
"Sudahlah.... Cepat lanjutkan tandatangannya lalu cepat kita bangun dan mengembangkan bisnis kita" Jawab Ghea yang tak ingin masalah ini di bahas sekarang.
Keduanya mulai sibuk berbincang dan berdiskusi tentang bisnis yang sedang mereka rencanakan.
Di meja yang berbeda, Alexa nampak mulai gelisah saat mengetahui Tatik mengajak Ghea untuk bergabung sebentar ke grup mereka. Ia buru-buru bersiap untuk pergi dari sana, tapi ia masih bingung untuk mencari alasan yang tepat.
"Kalau memang dia hanya sekertaris kenapa sikapnya seperti itu, juga sikap kedua lelaki itu nampak seperti menghormati Ghea" Ujar seseorang kepada Tatik.
Tatik hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tau harus berkata apa, atau lebih tepatnya ia tak tau sebenarnya.
"Sepertinya dia bersikap sok penting deh. Tuh lihat!!!! Leon bersikap seperti itu kepada Ghea. Tapi Ghea sok jual mahal...." Ucap yang lain merasa kesal dengan sikap Ghea yang terlihat acuh dengan perhatian yang Leon berikan kepadanya.
Mereka terus berkomentar atas semua gerak gerik ketiga orang yang sedang duduk bersama di pojokan cafe, layaknya sedang menonton sebuah pertunjukan opera atau sinetron televisi di hadapan mereka.
"Sorry ya temen-temen..... Aku harus pulang sekarang, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang juga. Aku pulang dulu ya" Ucap Alexa tiba-tiba bangkit dari duduknya.
Semua teman mengalihkan pandangan ke arahnya, tidak biasanya Alexa pulang lebih awal, biasanya juga ia akan pulang paling terakhir dari teman-teman yang lain.
Semua teman sibuk berkomentar dan meminta alasan kepada Alexa, tapi wanita berambut hitam lurus itu enggan menjawabnya, ia hanya tersenyum sambil berlalu dari kumpulan para wanita itu.
Alexa berjalan sedikit cepat sembari mengalihkan mukanya membelakangi Ghea agar tidak ketahuan, tapi Ghea tetap bisa melihat kepergian Alexa dari ekor matanya yang terus menguntit gerak gerik Alexa sedari tadi.
"Apa kita sudah selesai??" Tanya Ghea kepada Leon dan Jeco, tapi tatapan wanita itu masih saja fokus menatap punggung Alexa yang mulai hilang di balik pintu cafe.
"Sudah..... Ayo kita pesan makanan" Ujar Leon bersemangat. Ia raih buku menu yang sedari tadi ia letakan di bawah berkas miliknya.
"Sorry...... Kalian makanlah berdua, aku harus menemui kawan lamaku dulu" Ucap Ghea bangkit dari kursinya.
Leon yang semula sudah bersemangat seketika memonyongkan bibirnya dengan kesal. Ia sudah menantikan moment ini sejak satu jam yang lalu, berharap bisa makan bersama lagi dengan Ghea, tapi harapannya gugur seketika, melihat Ghea pergi menjauh dari mejanya dan menghampiri kawan-kawannya yang telah berkumpul sedari tadi.
__ADS_1
"Aaahhh Ghea....." Leon kian gemas mendapati sikap Ghea yang masih saja acuh kepadanya.
"Hay......" Sapa Ghea menghampiri teman-teman kuliahnya. Sebenarnya teman Ghea disitu hanya 4 orang termasuk Alexa yang sudah pulang lebih dahulu, selebihnya ia tak mengenal sama sekali.
"Boleh aku bergabung?" Tanya Ghea dengan sopan.
"Sini Ghee...." Ucap Tatik menunjuk sebuah kursi tempat Alexa duduk sebelumnya.
"Emang bener kamu tinggal di Jakarta sekarang?" Tanya Seorang kawan.
"Iya.... Papa aku tinggal disana, semenjak ibu aku meninggal, aku dan kakakku ikut papa, sekarang aku bekerja bersama orang itu dan bisa berkunjung lagi kesini" Ucap Ghea menjelaskan sambil menunjuk Jeco yang sedang menikmati makan malam bersama dengan Leon.
"Bagaimana kamu bisa dekat seperti itu dengan Leon.....Aku iri sekali" Ucap Tatik yang terlihat begitu mengidolakan lelaki gagah tersebut.
