Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 64


__ADS_3

Alexa tertegun, merasa tindakan Faruq sedikit absurt dalam pandangannya. Apa ada sesuatu yang terjadi?


Alexa masih termangu di tempatnya ketika tiba-tiba Faruq keluar dari kamarnya dengan jamper hitam yang ia kenakan, tak lupa ia kunci pintu kamarnya. Faruq tak pernah rela jika Alexa masuk ke kamar miliknya.


Belum sempat Alexa berucap Faruq sudah berlalu dari sana menuju pintu utama yang sudah terkunci sebelumnya. Alexa berlari kecil menyusul Faruq yang sudah hilang di balik pintu kayu berpernis coklat.


"Hendak kemana dia malam-malam begini?" Alexa membatin. Ia sangat faham jika suaminya tak suka bermain di club malam atau tempat hiburan malam lainnya.


Meskipun ia tak menyukai Alexa tapi Faruq enggan untuk berada di luaran. Ia hanya pergi untuk bekerja atau jika ada kepentingan lain. Sesekali saja ia menikmati waktu di cafe tempat kenangannya dulu.


Alexa mendongakkan kepalanya ke jendela di samping pintu, menyingkab gorden yang menutupi kaca polos transparan. Dilihatnya Faruq mengendarai mobilnya keluar dari sana. Berbagai pertanyaan kian terlintas di kepala Alexa.


Sementara itu Faruq yang seperti mendapat ilham atas petunjuk yang baru saja terfikirkan olehnya segera meraih ponsel, memencet beberapa nomor disana lalu mengaktifkan panggilan.


"Hallo!!....." Tak lama berselang terdengar suara pria dari dalam ponselnya.


"Hallo!!..... Aku ingin bertemu dengan Leon. Penting!" Ucapnya tergesa.


"Maaf tuan, ini sudah jam malam, sudah waktunya untuk beristirahat. Saya tak berani mengganggu istirahat beliau." Ucap lelaki itu sopan.


"Cepat katakan padanya, jika aku Faruq mengajaknya untuk bertemu untuk urusan yang penting." Ucap Faruq tegas.


"Tapi tuan...."


"Cepat katakan saja seperti itu!! Aku akan menunggunya di club Delima sampai dia datang."


Tuut...

__ADS_1


Panggilan di akhiri sepihak oleh Faruq, ia tak menginginkan alasan apapun dari lelaki itu.


Tatapannya masih Faruq fokuskan pada jalanan yang tertutup malam di hadapannya. Ia injak pedal gas sedikit lebih dalam, membuat mobil melaju lebih kencang dari kecepatan semula. Ia tak sabar untuk mengetahui kabar terbaru tentang Ghea.


Sementara itu, Leon yang tangah bersiap dengan piyama tidurnya di kejutkan dengan suara ponselnya yang berdering keras.


Ia tolehkan mukanya, menatap layar ponsel yang menampakkan nama asistennya, tangannya yang semula sibuk mengancingkan baju piyama segera beralih meraih benda pipih itu di atas meja.


"Ada apa??" Leon sedikit berfikir, tak biasanya asistennya menelfon di jam istirahat. Dia orang yang disiplin dan sangat tau waktu, ia tak akan mengganggu Leon di jam istirahat kecuali ada sesuatu yang benar-benar penting atau genting yang harus ia sampaikan segera.


Leon mengernyitkan dahinya, mencoba mencari jawab dalam tumpukan pertanyaan yang terlalu banyak.


"Ada apa???" Tanya Leon segera setelah beberapa detik menerka.


"Tuan Leon...... Apa anda kenal dengan seseorang bernama Faruq??" tanya Jack kepada atasannya itu.


Leon mengernyitkan dahinya lagi, seakan pernah mendengar nama itu sebelumnya. Lelaki dengan setelan piyama coklat itu menyelipkan dagu dia antara ibu jari dan telunjuknya.


Sekelebat ingatan tiba-tiba saja melintas. Ya..... Saat di hotel bersama dengan Ghea dan juga teman perempuannya.


"Orang itu ya....." Leon menyadari sesuatu dengan nama itu. Nama yang sudah pernah ia dengar sebelumnya.


