Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 60


__ADS_3

Daren segera melajukan mobilnya menuju perumahan tempat ia tinggal, butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai kesana. Jarak yang lumayan jauh memang, itulah mengapa Daren sering menginap di hotel yang dekat dengan tempat kerja ketika dia sedang banyak pekerjaan.


Saat Daren sampai di depan gerbang rumahnya, ia mengedarkan pandangan ke jalanan di tepi rumah, tak ada nampak mobil Ghea terparkir disana. Daren sedikit heran, pasalnya baru beberapa menit yang lalu Ghea memberinya kabar akan menunggu di luar saja. Ia khawatir akan sesuatu jika datang sendiri.


"Mungkin Ghea belum sampai." Pikir Daren logis saja. Ia tak mau berfikiran yang tidak-tidak. Ia yakin tak akan terjadi sesuatu kepada adiknya.


Daren kembali mengalihkan pandangannya ke arah rumah mewah dua lantai di hadapannya. Ia memencet klakson mobil tanpa ragu. Mendapati seorang security mendekat ke arah gerbang dengan langkah cepat. Membuka gerbang setinggi empat meter yang membatas halaman rumah dengan jalanan.


Daren segera memarkirkan kendaraan di halaman rumah, bergegas masuk dan mencari keberadaan papanya di rumah mewah itu.


"Papa......" Panggil Daren kencang, memori dua hari yang lalu seakan berputar lagi dalam ingatan Daren, memberikan trauma tersendiri pada dirinya.


Ia menghentikan langkahnya yang hendak menuju taman belakang, mengalihkan tubuhnya ke arah meja kecil di samping lemari besar yang berdiri di ruang tamu, meraih gagang telepon yang terduduk rapi disana.


"Hallo....." Sapa Daren setelah menekan dua digit nomor di atas telepon rumah itu.


"Hallo....." Suara wanita terdengar menyahut dari dalam telepon.


"Bi...... Apa papa sudah pulang?" Tanya Daren menatap ruangan sekeliling.


"Tidak tuan, bukankah tuan besar sedang di rawat di rumah sakit saat ini?" Asisten itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari tuan mudanya.


"Ya..... Tapi Cristine membawanya pergi entah kemana." Daren menghelakan nafasnya.


Sang asisten nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal, seakan bingung akan suatu hal.


"Begini tuan..... Nyonya besar meminta saya untuk menyampaikan kepada tuan muda agar merapikan semua baju tuan. Tuan muda di minta untuk pergi dari rumah ini secepatnya."


GLEK


Bagai sebuah tamparan keras yang begitu menghantam, meluluh lantakkan perasaan Daren saat itu juga. Ia letakkan gagang telepon dengan kasar. Nafasnya tersengal tak karuan.

__ADS_1


Apa Cristine benar-benar sudah berani berperang secara terang-terangan sekarang. Mengapa dia begitu tega memperlakukan dirinya seperti ini. Kejahatan apa yang mereka perbuat? Selama ini Daren dan juga Ghea selalu bersikap baik meski perasaan menentang kebaikan mereka.


Apa ini balasan atas setiap amarah yang selalu mereka tekan untuk menghormati ibu tiri mereka. Daren menggebrak meja telepon dengan keras, membuat vas bunga oleng dan menggelinding jatuh ke lantai.


PRANG....


Suara keras itu tak menggemingkan Daren sama sekali, ia masih bertahan dengan amarah dan tatapan tajamnya yang ia hunuskan ke jendela kaca di ruangan itu.


Daren berlalu keluar dari rumah itu dengan langkah lebar yang ia tapakkan kasar di atas paving rumahnya. Ia menghampiri mobilnya dan masuk ke dalam mobil dengan amarah yang masih memenuhi perasaannya.


"Dasar wanita terkutuk..... Aku akan membunuhmu Cristine." Ancam Daren menatap tajam kaca dasbor mobil.


[Tak usah ke rumah besar, Cristine tak ada disana. Kamu pulanglah saja!!]


Daren mengirim pesan kepada Ghea.


Lalu lelaki yang masih di rasuki amarah itu mencari sebuah kontak dalam ponselnya, tanpa ragu mengaktifkan panggilan padanya.


