarik laptop yang Ghea sodorkan kepadanya.


Menatap layar datar dengan cahaya terang yang terpancar daripadanya, terlihat deretan huruf yang berjejer rapi disana dengan logo amplop berwarna merah. Faruq memicingkan matanya, membaca kata demi kata yang tertata rapi disana.


Sesekali Faruq berdecak juga memberikan ekspresi aneh yang tak Ghea faham maksudnya. Wanita itu terkekeh lucu melihat ekspresi Faruq yang membuatnya tertawa.


"Kenapa???" Tanya Faruq menghentikan aktifitasnya.


Ghea hanya menggelengkan kepala sembari menutup mulut dengan telapak tangan. Faruq fokus membaca lagi. Dan menghela nafas pelan setelah hampir seperempat jam berlalu.


"Aku yakin Alexa yang melakukan ini" tebak Faruq mematikan laptop di hadapannya.


"Aku bodoh karena terlalu percaya padanya" raut muka Faruq berubah seketika, ia merasa menyesal telah mempercayai ucapan Alexa dan menaruh dendam kepada Ghea yang sebenarnya tak salah apapun.


"Sudahlah!!!! Setidaknya kita sudah tau semuanya sekarang. Aku merasa lega karena prasangkaku padamu hanya kesalah pahaman saja" Ghea menatap Faruq dengan tatapan penuh cinta, ia merasa begitu senang sekarang bisa berada di dekat Faruq lagi dengan semua kebahagiaan yang selalu ia nantikan.


Faruq mengangguk pelan.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya??" Tanya Ghea.


"Aku akan bercerai dengan Alexa" ucapnya mantap sembari menatap tajam jendela kaca di sisi kiri meja mereka.


Tangan kanan Faruq dengan cekatan ia tindihkan pada telapak tangan Ghea yang tergeletak di atas meja.


"Aku tak mau kehilangan kamu Ghe...... Aku sangat mencintai kamu" ucapnya serius, di tatapnya netra coklat milik Ghea yang nampak berbinar oleh kebahagiaan.


"Tenang aja Fa..... Aku akan terus menunggumu" senyum manis Ghea lemparkan pada lelaki tampan yang masih terus ia cintai meski dua tahun tak pernah bersua.


Saat sedang asyik mencurahkan rasa cinta satu sama lain, tiba-tiba keduanya di buat terkejut oleh kehadiran seorang lelaki yang dengan tanpa di duga langsung menghampiri Ghea dan menarik tangannya.


"Aa.... A....." Keduanya hanya bisa saling tatap dengan mulut menganga yang tak tau harus berkata apa.


"Fa......." Panggil Ghea memohon pertolongan, Faruq dengan gesit mengejar Ghea.

__ADS_1


"Pliss, ikut denganku!!! Akan aku jelaskan di mobil" ucap lelaki itu tetap menyeret lengan Ghea keluar dari cafe.


Ghea yang memang faham dengan lelaki itu memilih menurut dan berjalan bersama dengannya.


Sedangkan Faruq yang masih mengejar Ghea merasa bingung dengan wanita itu yang hanya menurut mengekor lelaki tampan dengan setelan jas lengkap juga kacamata hitam yang menutupi bola matanya.


Langkahnya melambat tatkala dilihatnya Ghea masuk ke dalam mobil putih bersama lelaki yang sedikit ia faham dan melaju meninggalkan Faruq begitu saja.


"Ada apa Ghe.....??? Siapa lelaki itu??" Faruq mengernyitkan dahinya mencoba mengingat postur yang beberapa detik lalu ia lihat.


"Leon??? Benarkah itu dia???"


"Ada apa Leon....???" Tanya Ghea kepada lelaki yang duduk di kursi penumpang bersamanya.


Leon yang terlihat gusar segera melepas kacamatanya, duduk menghadap Ghea dengan begitu gugup.


"Maafkan saya nona Ghea, saya harus melakukan ini kepada anda. Di cafe itu ada mantanku, aku khawatir jika dia mencurigai hubungan kita, dia sudah mengirim foto anda bersama lelaki itu kepadaku, jika aku membiarkannya pasti dia akan curiga" Jelas Leon begitu serius.


"Kenapa anda begitu khawatir, jujur saja kepada wanita itu, mungkin akan lebih baik" Ghea mencoba menasihati lelaki yang nampak sedikit khawatir dengan jalan cintanya.