"Ada apa memangnya??" Leon bertanya dengan nada malas, ia tak tertarik dengan Faruq sedikitpun. Ia tak ingin mengenalnya.


"Dia meminta untuk bertemu sekarang di club Delima, sudah aku katakan padanya jika anda sedang istirahat dan tak bisa di ganggu." jelas Jack menjabarkan apa yang ia bicarakan dengan Faruq dalam panggilan beberapa waktu lalu.


"Baiklah...." Jawab Leon singkat.

__ADS_1


"Katakan pada manager O, sambungkan pantauan cctv di club Delima kesini!" Lanjut Leon yang merasa sedikit curiga tentang Faruq.


"Baik tuan." Jack mengangguk, lalu mematikan panggilannya dengan sang atasan. Kemudian Jack melanjutkan aktivitasnya dengan menghubungi manager club Delima guna menuruti permintaan Leon.


Selang beberapa menit, Leon yang sedang bersantai di atas ranjang menolehkan pandangan ke arah laptop yang sengaja ia hidupkan di atas meja nakas ketika menyadari ada notif masuk ke dalam laptop miliknya. Leon segera membuka data yang masuk itu, lalu mendapati sebuah tempat terpampang di layar laptopnya.


Leon tersenyum ketika menyadari ada Faruq yang duduk di sebuah kursi. Pantauan cctv itu sudah masuk ke dalam laptopnya, ia bisa melihat gerak gerik lelaki itu yang terlihat sedikit gelisah.


"Mau apa dia????" gumam Leon memperhatikan Faruq sembari memainkan ponselnya. Leon enggan untuk tidur meski rasa kantuk sudah mulai menderanya. Ia masih penasaran dengan apa yang akan Faruq lakukan.


Sementara itu Faruq yang menunggu Leon di tempat yang sudah ia tentukan nampak gelisah ketika menyadari waktu sudah lewat tengah malam. Tak ada tanda-tanda sedikitpun jika Leon akan datang menemuinya.


Ia yakin Leon mengenalnya, tak mungkin jika ia tak tau. Dirinya begitu penting untuk Ghea, pasti wanita itu telah menceritakan tentang dirinya kepada Leon.


Faruq kembali memesan minuman ringan keduanya setelah gelas pertama telah kosong. Waktu berlalu dengan lambat. Faruq berdecak beberapa kali, ia mulai bosan menunggu, sudah lebih dari dua jam dirinya duduk disana. Melihat orang-orang yang sibuk menari dan berjoged dengan gembira.


"Sialan....." Umpat Faruq menghentakkan gelasnya yang telah kosong ke atas meja. Tatapan tajam ia edarkan menjangkau setiap sisi club yang terlihat hitam, hanya lampu putih dan warna warni yang menyilaukan menghiasi beberapa sudut tempat hiburan itu.


Faruq meraih ponsel di saku bajunya, memencet sebuah kontak di sana, lalu meletakkan benda pipih itu ke dekat telinganya.


Suara operator langsung saja terdengar dari dalam panggilan, menandakan nomor yang di tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan.


Faruq kembali berdecak, merasa kecewa dengan Leon. Merasa di sepelekan oleh lelaki itu, ia tau jika kedudukan selalu menopang pemiliknya agar bisa di pedulikan oleh orang lain. Apalah dayanya yang tak memiliki jabatan penting di kantornya.


Faruq bangkit dari duduknya, mengabaikan segelas minuman yang bahkan belum ia minum setetespun.


Faruq meninggalkan club dengan kekecewaan yang begitu mendalam, merasa benci kepada Leon yang tak mengindahkan permintaannya sama sekali.

__ADS_1


Sedangkan dari dalam pandangan Leon, Faruq hanya seseorang yang mencoba untuk membuat masalah dengannya. Ia hanya tersenyum sinis ketika melihat kepergian Faruq. Leon buru-buru mematikan laptop yang sudah ia pantau dari beberapa jam yang lalu. Memandang acuh ke arah benda tipis itu sebelum akhirnya merebahkan diri di atas kasur miliknya.


"Cih..... Orang itu." Decaknya malas, lalu memejamkan matanya yang telah terlampau layu.


__ADS_2