
Pandangan tajam ia lemparkan ke arah bingkai bergambar wajah Ghea. Ia tak menyangka jika Papa tirinya akhirnya lebih memilih Ghea sebagai penggantinya ketimbang dirinya. Mungkin akan lain cerita jika Pak Morgan mewariskan kedudukan itu kepada Daren, Anak pertama dari Papa tirinya, itu tak akan membuat Roy merasa kesulitan untuk menyingkirkannya.
"Teka teki permainan mereka sedikit rumit dari yang aku fikirkan" Keluh Roy yang merasa sedikit putus asa atas rencananya.
"Bereskan semuanya, jangan sampai Ghea tau tentang dokumen itu" ucap Roy dengan keras sambil melangkahkan kakinya dengan kasar meninggalkan ruangan Ghea.
......................
"Pah...... Aku pulang" Ucap Ghea yang memang sengaja pulang ke rumah Papanya dahulu.
Lelaki yang umurnya sudah lebih dari setengah baya itu menolehkan pandangannya, meletakkan sebuah majalah bisnis yang sedang ia baca. Pak Morgan tersenyum lebar ketika melihat anak gadisnya yang sudah tumbuh menjadi wanita cantik dengan semua sifat baiknya.
Anak gadis yang ia kenal hanya sampai batas usianya 7 tahun, selepas itu ia tak pernah tau lagi kabar kedua anak dan istrinya, Sampai akhirnya mereka bertemu lagi setelah 13 tahun berpisah, tepat setelah istrinya meninggal.
Keluarga Pak Morgan memang tak pernah menerima ibu Ghea sebagai istri Pak Morgan. Oleh sebab itu Ibu Ghea memilih untuk pergi meninggalkan suaminya yang juga sibuk dengan bisnisnya yang mulai berkembang. Ibu Ghea membawa kedua anaknya kembali ke kampung halamannya. Sampai akhirnya mereka hidup bahagia meski dengan kehidupan sederhana tanpa seorang ayah yang mendampingi.
Perjuangan ibu Ghea benar-benar berat kala itu, tapi berkat anak-anaknya yang bisa di ajak kerjasama, ia merasa beban hidupnya serasa berkurang.
"Bagaimana keadaanmu nak?" Tanya pak Morgan bersemangat.
Ghea melangkah mendekati papanya yang duduk di kursi teras belakang.
"Baik pah..... Papa gimana?" Tanya Ghea sambil mendudukkan diri di kursi rotan.
Belum sempat papa menjawab, nampak mama tiri Ghea sudah berdiri di pinggir pintu teras tempat mereka berada.
Pak Morgan melihat istrinya sejenak, Gheapun melakukan hal yang sama.
"Papa baik kok....." Jawab pak Morgan kemudian sambil tersenyum ke arah Ghea.
__ADS_1
Ada sesuatu yang terasa mengganjal dari pandangan Ghea terhadap papa dan mama tirinya, terlihat dari ekspresi mereka yang terasa absurt bagi seorang Ghea yang selalu memperhatikan segala sesuatu dengan teliti.
"Kamu sudah pulang ya Ghe....... Mau dibikinin minuman apa?" Tanya mama tirinya yang seketika memberikan senyuman setelah ia menunjukkan wajah datarnya beberapa detik yang lalu.
"Nggak usah..... Aku tidak haus" Jawab Ghea acuh sambil mengalihkan pandangannya ke arah deretan bunga yang tertata rapi di taman belakang.
"Baiklah....." Ucap bu Marta terlihat tidak senang dengan sikap yang di tunjukan Ghea kepadanya. Kemudian ia membawa dirinya masuk untuk meninggalkan dua orang di teras itu.
"Anak itu......" Gumam bu Cristine mendengus kesal.
"Apa papa sungguh baik-baik saja?" Tanya Ghea lagi setelah melihat ibu tirinya sudah benar-benar meninggalkan mereka.
Pak Morgan tertegun dengan pertanyaan anaknya, baru kali ini merasa ada seseorang yang benar-benar mengerti tentang dia meski tak ia katakan. Rasa peduli dan perhatian yang hanya bisa di berikan oleh istrinya yang telah tiada.