Ghea hanya menghela nafas pelan, merasa putus asa harus memberikan saran kepada lelaki itu.


......................


Malam masih baru saja menyinggahi bumi ketika Faruq mesuki rumah yang sudah menjadi tempat ternyamannya dalam beberapa tahun terakhir.


Alexa masih saja fokus dengan gadged di tangan ketika pintu utama terbuka oleh Faruq yang memasukinya. Biasanya dia akan bergegas bangkit dan menghampiri lelaki itu meski hanya untuk di acuhkan. Tetapi berbeda kali ini, ia masih tak bergeming dari duduk santainya. Ia acuhkan suaminya begitu saja.


Faruqpun tak mengomentari tindakan Alexa meski itu terlihat tak biasa baginya. Ia malah merasa nyaman seperti itu ketimbang harus di sapa Alexa yang pastinya akan ia acuhkan.


Dengan santai Faruq berjalan ke kamarnya, membuka pintu yang selalu ia kunci setiap berangkat ke kantor. Lalu ia bawa dirinya masuk, meletakkan tas dan juga melepas jas yang ia kenakan. Kemudian ia ambil sebuah amplop coklat di dalam tas kerjanya, mengeluarkan sebuah kertas dari dalamnya. Membawanya keluar kamar, menghampiri Alexa yang masih saja terdiam.


"Tanda tangan di sini!!!" ucap Faruq meletakkan kertas itu di hadapan Alexa dan juga sebuah bolpoin.

__ADS_1


"Letakkan saja di situ!" ucapnya santai tanpa menolehkan pandangannya sedikitpun.


"Sekarang......!!!" ucap Faruq lagi, tatapannya ia lemparkan pada muka Alexa yang terlihat fokus pada layar datar miliknya.


"Memangnya apa??? Kenapa harus sekarang?" Wanita itu bangkit dari sandaran malasnya, mendudukan diri dengan tegap dan meletakkan ponsel tepat di sebelah kanan pahanya yang terbalut baby doll berwarna tosca.


Ia alihkan mata hitamnya pada lembar kertas di atas meja. Melihatnya sekilas saja ia sudah faham dengan susunan paragraf itu.


"Apa harus sekarang?" ia alihkan tatapan matanya pada Faruq yang juga sedang memfokuskan pandangan padanya. Lelaki itu mengangguk meyakinkan.


Alexa menghela nafasnya.


"Apa yang kamu tawarkan untuk ini?" Alexa melipat kedua tangannya di depan dada, menatap malas ke arah depan.


"Apa yang ingin kamu minta?" Tantang Faruq tak merasa takut sedikitpun.


"Semua milikmu" jawab Alexa penuh keyakinan. Ia tak tau harus berbuat apa lagi untuk mempertahankan Faruq. Jika ia meminta semua harta Faruq seharusnya bisa menjadi pertimbangan buat lelaki itu.


"Apa sebanyak itu yang kamu inginkan?" Tanya Faruq merasa sedikit keberatan. Hanya ada sebuah mobil dan juga rumah yang menjadi aset berharga buatnya.


"Ya...." jawabnya.


"Aku akan mempersiapkannya" Jawab Faruq pada akhirnya, ia ambil kertas putih di atas meja dan membawanya berlalu dari ruang tengah.


Alexa hanya berdecak sebal, ia tak mengira jika akan semudah itu Faruq menyerahkan semua kekayaan hanya demi wanita yang dulu pernah menjadi sahabat karibnya itu.


......................


"Minumlah pah..... Ini teh herbal sangat bagus untuk kesehatanmu" ucap bu Cristine meletakkan secangkir teh dalam mug berwarna coklat muda. Senyum manisnya ia kembangkan agar terlihat menarik di depan suaminya yang entah sudah sejak kapan mulai memandangnya dengan asing.


"Letakkan saja di situ mah..... Aku masih harus menyelesaikan makanku" jawab Morgan menyendok makanan dalam piringnya.


Ia terlihat begitu menikmati makanan di hadapannya. Merasakan kecapan demi kecapan dengan begitu pelan.

__ADS_1


Melihat suaminya yang makan dengan pelan membuat bu Cristine merasa bosan, dengan segera ia berlalu dari meja makan.


__ADS_2