
"Maafkan semua kesalahan saya ya pak.... Semoga bapak bisa tenang di alam sana" Bisik Daren mendekatkan wajah ke telinga pak Martin yang tak merespon sama sekali. Lalu Daren menutup wajah itu dengan penutup kain lagi.
Ada perasaan lega bercampur dengan kesedihan yang lain, setidaknya itu bukan papanya, meski kehilangan pak Martin sama saja sedihnya dengan kehilangan keluarga sendiri.
Daren menyeka air matanya, berjalan kembali ke kursi tunggu di depan ruang UGD.
"Apakah anda keluarga korban kecelakaan?" Tanya seorang suster yang datang menghampiri.
"Iya sus....." ucap Daren menatap sang suster.
"Silahkan isi formulir ini!!" Ucapnya memberikan selembar kertas di atas sebuah clipboard berwarna coklat.
Daren menerima clipboard itu dan mengisi semua data di dalam lembar kertas disana. Lalu memberikannya pada suster yang setia menunggu disana.
"Sebentar lagi pasien akan selesai di operasi dan akan di pindahkan ke ruang inap" Jawab sang suster sembari menerima clipboard itu kembali. Daren mengangguk menanggapi penjelasan sang suster, ada perasaan lega yang membuat Daren merasa nyaman.
"Lalu bagaimana dengan korban meninggal? Apa dia keluarga anda?" Tanyanya lagi.
"Dia.... Dia supir saya, saya sudah memberikan kabar kepada keluarga yang lebih berwenang" Jawab Daren merasa sesak lagi mengingat kematian pak Martin.
"Baiklah..... Saya permisi dulu" ucap sang suster berlalu dari tempatnya berdiri.
"Daren...... Daren......" Panggilan seorang wanita yang berlari manja membuat Daren mengalihkan pandangan padanya, dilihatnya bu Cristine datang tergopoh-gopoh mendekat padanya.
Daren menghela nafas kasar.
Sesungguhnya ia enggan untuk bertemu dengan wanita itu, tapi Bagaimanapun dia adalah orang tua tirinya sekarang.
"Bagaimana??? Bagaimana keadaan papa?" Tanya bu Cristine terlihat panik, matanya beredar kesana kemari, mencoba mencari sosok lain yang harus ia temui.
"Dia masih di ruang operasi, mungkin sebentar lagi selesai dan akan di pindahkan ke ruang inap" Jelas Daren mengulang perkataan suster beberapa waktu yang lalu.
"Pak Martin......" Daren tertunduk lesu.
__ADS_1
"Pak Martin meninggal" ulang Daren memberi kabar buruk.
Wanita itu menutupkan telapak tangan pada mulutnya.
"Kenapa malah Martin sih???" Gumamnya dalam hati, ada ekspresi tak puas yang Cristine berikan, namun tak tertangkap oleh pandangan Daren yang terfokuskan pada lantai keramik di bawah sepatu kerjanya.
Tak lama berselang seorang dokter dan suster keluar bersamaan dari ruang UGD. Mendorong sebuah ranjang pasien yang sebagian tubuhnya telah berbalut dengan perban.
Daren sedikit lega saat melihat wajah ayahnya di pembaringan, setidaknya ia masih punya kesempatan untuk bersama dengannya beberapa waktu lagi. Segera Daren dan bu Cristine mengekor suster yang mendorong ranjang pasien menuju sebuah lorong untuk mengantarkan pak Morgan.
Daren menatap tubuh papanya yang penuh dengan luka, suster membaringkannya di ranjang kamar inap, meletakkan infuse dan juga memasang berbagai alat untuk mendeteksi kestabilan detak jantung dan yang lainnya.
Setelah suster memberikan instruksi dirinya pergi meninggalkan pak Morgan, Daren dan juga bu Cristine yang sedari tadi lebih banyak diam.
Selepas kepergian suster dan juga dokter dari ruangan, Daren mendudukkan diri di tepi ranjang, menatap lelaki setengah tua yang sudah mulai beruban. Ia genggam jemari papanya, seketika dingin mengalir di telapak tangan Daren. Matanya meremang seketika.
"Ada urusan apa sebenarnya papa pergi ke Villa Permata??" Tanya Daren tanpa menolehkan pandangannya sedikitpun.
