
Ghea bisa saja membalas Alexa dan membalikkan semua ucapannya, tapi tidak untuk saat ini dalam penyamarannya.
"Maaf nona.....Apa maksud non Alexa?" Jawab Ghea datar.
"ALEXA......." Entah sejak kapan tiba-tiba Faruq sudah hadir disana. Membentak Alexa dengan nada yang sedikit keras.
"Kenapa kamu bersikap kasar seperti itu?"
Terlihat jelas sekali jika Faruq sangat marah atas kelakuan Alexa barusan.
"Tapi Fa..... Dia sudah......" Alexa terlihat sangat takut dengan Faruq yang terlihat begitu marah padanya.
"Sudah..... Aku tak mau mendengar penjelasanmu. Aku paling tak suka melihat orang yang memanfaatkan jabatannya untuk menindas yang lain." Hardiknya lagi sebelum Alexa menyelesaikan ucapannya.
Alexa mendengus kesal dan segera berlalu dari sana. Sedangkan Ghea hanya bisa meringis menahan sakit di bawah siku tangan kanannya.
"Kamu tidak apa-apa???" Tanya Faruq mencoba melihat lengan Ghea yang sedari di peganginya.
"Sini aku obati." Pintanya setelah melihat noda darah di sana.
"Tak usah, aku bisa sendiri." Jawab Ghea yang tak ingin terlalu dekat lagi dengan Faruq.
Faruq hanya bisa menghela nafasnya.
..........
"Kenapa kamu masih belum tidur??" Tanya Alexa melingkarkan tangannya pada leher Faruq.
Lelaki itu segera melepaskan kedua tangan Alexa dari lehernya. Ia masih belum bisa menerima sikap manja Alexa kepadanya meski ia telah mengetahui kenyataan bahwa mereka pernah tidur bersama.
"Alexa... Tolong hentikan sikapmu itu padaku, aku tak menyukainya" ucap Faruq dengan nada geram.
Alexa buru-buru melepas kedua legannya, memonyongkan bibirnya tanda kesal.
"Kenapa..... Kamu masih belum bisa bersikap baik padaku?" Gerutu wanita dengan piyama tidur berwarna merah.
"Maaf Alexa aku tak bisa......." jawab Faruq singkat dan acuh.
__ADS_1
"Tapi bukankah kamu menikmatinya kemarin malam" Alexa tersenyum manis, mendudukkan dirinya tepat di sebelah Faruq.
"Untuk masalah itu aku juga minta maaf, aku tak sadarkan diri kala itu" ucap Faruq datar, ia menggeser tubuhnya menjauh dari Alexa.
"Tapi kau begitu menyukainya Fa..... Apa kau tidak menginginkannya lagi?" Alexa tersenyum nakal ke arah Faruq, dan lelaki itu tak bergeming sama sekali.
"Hentikan itu Alexa, atau aku akan mengusirmu dari sini!!" Ancamnya.
"Kamu tidak menginginkanku..... Tapi merayu wanita cleaning servis, ah.... seleramu benar-benar payah Fa" Ejek Alexa terkekeh pelan.
"Cih..... Andaikan kamu tau yang sebenarnya, kamu akan tercengang" Ucap Faruq mengangkat kedua alisnya sembari tersenyum pahit di sudut kiri bibirnya.
"Apa maksudmu.....???" Alexa mengernyitkan dahi menatap lelaki yang sudah berdiri dari sofa tempatnya duduk semula.
"Belum saatnya kamu tau sekarang, dan memang baiknya kamu tak usah tau sampai kapanpun" Ujar Faruq berlalu dari ruang TV.
"Fa......" Panggil Alexa,
Faruq enggan untuk mengindahkan panggilan dari wanita yang tak pernah ia cintai itu, tubuhnya ia bawa ke dalam kamar pribadinya dan merehatkan diri disana. Mulai membayangkan Ghea lagi, masih berharap bisa memiliki wanita itu meski ia tak yakin sepenuhnya.
"Leon....." Gumam Faruq padat. Ia tau kemungkinan besarnya akan kalah melawan lelaki sehebat dia, tapi rasa cintanya kepada Ghea tak ada yang bisa menyaingi.
..........
GLEK
Pintu kamar terbuka cukup pelan, namun masih saja terdengar jelas di telinga lelaki tua yang terbaring di atas kasur miliknya. Morgan menolehkan mukanya mengikuti sumber suara.
