Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 20


__ADS_3

"Baiklah....." Hela sang dokter yang merasa jika pemeriksaannya sudah cukup.


"Sepertinya sakit kepala yang di alami pak Morgan bisa berakibat pada daya ingat beliau yang menurun. Aku akan siapkan resep, semoga ini bisa membantu beliau agar bisa menyembuhkan kondisinya" ucap sang dokter sambil mencatat beberapa obat yang harus pak Morgan minum.


"Pak..... Ingat ya.... Bapak harus rajin istirahat dan jangan berfikir terlalu keras. Jika tidak begitu, ingatan pak Morgan bisa kian melemah dan bisa menjadi permanen jika sudah parah" Ujar dokter mengingatkan.


Pak Morgan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia masih tak percaya dengan penjelasan sang dokter, ia tak menyangka bisa mendapatkan penyakit aneh semacam itu.


"Ini resep yang harus di tebus, silahkan" ucap dokter sambil menyodorkan secarik kertas pada bu Cristine.


Lalu dengan telaten bu Cristine menggandeng tangan suaminya keluar dari dalam ruangan sang dokter.


Selesai menebus obat, keduanya kembali ke mobil pribadi yang terparkir tepat di depan klinik spesialis itu.


"Tuh kan.... Papa memang harus istirahat, jangan melulu memikirkan pekerjaan" Ujar bu Cristine setibanya ia di dalam mobil.


"Tapi papa ingin mengatur perusahaan agar berjalan dengan baik, setidaknya sampai Ghea kembali" jawab pak Morgan santai sambil melemparkan pandangannya ke arah jalanan di hadapannya.


"Aahh..... Papa ini.... Kan masih ada Roy, bukankah tempo hari Roy yang mengurus perusahaan saat Ghea pergi, dan semua berjalan mulus tanpa hambatan. Apa papa masih kurang percaya dengan kemampuan anak papa yang satu itu?" Omel bu Cristine panjang lebar. Ia tau jika suaminya belum bisa menerima Roy untuk terjun langsung menangani perusahaan yang sudah lebih dari 30 tahun ia kelola itu.


Pak Morgan hanya terdiam tanpa ekspresi menanggapi ucapan bu Cristine, entah sudah berapa kali istrinya mengatakan hal serupa, hal itu membuat pak Morgan kian curiga dengan rencana bu Cristine dan juga Roy yang berusaha merebut perusahaan dari tangannya.


......................


"Hai Sell......" Sapa seorang wanita dengan blouse berwarna biru pastel juga bawahan jeans ketat.


Rambut ikal bergelombangnya hanya ia ikat sekenanya dan menyisakan anak-anak rambut yang membingkai wajahnya yang cantik.


Seorang wanita lain nampak berjalan menghampiri dengan raut muka sumringah dan senyum lebar.


"Ghea..... Tak ku sangka kau sungguhan datang kemari" Balas Selly sambil memeluk kawannya itu. Lalu keduanya duduk di kursi mereka masing-masing.


"Bagaimana kau bisa sampai kemari?" Tanya Selly penasaran.

__ADS_1


"Aku ada proyek kerja sama disini" Jawab Ghea singkat. Ia memang belum punya keinginan untuk memberitau Selly tentang statusnya sekarang.


"Wah.... Sepertinya kedudukanmu memang terbilang menonjol ya di perusahaan" Puji Selly merasakan sesuatu yang Ghea sembunyikan darinya.


Gadis dengan netra coklat itu hanya bisa tersenyum tipis.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Tanya Ghea sambil memberikan daftar menu pada Selly.


Seketika wajah Selly berubah layu, ia raih buku besar berisi menu makanan yang di sodorkan Ghea kepadanya. Pelan ia menghela nafasnya.


"Aku kira setelah aku pergi ke Jakarta bulan lalu akan ada promosi atas kerja kerasku, tapi kenyataan yang terjadi jauh sekali dari dugaanku" keluh Selly sambil memonyongkan bibirnya.


"Memang apa yang terjadi selanjutnya?" Ghea kian penasaran dengan nasib temannya.


"Aku terancam di phk karena perusahaan mengalami kerugian drastis" Bola matanya menari manatap plafon kayu di atasnya, sedangkan mulutnya berdecak kesal.