"Hallo!!!" Sapa Roy santai.


"Memangnya ada apa kau menanyakan keberadaanku?" Roy tersenyum dengan ejekan yang berarti.


"Tuan.... Ini berkas yang harus anda tandatangani" Suara seseorang yang terdengar samar di telepon, memberikan petunjuk untuk Daren tau keberadaan Roy saat ini.


"Apa kamu tau dimana Ghea?" Tanya Daren mencoba mengalihkan pembahasan agar Roy tak curiga.


"Tidak.... Mungkin dia sedang meratapi nasibnya yang malang." Ucap Roy terkekeh mengejek kekalahan Ghea.


"Apa maksudmu??" Daren merasa ada yang janggal dengan ucapan adik tirinya. Keningnya berkerut seketika.


"Tanyakan saja pada adikmu!!" Jawabnya masih dengan tawa mengejek. Lalu Roy segera mengakhiri panggilan secara sepihak. Menghampiri kursi kebesaran yang sudah hampir sebulan ia duduki. Mendudukkan dirinya disana sembari tersenyum bangga.

__ADS_1


Perjuangan berat yang selalu Roy lancarkan selama ini akhirnya membuahkan hasil memuaskan sekarang. Hanya dengan itungan hari saja, semua harta yang ia inginkan bisa resmi menjadi miliknya. Keberuntungan sedang berpihak semua padanya, Ia bisa bernafas lega sekarang. Tersenyum manis memandang tumpukan berkas yang membutuhkan persetujuannya.


Sedangkan di tempat yang lain Daren yang merasa geram, meremas ponsel miliknya lalu bergegas menghidupkan mesin, membawa dirinya menghampiri lelaki yang sudah membakar amarahnya.


Daren mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Menuju gedung tinggi yang tak pernah ingin ia injak.


Tak butuh waktu lama untuk Daren sampai disana, ia tutup mobilnya dengan gertakan kasar. Melangkah pasti memasuki gedung bertingkat dengan beberapa security yang menjaga di semua sisi gedung.


Daren masuk menggunakan kartu akses yang blum pernah ia gunakan sebelumnya. Memasuki lift dan bergegas menuju ruangan Roy.


BRAK....


Pintu terbuka dengan keras, Roy dan Jeco yang sedang mendiskusikan sesuatu tersentak melihat kedatangan Daren yang tanpa di undang sudah berada disana. Menatap Roy dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.


Daren berjalan cepat menghampiri Roy yang sedang duduk santai di kursinya.


Meraih kerah baju Roy dan menghantamkan tinju tepat di pipinya. Seketika Roy oleng dan terjungkal bersama kursinya.


Belum berhenti sampai situ saja, Daren kembali meraih kerah baju adik tirinya, menghantamkan bogem besar miliknya pada pelipis Roy sekali lagi. Daren masih hendak menghantam beberapa kali lagi namun lengannya sudah di cekal oleh Jeco yang akhirnya menarik Daren menjauh dari Roy yang meringis menahan pening di kepalanya.


"Jangan ikut campur urusan kami!!!" Geram Daren berusaha melepaskan diri dari cekalan Jeco.


Roy berdiri dengan oleng, menatap nanar ke arah kakak tirinya.


"Kemana kau bawa pergi papa Roy??" Tanya Daren yang masih berusaha meloloskan diri dari asisten pribadi Roy.


"Kenapa??" Roy menyeringai masam sembari mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya.


"Apa kau kehilangan kartu AS mu itu??? Kau dan adikmu bukan tandingan kami lagi sekarang." Roy tak merasa gentar sedikitpun meski sudah merasakan dua tinju keras yang berhasil Daren layangkan di wajahnya.


"Aku tak peduli dengan harta atau kedudukan yang papa miliki, aku hanya peduli dia. Dimana kamu sembunyikan papaku Roy? Katakan atau aku akan membunuhmu!!"

__ADS_1


Daren berhasil lepas dari cengkeraman Jeco, ia kembali menghajar Roy dengan tinjunya yang bertubi-tubi. Membuat Roy yang tak punya basic bertempur merasa tak berdaya di bawah hantaman Daren yang membabi buta.


"HENTIKAN!!!" seseorang berteriak keras di belakang Daren.


__ADS_2