Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 63


__ADS_3

"Kata siapa??? Aku masih membutuhkannya kak, untuk mengatur perusahaan agar bisa berjalan sesuai seperti apa yang seharusnya." Roy tersenyum lebar, merasa bangga dengan kemujuran yang mempermulus rencananya untuk mendapatkan kesuksesan.


"Awas saja kalau kau berbuat macam-macam dengan papa, Aku tak akan segan untuk menghabisimu." Geram Daren memberi ancaman kepada Roy.


Namun, lelaki yang masih mengenakan kemeja dengan sedikit noda darah itu tak merasa gentar sedikitpun. Ia berjalan mendekat ke arah Daren dan Ghea yang berdiri bersebelahan.


"Cepat pergi!!! Atau perlu kubuatkan masalah baru yang lain?" Gertaknya meraih kerah kemeja Daren yang sudah lusuh karena pertempurannya beberapa jam yang lalu.


"Kau...." Gigi Daren bergemelutuk menahan amarah.


Tanpa aba-aba Daren segera menarik lengan Ghea, menjauh dari Roy. Mereka keluar lewat pintu samping untuk menghindari paparazi yang masih sibuk mondar-mandir di depan pintu utama kantor polisi, guna untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang masalah yang sedang panas-panasnya di bicarakan di media sosial.


Ghea berlari bersama Daren menuju mobilnya dan segera menyembunyikan diri ke dalamnya, untung saja tak ada awak media yang menyadari kepergian Ghea dan Daren. Dengan sedikit tergesa Daren tancap gas dengan mobil milik Ghea.


Di dalam perjalanan Ghea terus saja melamun, mempunyai beban berat seperti ini sungguh mengiksa batinnya. Membuat Ghea tertekan. Ia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa sekarang ini. Semua jalan yang ia temui seakan buntu, tak bisa mendapatkan jalan keluar yang baik untuk di ambil.


Daren meletakkan telapak tangan di atas tangan adiknya, sedangkan tangan yang satunya masih fokus dengan pengemudi. Ghea menolehkan pandangan, menatap kakaknya yang tersenyum memandangnya.


"Terimakasih ya sudah membebaskan kakak dari penjara." ucap Daren sesekali mencuri pandang kepada sang adik sembari tersenyum.


Ghea membalas senyuman sang kakak, lalu kembali fokus menatap jalanan kosong di hadapannya.

__ADS_1


"Kenapa nasib kita malah jadi begini ya kak???" Ghea termenung, meratapi nasibnya yang menjadi buruk dalam sekejap.


Ia tak menyangka jika hal ini akan terjadi padanya, seluruh nasib baik yang selama ini ia nikmati bisa berubah hanya dalam kedipan mata. Harusnya tak begini, apa yang salah?


Seharusnya mereka tak datang ke Jakarta, mungkin hidup Ghea akan jauh lebih baik. Mungkin Faruq masih bersama Ghea, bahkan menikah dengannya. Mungkin Alexa masih menjadi sahabatnya. Semua itu hanya kemungkinan. Kenyataannya Ghea tak tau apa yang sudah tuhan gariskan untuk hidupnya di masa depan.


"Sudahlah! Jangan di sesali semua yang sudah terjadi, fikirkan saja bagaimana kita bisa merubah dan memperbaiki kehidupan kita di masa depan. Merintis usaha dan menata hidup kita lagi." Ujar Daren menasihati adiknya.


"Kau benar kak..... Sepertinya mandiri dengan usaha kita sendiri itu lebih menguntungkan ketimbang bergantung pada kekayaan keluarga." Jawab Ghea menimpali ucapan sang kakak, lalu tersenyum senang. Ia bangga masih memiliki kakak seperti Daren yang selalu peduli kepadanya.


......................


Musik dari dalam speaker televisi terdengar cukup jelas dalam ruang tv di rumah Faruq. Rumah itu memang selalu sepi. Tentu saja, hanya ada Faruq dan juga Alexa yang tinggal disana. Terlebih lagi Faruq yang tak menyukai Alexa memilih untuk menutup diri dari wanita itu. Ia jarang sekali berinteraksi dan berkomunikasi dengan sang istri.


