
Rasa rindu kepada papanya sudah mulai mengusik hati lelaki yang terlihat gagah dengan celana hitam dan kemeja berwarna putih miliknya. Hanya kepada papanya saja sekarang ia mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya, juga kepada adiknya yang sekarang malah sibuk dengan urusannya.
"Pah......" Panggil Daren begitu ia sampai di ruang tamu yang begitu megah dengan beberapa ornamen yang terpajang di lemari kaca di samping sofa tamu, beberapa foto nampak terpajang rapi di sisi dinding juga lukisan yang terlihat begitu antik menambah kesan elit dari ruangan luas itu.
"Pah......????" Panggilnya lagi, berharap lelaki itu menjawab panggilannya.
Langkahnya ia tuntun masuk, menyusuri lorong yang bisa di bilang luas untuk berada di dalam rumah, beberapa guci besar nampak terpajang rapi di sisi kanan dan kiri lorong tersebut. Guci antik nan berharga mahal tentunya, koleksi pribadi sang empunya rumah.
Daren mengghentikan langkahnya setelah tiba di ujung lorong, sebuah pintu kaca menjadi pembatas antara ruang tamu dan juga teras belakang. Lelaki yang masih mengenakan baju kerjanya itu membuka pintu di depannya, lalu matanya mulai menyusuri setiap sudut taman yang tertata rapi dengan berbagai tanaman juga bunga yang bermekaran disana.
"Pah....." Panggil Daren lagi, tak ia jumpai lelaki setengah baya yang begitu ingin Daren temui selepas lelahnya ia bekerja.
"Kemana papa ini?" Daren menyilangkan tangan di kedua pinggangnya, merasa sedikit bingung dengan keberadaan papanya.
Sejenak kemudian Daren berfikir kemana kiranya papanya berada, biasanya dia hanya duduk santai di sofa tamu sembari menonton siaran televisi kesukaannya, atau sekedar duduk santai di teras belakang.
Daren berinisiatif mencari pak Morgan di kamarnya, bergegas ia menaiki tangga ke lantai dua, menuju sebuah pintu bercat putih yang ada tepat di depan tangga. Daren ketuk pintu itu pelan.
"Pah....." panggilnya lembut.
Tak ada sahutan, ia coba mengetuk lagi dan memanggil papanya dengan lebih keras. masih saja sunyi tak ada suara. Tanpa ba bi bu lagi Daren membuka pintu di hadapannya yang tak terkunci, mencari sesosok nyawa yang begitu ingin ia temui.
"Pah.....???" panggilnya berulang kali. Tak ada jawaban sama sekali, dengan sedikit khawatir ia raih ponsel dalam saku celananya, mencari sebuah nama dalam kontak, lalu menekan tombol hijau di layar, mendekatkan ponsel itu di dekat telinganya.
Tuutt Tuuuttt
Panggilan tak tersambung, Daren kian gelisah sekarang, ia coba mengulangi panggilannya, hasilnya masih sama. Daren berdecak, kekhawatiran mulai menguasai fikirannya. Seketika matanya tertuju pada telephone rumah di sisi ranjang, Daren buru-buru meraihnya, menekan dua digit nomor dari sana.
__ADS_1
"Hallo......" Sapa seorang wanita dalam telephone, itu adalah kepala pelayan di rumah itu.
"Papa pergi kemana?" Tanya Daren tanpa basa basi.
"Tadi supir bilang akan pergi ke villa Permata untuk bertemu janji dengan seseorang"
DEG
Entah mengapa perasaan Daren langsung tak karuan kala itu, ia buru-buru menutup panggilan secara sepihak. Ia tekan dua digit nomor lain dari sana,
"Siapkan mobilku, cepat!!!!" Titahnya dengan nada sedikit kasar.
Kemudian dengan tergesa menuruni tangga, dan berbegas masuk ke dalam mobil Bugatti miliknya yang sudah terparkir tepat di depan pintu. Daren membawa mobil itu melaju kencang menggilas aspal yang terhampar menutupi jalanan. Tujuannya hanya satu, menuju villa Permata untuk memastikan papanya dalam keadaan baik-baik saja.
