Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 65


__ADS_3

Leon memang berniat menemui Faruq di jam Dua dini hari, ia ingin tau seberapa penting dan seberapa kukuhnya tekad Faruq untuk menemuinya, namun rencananya itu harus ia singkirkan jauh-jauh tatkala melihat Faruq keluar begitu saja dari dalam club. Ia jadi beranggapan jika Faruq hanya bermain-main dengannya.


"Sebenarnya apa yang ingin ia sampaikan?" Pertanyaan itu masih saja terngiang di fikiran Leon, tapi ia mencoba mencampakan hal itu. Jika itu sesuatu yang penting, pasti Faruq akan datang menemuinya lagi.


Sementara itu Faruq yang kesal dengan pertemuannya yang gagal segera membanting pintu mobil dengan keras ketika sampai di halaman rumahnya, menutup gerbang rumah dan bergegas masuk ke dalam, melepas sepatu dan juga jamper miliknya.


"Darimana kamu???" Tanya Alexa yang sudah berdiri bersandar pada rak pembatas ruangan yang memisahkan ruang tamu dengan ruangan tengah.


Faruq menoleh sekilas, menatap wanita yang terlihat cukup sexy dengan lingerine merah muda yang ia kenakan. Faruq menelan salivanya membuang pandangan ke arah lain.


Seandainya itu Ghea mungkin sudah habis di terkam oleh Faruq, memagut setiap inci tubuhnya. Ia sudah sering membayangkan hal itu, namun belum pernah merasakan sedikitpun madu yang membalut tubuh kecil Ghea.


Faruq berjalan begitu saja tanpa mempedulikan Alexa yang berdiri menghalangi jalannya.


"Hey......." Panggil Alexa ketika melihat Faruq hanya berlalu tanpa merespon pertanyaannya.


Faruq menghentikan langkahnya.


"Kenapa tak mau menjawab pertanyaanku?" Tanya Alexa kesal.


"Memangnya kenapa?" Faruq balik Bertanya dengan acuh, ia balikkan badannya menghadap Alexa yang sudah ia lewati dua langkah dari tempatnya berdiri.


Alexa mengalihkan pandangannya ke arah Faruq, mendapati tatapan tak ramah dari suaminya membuat nyalinya menciut seketika. Alexa menundukkan wajahnya, menyembunyikan ketakutan atas tatapan tajam yang Faruq layangkan.


"A..... Aku hanya khawatir dengan keadaanmu." ucap Alexa dengan nada pelan penuh kelembutan.


Faruq tau jika Alexa sebenarnya marah atas kepergiannya malam ini, ia faham dengan tatapan Alexa yang berubah seketika, juga suara Alexa yang bergetar di kerongkongan saat berucap barusan.


"Jangan pedulikan aku!! Aku saja tak pernah peduli denganmu." Jawab Faruq acuh.


"Tapi Fa......"


Belum lunas Alexa berucap, Faruq sudah berlalu dari sana.

__ADS_1


"Aduh....." Alexa menjerit pelan ketika merasa kram di perut bagian bawahnya.


Faruq segera menoleh dan mendapati Alexa tengah mendudukan dirinya sembari memegangi perut.


Faruq berlari menghampiri wanita itu dengan jantung yang berdebar. Meski ia tak pernah mencintai Alexa tapi ia khawatir juga jika terjadi sesuatu padanya, apalagi posisinya yang sekarang ini tengah hamil anak dari Faruq.


"Kamu kenapa??" tanyanya sembari memegang lengan Alexa.


"Tak tau, tiba-tiba perutku sakit bukan main." jawab Alexa sambil mengaduh kesakitan.


Faruq melihat raut muka Alexa, tak ada raut aneh yang ia tampakkan, jelas sekali jika wanita itu menahan sakit yang nyata.


"Ayo kita pergi ke rumah sakit." ucap Faruq yang langsung mendapat persetujuan dari Alexa.


Dengan hati-hati Faruq memapah tubuh Alexa menuju mobilnya, mendudukkan Alexa dengan hati-hati di kursi depan agar bisa memantaunya dengan mudah.


Di sepanjang jalan Alexa tak henti-hentinya mengaduh merasakan sakit yang teramat hebat dalam perutnya. Berkali-kali ia menggedor dasbor mobil membuat Faruq kian gugup mengendarai mobilnya.