Terlihat Daren yang berjalan mendekat ke arahnya dengan senyuman yang ia paksakan. Tanpa ragu Morgan pun membalas senyuman anak lelakinya yang terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna biru muda.
Daren mendudukkan dirinya di tepi pembaringan dan meraih telapak tangan papanya, menggenggam dengan kedua telapak tangannya, mencoba menyatakan rindu dan cinta yang ia simpan.
"Apakah papa tidak sehat?" Tanya Daren pada Morgan, mata sayu nan dalam juga bibir yang mengering melukiskan penderitaan pada raut muka lelaki tua yang sedang menikmati masa santainya.
"Entah kenapa belakangan ini kepalaku terasa pening sampai aku harus berbaring disini seharian" Ujarnya dengan suara yang lemah. Ia tatap ruang kamarnya yang terlihat remang dengan cahaya matahari yang tersaring gorden transparan.
"Apa papa sudah memeriksakan diri ke dokter?" Terlihat kecemasan yang terpancar jelas dari raut muka Daren. Meskipun ia baru beberapa tahun tinggal bersama dengan papanya, tapi ikatan batin mereka tetaplah kuat. Terlebih lagi Morgan adalah sosok lelaki baik yang mau merawat dan bertanggung jawab atas kehidupan anaknya.
__ADS_1
"sudah...... Tapi obat yang dokter berikan kepadaku tak memberikan hasil yang baik" Ujarnya dengan penuh kecewa.
"Oh ya.... bagaimana dengan pelatihan hakimnya?" Tanya Morgan penuh semangat.
Daren tersenyum menatap lelaki beruban yang setengah duduk di pembaringan.
"Baik pah..... Mungkin bulan depan aku sudah mulai menjadi hakim" Senyum cerah terukir jelas pada raut muka lelaki yang sejatinya sudah harus membina keluarga itu.
"Syukurlah..... Perjuanganmu akhirnya bisa membuahkan hasil ya" Morgan tersenyum, merasa bangga dengan prestasi anak lelakinya. Ia tak mau mengandalkan kekayaan keluarga untuk menopang hidupnya.
"Aku akan mengajak papa periksa ke dokter kenalanku, kurasa dia lebih kompeten ketimbang dokter yang biasa papa pakai itu" ujar Daren beranjak dari duduknya. Mencari sweter hangat milik papanya dan segera mengenakannya di tubuh pak Morgan.
"Ayo pah......" Dengan telaten Daren memapah tubuh papanya turun dari pembaringan dan berjalan pelan keluar kamar.
"Daren......"
Kedua orang yang sedang susah payah berjalan ke ruang depan seketika tertegun dengan panggilan dari seseorang yang sudah sangat mereka hafal suaranya. Keduanya menoleh ke arah tangga utama di belakang mereka.
Nampak seorang wanita dengan tergesa menuruni tangga dan menyusul keduanya yang masih termangu di tempatnya.
"Kalian mau kemana???" Tanya bu Cristine sedikit berteriak.
"Aku mau periksain kondisi papa....." jawab Daren singkat.
"Baru kemarin papa periksa dengan dokter Wahyu, dan besok harus kontrol kesana lagi, untuk apa periksa sekarang" Ujar Cristine tak setuju.
"Apakah mau tetap di pertahankan jika pengobatan yang dokter Wahyu berikan tidak efektif?" Jawab Daren ketus, ia mulai merasa kesal dengan mama tirinya itu.
"Tapi seharusnya menunggu sampai pemeriksaan berikutnya, kalo tidak ada efek baru ganti dokter" Ujar Cristine mempertahankan prinsipnya.
"Tidak mah.... Kondisi papa kian parah sekarang" jawab Daren lagi.
"Pokoknya tak boleh..... Mama yang lebih berwenang disini" Bentak bu Cristine.
"Tidak..... Selama masih ada papa, kamu tidak berhak atas apapun di rumah ini" Jawab Daren keras menantang mama tirinya.
Morgan menepuk pundak Daren berlahan. Mencoba menenangkan lelaki yang mulai tersulut amarahnya itu. Daren mengalihkan pandangannya ke arah pak Morgan.
__ADS_1
"Tidak baik jika kalian bertengkar, sebaiknya kita mengalah. Ayo antar aku ke kamar" Ucap pak Morgan pelan, menggenggam erat tangan anaknya, berharap mengerti dan faham maksudnya.
"Tapi pah....." Daren masih berusaha untuk mempertahankan wewenangnya. Namun pak Morgan menggelengkan kepala, menolak keputusan Daren.