Bu Cristine tau pertanyaan itu di tujukan untuknya meski Daren tak mengatakannya secara langsung.
"Aku sudah tau kebusukan kamu, jangan menyebut dirimu ibu di depanku!!! Kamu bukan ibuku Cristine" Daren berkata pelan, menekan setiap kata-katanya, menggambarkan emosi yang ia tekan kuat-kuat.
"Apa maksudmu nak??? Selama ini kau anggap ibu apa??" Cristine mendengus kesal menatap tubuh Daren yang merunduk di tepi ranjang.
"Cih..... Gak perlu berdrama di depanku, Aku sudah tau akhir cerita yang sedang kau mainkan" Daren tak mau kalah dengan bu Cristine.
"Pergi dari sini!!! Aku tak butuh kamu" Bentak Daren mengalihkan pandangan ke arah wanita yang berdiri di bagian tepi kanan ranjang.
"Aku punya hak untuk menunggu pak Morgan" Cristine mulai terpancing emosi dengan perkataan anak tirinya.
"Kamu hanya seorang istri, lebih berhak aku sebagai anaknya. Pergi!!!!" Bentak Daren, suaranya tak begitu keras, namun cukup menggema di ruang inap Vip itu.
Dengan kasar bu Cristine mengangkat kakinya tinggi-tinggi, bergegas keluar dari ruangan itu. Menekan semua emosi yang menggunung di ubun-ubunnya.
__ADS_1
Sesampainya di luar, ia raih ponsel dari dalam tas tangan miliknya, mencari sebuah kontak dan melakukan panggilan pribadi.
"Hallo....." Sapa seorang lelaki dalam panggilan telepon Cristine.
"Jemput Ibu sekarang!!! Kamu tuh ya.... Kerjanya kurang becus, si Morgan masih hidup tauk" Omel Cristine pada anak kandungnya, tatapan tajam ia hunuskan ke arah tembok putih di hadapannya. Merasa benci karena rencananya gagal, juga Daren yang kini mulai berani melawannya secara terang-terangan.
Tak lama setelah bu Cristine pergi, Ghea sampai di rumah sakit, ia langsung menanyakan kamar inap papanya di meja resepsionis, lalu bergegas menuju kamar yang di tunjukkan oleh suster.
GLEK.....
Pintu terbuka dengan pelan, Ghea menyerobot masuk ke dalam ruangan, menatap papanya yang terbujur tak sadarkan diri di atas ranjang. Tubuh yang mulai kurus itu berbalut perban di sana sini sekarang, beberapa luka lecet ringan di biarkan terbuka menampakkan noda putih yang terlihat perih.
Mata wanita itu seketika meremang, Hidungnya mulai mampat dan nafasnya kian sesak.
Daren yang melihat kedatangan adiknya segera memeluk sang adik, Gheapun menghambur ke pelukan sang kakak yang memberinya tumpuan untuk ia menumpahkan semua kesedihannya.
Daren tepuk-tepuk punggung sang adik, mencoba memberinya ketenangan dengan tepukan yang teratur. Namun wanita yang baru saja menempuh perjalanan jauh itu masih saja terlena dengan kesedihannya.
Tubuhnya terguncang hebat dalam pelukan Daren.
"Padahal tadi siang papa masih sempat membalas pesan yang aku kirimkan kak" Ratap Ghea saat sudah sedikit lega oleh tangisnya.
"Tenanglah!!! Kita kan nggak tau kapan kecelakaan akan terjadi. Tapi kakak fikir ada seseorang yang sengaja melakukan ini" Jelasnya menatap kosong jendela kamar yang tirainya masih terbuka.
"Siapa kak???" Tanya Ghea penasaran.
"Cristine......"
"Cristine....." panggil pak Morgan dengan suara yang lemah.
Sedangkan wanita yang di panggil itu tengah mengendarai mobil Brio bersama anaknya untuk pulang.
"Kenapa rencana kita gagal. Kita harus menyusun rencana lain sekarang" Keluh Cristine menggigit bibir bawahnya sedikit kuat. Mencoba mengurangi amarah yang mulai menghinggapi hatinya.
__ADS_1
"Lelaki itu beruntung saja ma, bukan kita yang salah merencanakan kecelakaan itu" Hibur Roy, berharap mamanya tenang dan tak terlalu berambisi.