"Jangan seperti itu!!! Kasihan bayinya Alexa." Teriak Faruq saat mendapati istrinya tengah mencengkem dengan kedua tangannya. Alexa segera menghentikan gerakannya, mengalihkan kedua telapak tangannya ke arah jok mobil, lalu mencengkeram benda itu dengan kuat.


"Sabarlah! Sebentar lagi kita sampai." ucap Faruq mencoba menenangkan Alexa yang dengan kuat menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi sakit yang mendera.


Faruq buru-buru menghentikan kendaraannya tepat di pintu UGD agar cepat mendapatkan pertolongan. Dengan sigap Faruq berlari membukakan pintu mobil untuk Alexa dan memapah tubuhnya yang tak lagi tegap berdiri, menahan sakit yang kian hebat.


"Dokter!!! Dokter!!! " Teriak Faruq mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Hanya ada seorang perawat yang berjaga disana.


Lelaki itu nampak tergopoh-gopoh ketika mengetahui ada pasien yang datang tiba-tiba. Ia bersigap dengan stetoskop yang ia raih dengan cepat.


"Baringkan disini pak!!!" Sang perawat memberikan himbauan kepada Faruq yang langsung di turutinya dengan cepat.


"Apa yang ibu keluhkan??" Tanya sang perawat sembari memeriksa detak jantung Alexa.


"Sakit dok...." Rintih Alexa dengan air mata yang mangalir di pipinya.

__ADS_1


"Dia sedang hamil." Ucap Faruq dengan khawatir.


"Oh begitu.... Baik pak." Jawab sang perawat ramah.


Lalu datanglah seorang lelaki dengan jas putih menghampiri ranjang pemeriksaan tempat Alexa berbaring.


"Silahkan bapak tunggu di sana pak!!" Ucap sang perawat kepada Faruq.


Faruq memilih menurut dan berlalu dari ruang pemeriksaan. Ia duduk di sebuah bangku yang tersedia disana. Ada sesuatu yang dingin menjalar di pelipisnya. Faruq buru-buru menyekanya dengan lengan baju miliknya, mendapati peluh dingin mengalir disana. Ia begitu was was ketika mendengar Alexa berteriak menahan sakitnya. Ia takut terjadi apa-apa padanya. Ia belum pernah merasa cemas seperti sekarang ini.


Faruq menunggu dengan bimbang, berkali-kali ia melihat jam pada ponselnya, seakan tak berubah angkanya. Seakan waktu terhenti begitu saja.


"Permisi pak, bisa anda isikan data lengkap pasien?" Tanya seorang suster menghampiri Faruq yang mulai jenuh menunggu.


Lelaki yang nampak pucat itu mengangguk, mengiyakan permintaan sang suster. Lalu ia terima sebuah kertas berisikan data yang harus ia isi.


Sejenak ia terheyak mendapati setiap data yang harus ia isi, sungguh ia tak tau apa-apa tentang Alexa. Tanggal lahir, bahkan nama ibu kandung. Ia tak tau. Faruq memilih untuk mengosongi bagian itu. Lalu menyerahkan kertas itu kepada sang suster.


Sang suster mengecek data yang baru saja ia terima. Sedikit terheyak dengan apa yang ia lihat, hampir semua data kosong, hanya nama dan tempat tinggal yang terisi disana, juga status sebagai suami.


"Apa anda tidak tau tanggal lahir istri anda?" Tanya sang suster sedikit bingung.


Faruq menggeleng pelan.


"Apa KTP pasien tdk di bawa??" Tanya suster lagi.


"Tidak sus, saya gugup tadi." Jawab Faruq yang langsung di angguki oleh sang suster.


"Baiklah, Akan saya tanyakan padanya nanti jika keadaanya telah membaik" Jawab sang suster ramah meski ia sedikit bingung dengan status yang Faruq tuliskan.


"Suami istri, tapi tak tau tanggal lahir??" Batin sang suster sembari berlalu dari sana.


Faruq kembali mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu yang tersedia disana. Fikirannya yang sudah kacau dengan masalah Ghea yang tiba-tiba menghilang, kian runyam sekarang. Ia remas kasar rambut pendeknya. Mengeluh dengan keadaan yang kian memburuk sekarang.

__ADS_1


__ADS_2