Ghea tersenyum, ia tak menyangka jika Leon adalah idol di kalangan cewek-cewek lain. Sedangkan ia malah menolak keberadaan Leon, hanya karena bisnis Ghea mau membangun relasi dengan Leon.
"Apa kamu menginginkannya?" Tanya Ghea meledek Tatik.
"Lihatlah Alexa, aku akan mulai menghancurkan kamu dari semua sisi kebahagiaan yang kamu miliki" Batin Ghea merasa senang bisa maju satu langkah kedepan.
................
Sementara itu Alexa yang baru saja sampai rumah segera berlari ke arah wastafel di kamar mandi tamu. Entah mengapa perutnya bagai di aduk tak karuan. Seisi perut begitu saja keluar dari dalam mulut Alexa.
Meski sudah ia muntahkan semua isi perutnya, nyatanya tak juga mengurangi rasa mual yang terus bergejolak tiada henti.
"Kenapa denganku, biasanya aku tak pernah begini meski makan banyak seafood" Ujar Alexa merasa heran dengan dirinya. Tangan kanannya masih setia memegang perutnya yang terasa sakit, juga mual yang masih berlanjut sampai perutnya terasa benar-benar kosong.
Hampir setengah jam Alexa berdiam di kamar mandi, menunggu sampai mualnya benar benar hilang. Setelah di rasa cukup lega Alexa segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas dipan empuknya.
__ADS_1
Ia masih berfikir tentang mualnya barusan, Alexa jarang sekali seperti itu.
"Kenapa ya???" Alexa masih memikirkan makanan yang bisa membuatnya mual. Sedangkan tangannya sibuk memijit tempurung kepalanya yang entah mengapa terasa sakit dan berat.
"Ghea....." Tiba-tiba fikirannya teralihkan kepada sosok wanita yang pernah menjadi sahabat terpentingnya dahulu.
"Apa tadi sungguh dia?" Alexa masih berusaha untuk menyangkal semua yang ia lihat secara langsung.
"Bagaimana bisa...... Dia tak mungkin sehebat itu kan?" Alexa tersenyum kecut, mencoba menghibur dirinya sendiri. Ia masih berfikir jika Ghea hanya kebetulan berada disana dan melakukan kerja sama dengan Leon adalah suatu kebetulan belaka.
"Mana mungkin Ghea bisa punya relasi sehebat Leon" Gumam Alexa membatin dalam hati.
"Bagaimana jika nanti wanita itu berhasil menemuiku??? Apa yang akan dia katakan? Apa yang harusnya aku katakan?" tiba-tiba saja beribu pertanyaan bergelayut di otak Alexa dengan berantakan. Ia mulai merasa cemas sekarang. Sosok Ghea bagaikan hantu yang sangat di takuti Alexa untuk saat ini.
"Pokoknya tak boleh.... Aku harus bisa menjaga Faruq agar tak di rebut wanita itu" Alexa merasa geram ketika mengingat kedatangan Ghea ke Jakarta.
Alexa yang merasa lapar setelah muntah banyak, memutuskan untuk mengambil beberapa makanan di kulkas, di lihatnya Faruq yang duduk termangu di kursi ruang makan sambil menatap kosong pemandangan di depannya.
"Sedang apa lelaki itu?" Gumam Alexa mengamati tingkah Faruq yang nyaris tak bergerak barang seincipun.
"Fa....." Panggil Alexa dari depan pintu kamarnya, sejujurnya dia sedikit takut terjadi sesuatu pada Faruq. Namun fikiran negatifnya seketika sirna ketika Faruq masih menoleh, merespon panggilan Alexa.
"Ah.... Syukurlah...." Batin Alexa merasa lega.
"Sedang apa??" Tanya Alexa menghampiri suaminya.
Lelaki dengan netra coklat gelap itu hanya diam dan enggan merespon pertanyaan Alexa, tatapan kosong kembali ia fokuskan pada gorden transparan yang sedikit tersibak oleh angin.
Alexa yang merasa di acuhkan hanya menghela kasar nafasnya kemudian mengambil sepotong cake dan susu dingin dalam kulkas.
__ADS_1
"Apa sebaiknya kita sudahi saja sandiwara kita?" Ucap Faruq membuat Alexa terkejut.