
Lelaki jangkung dengan setelan jas formal itu hanya menghela nafas sambil melemparkan tubuhnya ke sandaran sofa dibelakangnya.
"Apa anda sudah mendengar kabar kecelakaan direktur Ari tempo hari?" ucap Roy sambil memainkan bolpoint hitam di tangannya.
Roy melontarkan sebuah pertanyaan, namun lelaki paruh baya di hadapannya itu berhasil menangkap maksud tersirat dari sebuah tanya yang ia ucapkan.
Direktur Kim menelan kasar air liurnya, ia tau lelaki di depannya itu telah berani berbuat sesuatu di luar dugaannya.
"La.... Lalu apa yang akan aku dapatkan?" Tanya Direktur Kim dengan suara bergetar. Kengerian telah membekukan kewibawaannya dalam sekejap.
"Seperti yang tertulis dalam surat perjanjian itu" jawab Roy santai sambil tersenyum masam. Ia sangat bangga dengan dirinya sendiri. Menjadi malaikat maut sungguh menguntungkan dirinya.
"Baiklah!!! Aku akan tanda tangan disini" ucap Direktur Kim sambil menorehkan bolpoin di atas matrai.
Roy tersenyum lebar, menyadari rencananya telah berhasil. Setelah mendapatkan surat persetujuan dari Direktur Kim maka akan sangat mudah untuk meminta persetujuan anggota Direktur yang lain.
"Bagus.... Lain kali jangan melawan jika aku meminta persetujuanmu, jika tidak......" Roy menggantung kata-katanya sembari tersenyum dingin ke arah Direktur Kim.
"Maka ajal akan menjemputmu lebih cepat dari jadwal yang seharusnya" Ucap Roy sembari bangkit dari sofa tempat ia duduk.
Asistennya telah sigap membereskan dokumen yang telah di tandatangani Direktur Kim. Lalu keduanya pergi begitu saja tanpa berbasi lagi.
"Anak itu....." Gumam Direktur Kim sambil menatap geram ke arah pintu rumahnya. Tangannya masih bergetar hebat bahkan setelah kepergian Roy. Seumur-umur ini baru pertama kalinya ia bernegosisi dengan maut.
......................
Langit yang berwarna jingga sudah mulai pudar dengan warna hitam yang kian pekat. Ghea masih asik melamun di sebuah meja cafe tepat di sudut ruangan.
Senyum tipis beberapa kali ia sunggingkan ketika mengingat hal manis tentang Faruq, namun sedetik kemudian senyumnya berubah masam, tatapan matanyapun menjadi tajam.
Cafe dengan dekorasi sederhana itu dulu tempat favoritnya menunggu Faruq saat mereka janjian. Cafe itu memberikan kenangan tersendiri untuk Ghea.
Dari kejauhan nampak seorang lelaki dengan tatapan kosong duduk di sudut ruang yang lain, ia meminum segelas kopi di hadapannya dengan begitu nikmat sambil merasakan perih di ulu hati yang belum juga sembuh sejak beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Ia lempar pandangannya ke arah meja kasir di samping pintu keluar, nampak seorang wanita berpakaian casual yang berjalan santai meninggalkan cafe itu.
Rambut pirang bergelombang, seperti rambut yang sangat ia kenal sebelumnya. Faruq hanya tersenyum getir menanggapi penglihatannya yang ia anggap lanturan semata.
"Wanita itu......" Gumam Faruq meremas cangkir kopi yang masih panas, entah mengapa ia merasa kesal saat ingatannya menggambarkan siluet tubuh Ghea dengan begitu jelas di hadapannya. Ini bukan kali pertamanya ia melihat perawakan yang mirip dengan Ghea.
"Kenapa bayanganmu seperti begitu nyata di hadapanku Re....." Gumam Faruq sambil mengacak rambutnya yang hitam.
Sudah lebih dari satu menit ketika Faruq pada akhirnya memutuskan untuk menemui wanita itu untuk menghapus rasa penasarannya.
Dengan setengah berlari Faruq mengejar wanita itu ke depan cafe, ia cari sosok yang mengingatkan Faruq kepada kekasihnya. Namun seperti di telan bumi, tak ada seorangpun yang nampak di sana.
GLEK.....
suara pintu mobil yang tertutup langsung mencuri perhatian Faruq, lelaki yang nampak kusut itu hanya terdiam sambil memperhatikan sebuah mobil berwarna merah yang mulai berjalan meninggalkan tempat parkir cafe.