Semenjak mendengarkan penjelasan dokter beberapa hari yang lalu membuat Daren semakin was was dengan keselamatan papanya, ia yakin jika ibu tirinya itu merencanakan sesuatu untuk merebut semua kekayaan papa. Ia sedang mencari bukti yang kuat untuk menyingkirkan wanita jahanam itu, tapi ia juga harus berhati-hati untuk hal di luar dugaan yang sudah bu Cristine lancarkan untuk menutupi perbuatan jahatnya.
Suara sirine ambulance yang terdengar khas begitu saja membuyarkan lamunan Daren, ia kurangi kecepatan mobilnya, memperhatikan beberapa mobil yang berjalan beriringan mengikuti ambulance.
"Aneh.... Tidak biasanya ada ambulance lewat sini? Ini bukan jalan utama" fikir Daren berargumen. Namun ia tak mau mengambil pusing masalah itu, fikirannya hanya terfokuskan pada papanya saat ini.
DDDDRRRTTTTT
Ponsel Daren tiba-tiba saja berdering, kontak bertuliskan -Rumah- terpampang di layar ponsel Daren. Lelaki itu mengernyitkan dahinya.
"Kenapa Mereka menelfonku??? Tidak biasanya" Gumam Daren merasa bingung.
Dengan sedikit khawatir Daren mendekatkan ponsel pada telinga kirinya.
__ADS_1
"Hallo!! Ada apa??" Tanya Daren masih dalam kondisi mengemudi.
"Tuan Daren....... Tu... Tuan besar.... Tuan Morgan mengalami kecelakaan di tikungan kemboja, menuju villa Permata" ucap seorang wanita yang Daren yakin itu adalah kepala pelayan di rumahnya.
DEG
Jantung Daren seakan berhenti berdetak tiba-tiba, seakan menyadari sesuatu yang ia lewatkan. Dengan cepat Daren menepikan mobilnya ke tepi jalan.
"Apa??? Apa kamu serius?" Tanya Daren begitu panik.
"Iya tuan, sekarang tuan besar sedang di bawa ke RS. Medika di jl. Soepomo tuan, tadi ada seseorang yang menelfon kesini" terang sang pelayan dengan begitu gamblang.
"Baiklah..... Aku akan kesana sekarang" Jawab Daren gugup, lalu ia akhiri panggilannya secara sepihak.
Firasat tak enaknya tadi ternyata terbukti benar, ia memutar balik mobilnya kembali ke arah datangnya tadi, bergegas menuju rumah sakit yang barusan di sebutkan oleh sang pelayan.
Sesampainya di rumah sakit, Daren buru-buru berlari menghampiri ambulans yang tadi sempat di lihatnya di jalan, ya..... Itu memang ambulans yang sama, ia sangat hafal dengan detailnya, ambulans itu terparkir tepat di depan pintu UGD. mata Daren dengan jeli mendongak ke dalam ambulans, tak ia dapati sesuatupun disana. Lalu dengan cepat ia alihkan pandangan ke arah pintu UGD, nampak jelas oleh matanya, seseorang dengan jas hitam yang sudah koyak dengan noda darah tercecer di semua bagiannya.
Seketika mata Daren meremang, ia hafal dengan jas itu, juga sepatu hitam yang lelaki itu kenakan meski sudah samar oleh tanah yang menempel disana sini.
"Papa......" Panggil Daren sembari menyongsong lelaki yang terbaring di ranjang pasien. Baru beberapa langkah ia berjalan, Daren harus kecewa melihat pintu UGD yang tertutup seketika. Ia lihat sosok ayahnya hilang di balik pintu merah besar disana.
Langkahnya terasa berat seketika, namun ia paksakan untuk bisa sampai pada pintu itu.
"Pah....." Rintih Daren pelan.
Kenangan pahit itu begitu saja bergulir di ingatan lelaki yang masih mengenakan kemeja putihnya. Memori saat terakhir ia melihat ibunya, sungguh menyesakkan dada Daren. Ia takut hal itu akan terjadi lagi sekarang. Air matanya mulai deras membasahi pipi, ia belai pintu UGD, meratapi kesedihan atas kecelakaan ayahnya.
__ADS_1