Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 23


__ADS_3

Ia buru-buru masuk ke sebuah taxi yang kebetulan parkir disana. Sambil menundukkan kepalanya Ghea menepuk nepuk orang yang duduk depannya.


"Pak.... Ayo pak jalan....!!!" Pinta Ghea dengan sedikit panik.


Lalu mesin taxi itu segera hidup dan mobilpun meluncur ke jalanan yang cukup padat.


Setelah mobil berjalan skitar 100 meter barulah Ghea merasa lega dan berani mendongakkan kepalanya.


Tapi ia sedikit merasa aneh, karena supir taxi itu menyetir dengan sedikit ngawur, sudah beberapa kali mereka hampir menabrak pengendara lain juga trotoar di pinggiran jalan.


"Pak.... bisa anda menyetir dengan benar" Pinta Ghea yang merasa was was dengan cara menyetir orang itu.


"Kenapa kamu harus memerintahku..... Ini mobilku...." Ucap lelaki itu dengan ucapan yang tidak terlalu jelas.


"Apa orang ini mabuk?" Pikir Ghea seketika setelah mencium bau alkohol yang samar.


Ghea menepuk jidatnya sedikit keras menyadari kebodohannya. Dengan cerobohnya ia memasuki taxi tanpa melihat dahulu supirnya bermasalah atau tidak.


"Berhenti....Hentikan mobil ini!!" Pinta Ghea dengan suara yang sedikit keras.


Lalu lelaki yang mabuk itu menepikan mobilnya berlahan. Setelah dirasa aman, Ghea menelfon nomor telfon yang tertera di dasbord mobil.


"Hallo.... Dengan taxi WAY disini, ada yang bisa saya bantu"


"Salah satu sopir taxi yang aku kendarai sedang mabuk. Bisa kau kesini sekarang, di jalan melati 12" Ucap Ghea dalam panggilan teleponnya. Ghea tak menyangka jika ada supir taxi sebodoh ini, mabuk dalam keadaan sedang online.


"Kamu pasti akan mendapatkan hukuman karena ini pak" Gumam Ghea yang masih berada di dalam mobil.


Ghea memutuskan untuk menunggu tim penyelamat.


Ia sedikit melirik supir taxi yang sedang menyandarkan kepalanya pada setir mobil, sambil menggerakkan tangannya dengan aneh, beberapa kali juga ia terdengar melantur tak jelas.


"Kenapa pakaiannya sangat formal?" Ghea menatap jas coklat yang di kenakan lelaki itu, ada logo brand terkenal yang tercetak di kerah jas milik lelaki itu.


Sangat tak mungkin jika supir taxi mengenakan pakaian semahal itu, brand yang sering mengeluarkan produk dengan harga fantastis. Ghea tebak jas itu berharga minimal 1M.


Lalu mata Ghea juga terpana melihat sebuah jam tangan yang terlihat sangat elegant, ia tak bisa menaksir harga jam itu tepatnya tapi ia fikir jika jam itu harganya pasti di atas 5M. Harga yang sangat fantastis untuk seorang supir taxi.

__ADS_1


"Siapa dia???" Batin Ghea merasa penasaran dengan lelaki yang masih saja melantur dengan kata-katanya.


Lelaki itu menoleh sejenak menghadap Ghea, memperhatikan wanita di belakang kursi pengemudi.


"Siapa kamu??? Sepertinya aku pernah melihatmu" ucap lelaki itu sebelum akhirnya kepalanya kembali tertunduk karena efek alkohol yang ia konsumsi.


"Apa yang dia ucapkan?"


Gumam Ghea yang tak mendengar jelas ucapan lelaki di kursi pengemudi. Matanya memicing tajam mencoba mencari raut muka sang driver. Namun sorot cahaya dari lampu jalan menghalau pandangan Ghea.


Tok Tok Tok


Ketukan di kaca mobil sedikit mengagetkan Ghea yang sedang menaik turunkan layar di ponselnya.


Dilihatnya seseorang berdiri di luar mobil. Ghea buru-buru membuka pintu mobil dan keluar dari dalam.


"Apa anda yang menelfon kami?" Tanya seorang pria dengan seragam taxi WAY.


"Ya...." Ghea mengangguk.


Ghea mengernyitkan dahinya.