"Siapa wanita itu??........" Tanda tanya itu memberikan belenggu yang begitu ketat pada hati Faruq. Entah mengapa ia begitu penasaran dengan wanita pirang tadi, tak seperti wanita pirang yang lain.
"Mungkinkah itu Ghea???" Batin Faruq mencoba mencari jawaban dalam fikirannya.
......................
"Alexa......" Panggil Selly dengan nada yang berbeda dari biasanya.
Alexa yang sedang menikmati sepotong steak menoleh ke arah Selly.
"Ya.....???" Jawab Alexa sambil tersenyum manis, namun sejurus kemudian Alexa menurunkan garis senyumnya setelah melihat Selly memandangnya dengan tatapan mengejek.
"Ada apa?" Tanyanya lagi setelah Selly tak mengindahkan jawabannya.
"Kamu berkata akan mengajak suamimu kesini, mana bukti ucapanmu itu?" Tanya Selly setelah beberapa kali Alexa tak pernah merealisasikan ucapannya dari sejak pernikahannya.
"Mungkin suaminya lagi sibuk Sell...... Sudahlah" Ujar yang lain mencoba menenangkan Selly yang nampak seperti macan dalam mengintai mangsanya.
__ADS_1
"Cih..... Yang benar saja, mamangnya apa jabatan suamimu di kantor sampai bisa sesibuk Pimpinan perusahaan" Ejek Selly membuang muka kesalnya ke arah taman di depan resto.
Ucapan Selly begitu mengintimidasi Alexa, seketika saja mukanya memerah, ia tak menyangka jika Selly yang ia kenal baik padanya tiba-tiba berubah menjadi beruang yang siap menerkamnya.
"Apa karna suamimu tak mencintaimu sampai ia tak mau untuk menuruti permintaanmu" Tebak Selly acuh sambil tertawa kecil.
"Apa maksudmu Sell....???" Tanya Alexa yang merasa bingung dengan ucapan teman dekatnya itu. Keningnya berkerut memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Pikirkan saja sendiri, aku malas untuk berteman denganmu" ucap Selly sambil berdiri dari tempat duduknya.
Beberapa teman tampak bertanya kepada Selly, tapi wanita feminim itu enggan untuk menjawab pertanyaan mereka.
"Aku pergi dulu ya teman-teman...... Daahhh" Pamit Selly sambil berlalu dari perkumpulan itu.
Bertemu dengan Ghea beberapa waktu lalu benar-benar sudah mengubah cara Selly memandang seseorang. Ia merasa sedikit takut untuk terlalu dekat dengan seseorang, karena sekalinya teman dekat menyakitinya itu akan jadi rasa sakit terparah yang pernah ia rasakan. Mimpi buruk yang sengat tidak ingin Selly alami. Cukup ia belajar dari pengalaman temannya saja.
Alexa merasa kesal dengan tingkah Selly barusan. Tapi ia berusaha untuk tetap diam agar apa yang di katakan Selly tidak menjadi kenyataan.
"Sabar ya Lex...... Mungkin Selly lagi ada masalah kali" Hibur yang lain sambil terus menikmati hidangan yang tersaji.
Alexa meremas ujung bajunya, ia sangat ingin menghancurkan Selly saat ini. Tapi ia masih mencari alasan logis untuk dia melakukan hal itu. Karena sejatinya Alexa masih tak tau apa kesalahannya sampai Selly membencinya seperti itu.
......................
Pagi-pagi buta Faruq sudah berkemas untuk berangkat ke kantor, rambut basahnya ia sibakkan dengan kedua tangannya.
Ia raih kemeja putih di dalam lemari pakaiannya, Tanpa basa basi Faruq kenakan kemeja putih yang selalu menjadi baju favoritnya.
Namun......
Hidung Faruq seperti menangkap suatu bau yang asing, aroma wangi yang sudah sangat lama tak pernah melewati rongga hidungnya.
"Wangi apa ini....." Aroma itu cukup halus sampai hampir tak tercium dengan jelas. Faruq mengendus sekeliling bagaikan anjing pelacak. Penciumannya terhenti pada kemeja putih yang ia kenakan. Ia mengendus beberapa kali untuk memastikannya.
__ADS_1
"Tak salah lagi....." Gumam Faruq yang semakin yakin dengan aroma yang berasal dari kemejanya. Otaknya berfikir keras seketika, mengingat ingat tentang bau itu. Faruq yakin pihak loundry tak pernah memberikan wewangian seperti itu.