Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 19


__ADS_3

Sebenarnya Faruq merasa enggan untuk memakan masakan Alexa, tapi karna hujan yang mengguyur terlalu deras, ia tidak sempat berhenti di restoran untuk makan.


"Anggap saja ini ucapan terima kasihku karena sudah mengantarku tadi pagi" Ucap Alexa sambil berjalan ke arah meja dapur dan membuka tudung saji disana.


Dengan sedikit malas Faruq menghampiri Meja makan dan mendapati beberapa lauk tersaji disana. Dengan gagah ia duduk di kursi dan mengambil secentong nasi dengan beberapa lauk sebagai pendampingnya.


Satu suapan langsung masuk begitu saja ke dalam mulut Faruq, beberapa detik kemudian ia merasakan rasa yang sangat familiar di lidahnya. Ia tersenyum tipis.


"Apa kamu yang memasak ini?" Tanya Faruq mencoba mengetes kejujuran Alexa. Ia sangat hafal jika itu masakan bu Ijem yang selalu berjualan di gang depan. Sudah hampir 5 tahun Faruq memakan masakannya, tentu saja ia hafal.


"Iya.... Tentu saja....." Jawab Alexa merasa sedikit bangga dengan dirinya. Senyumnya mekar dengan sempurna.


"Lalu masakan yang tempo hari???" Faruq mencoba menyelidiki sesuatu.


"Itu juga masakanku....." Jawab Alexa dengan mimik muka yang sedikit masam. Nampak sekali mulai ada kekhawatiran yang tersirat di balik senyum yang ia sunggingkan. Alexa tak menyangka jika suaminya begitu sensitif dengan indra pengecapnya.


"Tapi rasanya berbeda, enak yang kemarin" Ujar Faruq sambil meletakkan sendok dan garpu ke atas piring kotor miliknya. Mata berwarna coklat itu menatap Alexa dengan tatapan penuh selidik.


"Ayolah.... Kebohonganmu itu adalah kesalahan besar Alexa" Gumam Faruq dalam hati.


"Aku..... Aku pasti akan memasak seperti yang kemarin untukmu....." Ucap Alexa gugup.


Faruq yang tau kenyataannya hanya tersenyum kecut.


"Oh iya..... Apakah kamu mempekerjakan orang di rumah ini?" Tanya Faruq membalikkan badan ke arah Alexa.


"Ada..... 2 orang cleaning servis dari PT, mereka datang setiap pagi dan pulang saat sore" Jelas Alexa tanpa curiga.


"Baiklah..... Besok aku akan pulang cepat, aku ingin bertemu mereka, pastikan mereka tidak pulang sebelum aku sampai rumah" Titah Faruq dengan tampang wajah sangar.


Alexa menaikan kedua alisnya,


"Apa ada sesuatu??" Tanya Alexa yang mulai mencium aroma kejanggalan dari perintah Faruq.

__ADS_1


"Ti.....Tidak... Bukan seperti itu, aku hanya ingin memperkenalkan diriku saja" Jawab Faruq mencoba menutupi niat terselubungnya.


Alexa hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan santai. Lalu Faruq segera berlalu dari ruang makan.


"Kita lihat.....!!!! Kamu sembunyi pada bayangan siapa Ghea....." Senyum janggal terbit di bibir Faruq ketika mengingat rasa masakan tempo hari yang mirip dengan masakan Ghea.


Faruq masuk ke dalam kamarnya dan segera membersihkan diri, menghanyutkan segala lelah bersama air hangat yang menyiram tubuh kekarnya.


"Ghea..... Kenapa kamu melakukan ini padaku..." Desah Faruq merasa geram dengan sikap Ghea yang menghindar darinya.


......................


"Ghea.... Kenapa dengan dia?" Tanya pak Morgan merasa curiga dengan sikap anaknya yang tiba-tiba tidak kompeten dalam mengurus perusahaan.


Manik mata yang mulai memutih itu bergerak kesana kemari, mencoba mencari sebuah jawaban.


Bu Cristine hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya sambil berjalan mendekat ke arah suaminya dengan sebuah cangkir putih bergambar bunga di kedua sisinya.