"Bos.... Saya tadi lagi mengobrol bersama teman saya, saya lihat wanita ini masuk dan belum sempat saya masuk mobil, tiba-tiba mobil ini berjalan sendiri. Saya mencarinya dari tadi" Ujar bapak itu menjelaskan.


"Mana tanda bukti ini taximu?" Tanya lelaki yang terlihat lebih berwibawa. Lalu lelaki yang mangaku driver itu menyodorkan kartu identitasnya.


"Iya betul.... Jadi betul anda mencuri mobil bapak ini?" Tanya lelaki itu beralih menatap Ghea.


Sedetik Ghea tergagap, ia begitu bingung dengan kondisi yang tiba-tiba berubah runyam.


"Tidak pak.... Lihat, di dalam mobil ini ada seseorang yang sepertinya harus bapak mintai pertanggungjawaban" Ujar Ghea sambil membuka pintu pengemudi.


Seketika tubuh lelaki mabuk itu tersungkur ke atas aspal. Wajah lelaki itu menghadap ke atas sedangkan kedua kakinya masih tersangkut di lantai mobil.


Terlihat jelas sekali wajah tampan yang sedang terbuai dengan mimpi indahnya.


"Aaaa... Dia ya ....." Pekik Ghea kaget ketika tau itu adalah lelaki yang tempo hari ia temui.

__ADS_1


"Siapa lelaki ini?" Tanya sang atasan pada Ghea.


"Entahlah..... Dia terlihat mabuk saat menyetir, aku kira dia adalah driver dari perusahaan taxi anda" Jelas Ghea.


"Baiklah..... Aku akan membawa lelaki ini ke kantor polisi untuk di adili" Jelas sang atasan.


"Ja.... Jangan....." Reflek saja Ghea berkata seperti itu, entah mengapa ia merasa kasihan kepada lelaki di bawah kakinya, lelaki yang baru saja ia ketahui namanya itu.


"Kenapa nona.....???" Tanya lelaki itu curiga.


"Se.... Sepertinya dia tidak sengaja masuk ke dalam mobil ini dan menyetirnya, dia kan mabuk" Ucap Ghea.


"Apa kalian bersekongkol?" Lelaki dengan perawan tinggi besar itu menatap Ghea dengan tatapan penuh ancaman.


"Ti.... Tidak.... Bukan begitu" Ghea menggoyangkan kedua telapak tangannya, berharap lelaki di hadapannya itu faham dengan kejujurannya.


"Lalu apa?" Tanya sang atasan dengan mata yang kian melotot.


"Kamu berusaha menipu kami?" ucap lelaki lain yang berdiri di belakang sang atasan.


Ghea begitu tertekan dengan tatapan ketiga orang itu yang mengintimidasinya dengan ketat. Sudah lebih dari 2 tahun Ghea tak pernah berada dalam situasi seperti sekarang. Tak ada yang berani memberinya tatapan tajam ketika kedudukannya berada di atas.


"Cih..... Aku tak berusaha menipumu.... kalo aku menginginkannya, aku pasti sudah membawa kabur mobil ini. Apa kau tak lihat juga lelaki itu memakai jam tangan mahal yang bisa membeli 20 mobil seperti ini" Jawab Ghea dengan kesal.


Ketiga lelaki itu melihat ke arah jam tangan mewah di pergelangan tangan lelaki mabuk itu. Mereka saling berbisik kemudian.


"Bisa saja jam itu hanyalah barang palsu" Jawab seorang lelaki dengan nada ketus.


"Entah mengapa aku benci dengan orang-orang seperti kalian, memandang buruk pada kebaikan orang lain" Geram Ghea dengan nada yang penuh penekanan di setiap katanya.


"Kamu harus ikut kami ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan semua ini nona" Ucap seorang lelaki dengan jaket kulit berwarna hitam.


Tangan kekarnya sudah hendak meraih lengan Ghea jika wanita itu tak segera menghindar.


"Kalian akan menyesal jika melakukan hal ini kepadaku, aku bisa saja membeli perusahaan taxi milikmu" Ancam Ghea sambil menatap tajam ke arah lelaki di hadapannya.


"Memangnya siapa kamu hei wanita buruk rupa" Ejek seorang lelaki yang memiliki jabatan sebagai driver itu. Kekehannya membuat Ghea menyunggingkan senyum masam.

__ADS_1


__ADS_2