"Apa kamu mau bekerja di perusahaanku?" Tanya Ghea membulatkan matanya ke arah Selly.


"Ah.... Tidak mungkin... Hidup disana butuh biaya yang mahal. Pasti gajiku takan cukup, lagi pula aku tak bisa jauh dari orangtuaku, " Hela Selly pada akhirnya.


"Aku sudah membangun relasi dengan kota M dan akan mendirikan kantor cabang disini" Ucap Ghea sumringah.


"Tapi mana mungkin orang sepertiku bisa di terima di perusahaan besar seperti itu" Selly merasa tak percaya diri dengan kemampuannya. Sedangkan Ghea hanya mengerlingkan salah satu matanya saja untuk menjawab kerisauan Selly.


"Sudah pesan saja makanannya, cepat!" Pinta Ghea yang melihat Selly hanya risau dan tak membuka buku menu di tangannya.


"Apa kau sudah memberi tahu Alexa jika kau berkunjung kemari?" Tanya Selly sambil menulis beberapa menu yang ingin ia nikmati.


"Tidak....." Jawab Ghea datar.


Selly menatap wanita itu sekilas sebelum pada akhirnya kembali fokus pada kertas dan bolpoin di tangannya.


"Kemarin aku bertemu dengan Alexa di pertempuan kita. Sepertinya ia di antar oleh Faruq" Terang Selly sambil memanggil seorang Waithers yang berdiri di samping meja kasir.

__ADS_1


"Apa....???? Kamu serius???"Mata Ghea melotot seketika.


Selly mengangguk pelan.


Ghea pikir mereka hanya memiliki cinta sepihak saja, namun kenyataannya lain. Apa di hati Faruq sudah mulai tumbuh benih-benih cinta untuk Alexa?.


"Sekarang satu kelompok memusuhiku gara-gara aku mengatakan jika Faruq tak mencintai Alexa, karena tak pernah mengantarnya. namun kemarin Alexa membuktikan jika perkataanku benar-benar menyimpang dari yang ada" Terang Selly panjang lebar.


"Ada juga bekas kecupan di lehernya yang membuat seluruh kelompok begitu percaya padanya jika Faruq benar-benar mencintainya"


Nafas Ghea terhenti seketika. Ia tau jika mereka memang sudah resmi menjadi suami istri, melakukan hal seperti itu juga di anggap lumrah. Tapi entah mengapa Ghea merasa sakit di ulu dadanya.


"Aduh.... Maaf.... aku selalu tak bisa menjaga ucapanku" ucap Selly sambil memukul bibirnya, mukanya pucat seketika.


"Tak apa-apa Ne..... Aku jadi tau apa yang harus aku perbuat kepada mereka sekarang" Jawab Ghea sambil memberikan tatapan kosong.


Misinya yang semula ingin membalas perbuatan Alexa dan berkata yang sebenarnya kepada Faruq setelah membaca email itu, sekarang berubah lagi ke rencana awal. Memberi pelajaran kepada keduanya.


Gigi Ghea bergemelutuk menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubunnya, juga beberapa tetesan bening mulai mengalir dari kedua pelupuk mata Ghea.


Selly yang duduk di hadapan Ghea ikut merasa ngeri dengan perubahan sikap Ghea. Wanita yang dahulu terkenal dengan keriangannya bisa berubah menjadi wanita pendendam seperti sekarang.


......................


Semburat jingga mulai menghias langit ibukota yang sudah sangat sesak dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi.


Faruq memang pulang lebih awal hari ini. Dengan sumringah ia masuk ke dalam rumah, berharap bisa segera menemukan jejak Ghea pada salah seorang cleaning servisnya itu.


"Kamu sudah pulang?" Sapa Alexa menampakkan senyum lebarnya, segera ia beranjak dari tempat duduk dan hendak menghampiri lelaki yang telah resmi menjadi suaminya itu.


Namun lelaki dengan netra coklat itu hanya berlalu tanpa mempedulikan Alexa sama sekali.


Seketika harapan kecil yang sudah bersemi di hati Alexa musnah dalam sekejap. Ia fikir obrolan kemarin malam di meja makan sudah mulai mengubah jalan hidupnya, nyatanya tidak. Faruq masih saja memberikan sikap yang sama kepada Alexa. Sikap acuh dan dingin yang sama sekali tak berkurang sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2