Dari awal memang bu Cristine yang secara terang-terangan menolak jabatan yang di berikan kepada Ghea.


Pak Morgan hanya bisa menghela nafas kasar. Ia masih yakin jika feeling tentang Ghea sebagai penerus perusahaan sangatlah benar, hanya saja ia tak mau berdebat dengan istrinya untuk saat ini.


"Minumlah teh ini pa..... Ini sangat bagus untuk kesehatan papa" Ucap bu Cristine sambil menyodorkan secangkir teh seduh pada suaminya.


Tanpa ragu pak Morgan meminum teh itu dengan segera, bu Cristine tersenyum cerah sambil menatap cangkir putih yang seketika kosong.


Bu Cristine duduk di samping suaminya sambil memijit pelan lengan suaminya. Sedangkan pak Morgan hanya termenung menatap rindangnya tanaman semak yang tertata rapi di halaman belakang.


"Aauuuu" Teriak pak Morgan tiba-tiba saat merasakan nyeri yang menjalar di seluruh kepalanya.


Keningnya berkerut kencang, kedua tangannya memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.


"Papa kenapa??" Tanya bu Cristine yang terlihat sedikit panik.

__ADS_1


Ini bukan kali pertama pak Morgan merasakan sakit kepala yang demikian hebatnya. Orang tua itu sudah sering sekali merasakan hal serupa sampai-sampai ia harus pensiun lebih dini dan menyerahkan semua tanggung jawab perusahaan kepada salah seorang ahli warisnya.


"Kepala papa sakit lagi???" Tanya bu Cristine mencengkeram erat lengan pak Morgan.


Melihat anggukan dari suaminya, bu Cristine langsung membawa pak Morgan ke kamarnya dengan susah payah.


"Istirahatlah dulu, aku akan panggilkan dokter agar memeriksa keadaanmu" ucap bu Cristine sambil menyelimuti tubuh ringkih suaminya.


Lalu dia bergegas meraih ponsel di atas nakas, menggukir beberapa kontak disana.


"Hallo dokter Samuel..... Datanglah ke kediaman Morgan sekarang, Kepala pak Morgan sakit lagi" Ucap bu Cristine pada seseorang di dalam panggilannya. Lalu wanita setengah baya yang masih selalu memperhatikan penampilannya itu segera menutup panggilan dan mendekat ke arah suaminya.


"Kamu itu..... Sudah di bilang jangan terlalu memikirkan hal yang berat-berat. Tapi kamu masih saja melakukan itu" Ujar bu Cristine yang duduk di tepian ranjang suaminya.


"Oh iya anak itu...... Apa dia tidak tau sakit yang di derita papanya? Sampai ia harus menciptakan masalah demi masalah" Bu Cristine nampak kesal dengan Ghea.


Pak Morgan hanya termenung di pembaringannya sambil menatap plafon rumah yang seputih susu, tanpa mempedulikan ucapan istrinya sedikitpun.


......................


Bau obat kimia sangat jelas tercium dari semau penjuru mata angin. Bau itu begitu menggelitik hidung pak Morgan yang terlihat santai menjalani pemeriksaan di sebuah klinik kesehatan.


"Bagaimana pak Morgan...?? Apakah anda ingat???" Tanya seorang dokter yang nampak lebih berwibawa dengan jas putih yang ia kenakan.


Namun lelaki dengan rambut yang mulai berhias uban itu hanya terdiam sambil mengerutkan keningnya, Dokter itu tak tahu jika kala itu pak Morgan sedang mengerahkan daya ingatnya semaksimal mungkin, tapi ia sungguh lupa dengan pertanyaan yang di utarakan oleh sang dokter.


"Bagaimana bisa aku melupakan itu" Keluh pak Morgan yang merasa kecewa dengan daya ingatnya yang menurun.


"Jangan terlalu di paksakan pah.... Bisa sakit kepala nanti" Ujar bu Cristine yang duduk tepat di sebelah suaminya.


Pak Morgan hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, namun ia masih belum bisa berhenti untuk mengingat pertanyaan sang dokter.


"Baiklah....." Hela sang dokter yang merasa jika pemeriksaannya sudah cukup.

__ADS_1


__ADS_2