Pak Morgan menelan salivanya.
Seketika Ghea tertawa melihat tingkah papanya meski ia tau ada sesuatu yang papa sembunyikan dari wajah bahagianya itu.
Ghea masih merasa jika papanya belum bisa terbuka kepada dirinya, waktu 2 tahun hidup bersama masih terlalu singkat untuk mengukirkan kepercayaan penuh kepada anak yang sudah lama terpisah darinya.
......................
Malam sudah cukup larut, Angin dingin berhembus menyibak gorden tipis di jendela kamar Faruq.
Lelaki tampan dengan perawakan gagah bak model itu masih saja asyik menikmati lamunannya yang sudah ia jelajahi sejak satu jam yang lalu.
Khayalan tentang mimpi indahnya yang belum juga bisa terwujud sampai sekarang menari-nari di angan Faruq. Seakan meminta untuk segera di raih oleh sang empunya mimpi.
"Aahh Indah sekali khayalan ini" Faruq mendengus putus asa. Lalu bangkit dari duduknya. Menghampiri jendela yang sengaja ia buka. Ia tatap pohon cemara dan rimbunan semak yang tak nampak warna hijaunya. Hanya hitam, kegelapan malam yang belum juga usai.
__ADS_1
Perlahan ia hirup aroma malam yang selalu memberikan rasa rindu di rongga dadanya.
"Aahh..... Masih sama" Keluh Faruq lagi.
Mata coklatnya menerawang ingatan tentang pertemuan Faruq dengan Ghea kemarin di cafe Melati.
Seketika keningnya berkerut, bola matanya bergerak ke atas dan kesamping, mencoba mengingat momen itu lebih detail.
"Apa betul itu Ghea??" Faruq bertanya dalam hati, dagunya ia tumpukan pada punggung telapak tangannya. Bibir berwarna coklat itu sesekali berdecak lalu perlahan ia gigit bibirnya dengan risau.
"Kenapa dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun?. Kenapa pula ia hanya sendiri? tidak bersama dengan suaminya? Lalu kenapa ia tak datang lagi sore tadi? Apa dia tak mau bertemu denganku?" Pertanyaan pertanyaan itu begitu saja ada di fikiran Faruq, mengantri untuk mendapat jawaban yang pasti.
Sore tadi memang ia kembali datang ke cafe Melati untuk bertemu dengan Ghea sekali lagi. Cafe favorit keduanya saat mereka masih kuliah dahulu, tempat mereka bertemu dan bertukar janji untuk bertemu. Tapi sore tadi Faruq tak mendapatkan Ghea disana, bahkan ia menunggu sampai cafe itu di tutup. Tapi wanita cantik dengan rambut bergelombang itu tak kunjung datang
Semua jawaban yang Faruq miliki terasa samar untuk menjawab semua pertanyaan itu. Entah untuk yang keberapa kalinya Faruq menghela nafasnya.
Tiba-tiba fikirannya yang kalut teringat kemeja putih di almari miliknya, segera ia membuka pintu kayu berwarna hitam itu, dan segera meraih kemeja putih yang memang terlihat mencolok dari semua kemeja miliknya.
Ia endus kemeja itu yang sudah hampir hilang wanginya, tapi Faruq masih ingat betul jika wangi itu sama dengan wangi saat pertemuannya dengan Ghea.
Wangi yang begitu familiar di hidung Faruq tatkala ia bersama dengan Ghea, mungkin itu bukan sekedar parfum, tapi bau tubuh Ghea.
Tiba-tiba saja lelai berpawakan tinggi itu tersenyum manis mengingat masa kuliahnya, saat ia merasa begitu bahagia dan tenang bisa duduk berdekatan dengan Ghea, aroma tubuh Ghea memberikan candu untuknya.
"Tak salah lagi..." Gumam Faruq merasa yakin dengan parfum itu.
Ia perhatikan bekas bibir itu dengan cukup teliti sambil mengingat pertemuannya dengan Ghea.
"Ya.... Itu pasti milik Ghea" Gumam Faruq ketika ia mengingat jika Ghea memang sangat suka dengan warna lipstik nude sejak masih di bangku perkuliahan.
__ADS_1