Terkadang suatu waktu wanita itu bersikap acuh dan dingin, mengabaikan Faruq dengan begitu serius. Sampai Faruq merasa bingung dengan sikap aneh yang Alexa tunjukkan di depannya.


Namun sikap itu biasanya hanya bertahan sementara waktu saja, begitu Alexa bosan dengan drama acuhnya, ia akan kembali menarik perhatian Faruq dengan tingkah manjanya yang tak pernah sekalipun mendapatkan respon baik dari suaminya. Faruq enggan berkomentar apapun tentang Alexa, semua hal tentang wanita itu tak pernah menarik di mata Faruq.


Malam itu Faruq yang tak bisa tidur memilih untuk menikmati kopi di dalam Kamarnya, entah mengapa perasaannya begitu gelisah mengingat Ghea yang seakan menghilang tanpa jejak. Nomor ponselnya tak aktif sudah beberapa hari ini, bahkan ketika Faruq mencoba mencari di tempat yang pernah mereka kunjungi, ia tak menemukan petunjuk apapun.


Faruq menghela nafas kasar, mencoba memikirkan tempat lain yang biasa mereka datangi, tapi tak ada yang jelas. Ia tak tau dimana Ghea tinggal sekarang, apa mungkin jika dia kembali ke Jakarta. Tapi untuk apa?

__ADS_1


Faruq benar-benar bimbang memikirkan Ghea, rasa rindunya begitu dalam, sudah dua tahun ia tak bertemu dengan kekasihnya, lalu baru beberapa hari bertemu harus berpisah lagi dengan alasan yang tak jelas. Faruq hampir gila memikirkan rindu yang terus menghimpit dadanya. Andaikan ia tau tempat tinggalnya di Jakarta pasti sudah ia datangi untuk melepas kerinduan yang kian menyiksa batinnya.


Berkali-kali Faruq mendecakkan lidahnya, merasa gusar. Tak bisa ia pejamkan mata barang semenitpun. Bayangan wajah Ghea selalu membayangi angannya, ia takut sesuatu terjadi padanya sekarang ini.


Faruq meraih cangkir kopi yang sudah kosong beberapa menit yang lalu, berjalan lunglai keluar dari kamarnya. Suara musik di televisi masih saja terdengar meski hari sudah larut malam. Ia tau Alexa masih merebahkan dirinya di sofa ruang tv, tapi enggan untuk mengalihkan pandangannya ke sana.


Faruq hanya fokus berjalan ke arah dapur, meletakkan cangkir kosong itu ke dalam bak wastafel. Mengambil cangkir baru di atas rak dan meracik kopi hitamnya sendiri. Ini sudah cangkir yang tiga sejak sore tadi, tapi tak ujung memberikan ketenangan dan rasa rilex seperti yang ia harapkan.


Lamunan Faruq melalang buana entah kemana, menghempaskan sebagian kesadarannya.


"Apa kamu membuat kopi lagi??" Tanya Alexa yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Faruq, menatap cangkir berisi cairan hitam yang masih sibuk di aduk olehnya.


Faruq hanya diam, tak bergeming dengan pertanyaan istrinya. Tatapannya kosong meski tangannya sibuk mengadukan sendok dalam cairan hitam di atas meja dapur, seakan tak ada Alexa disana.


"Jangan terlalu banyak minum kopi, tidak baik." Ujar Alexa lagi.


Tak ada respon.


Faruq masih sibuk dengan fikirannya yang kacau. Bahkan ia tak sadar jika sudah mengaduk kopi sejak dua menit yang lalu.


"Leon...."

__ADS_1


Entah dari mana tiba-tiba nama itu muncul di fikiran Faruq, mata coklatnya berbinar, membulat sempurna, seakan mendapatkan sebuah petunjuk emas yang akan menghapuskan kekhawatirannya tentang Ghea.


Tanpa berkata apapun Faruq melangkah ke kamarnya dengan cepat, meninggalkan kopi yang bahkan belum sempat ia nikmati.


__ADS_2