Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 08


__ADS_3

"Apa mungkin jika Ghea kembali kesini?" Alexa menjambak rambut panjangnya.


Segala sesuatu tentang Ghea mulai menghantui fikirannya, ia ingat betul bagaimana gadis blasteran itu mulai datang ke kehidupannya dan mulai menarik semua kebahagiaan yang seharusnya ia miliki.


Faruq......


Ya.... Lelaki itu adalah pria idaman bagi Alexa. Hampir setiap hari Alexa membuntuti Faruq kemanapun ia pergi. Sampai akhirnya ia tau lelaki idamannya itu dekat dengan Ghea, hatinya begitu sakit kala itu, tapi Alexa berusaha untuk tersenyum dan tetap tegar.


Lagipula itu kesalahannya sendiri yang tak berani mengungkapkan perasaannya kepada Faruq, sampai akhirnya lelaki itu di miliki orang lain.


Lalu entah di sengaja atau tidak, datanglah Ghea ke dalam kehidupan Alexa sebagai seorang teman.


Awalnya Alexa berusaha menjauh dari Ghea ia merasa benci kepada wanita itu, tapi Alexa yang kesepian dan tak mempunyai seorangpun teman, akhirnya ia menerima juluran tangan Ghea yang terlihat tulus ingin berteman dengannya.


Lambat laun Alexa merasa nyaman untuk berteman dengan Ghea dan hubungan mereka kian dekat. Sangat di sayangkan, Alexa masih menyimpan rasa kepada Faruq, dan ia masih berharap bisa mendapatkan Faruq.


Seandainya tidak ada Faruq di antara mereka, pasti pertemanan mereka akan baik-baik saja sampai sekarang, namun perasaan keduanya terlalu mendalam untuk Faruq.


Ah..... Lelaki macam apa Faruq? sampai bisa merebut perasaan dua orang yang saling berteman itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore ketika Alexa terbangun dalam penantiannya. Matanya yang masih sedikit merah langsung menatap halaman kantor Faruq, tak ada satupun kendaraan yang masih terparkir disana.


"Sial..... aku ketiduran. BODOH......" Maki Alexa kepada dirinya sendiri sambil mengetuk-ngetuk kepalanya.


Dengan sedikit gugup ia lajukan kendaraannya menuju rumah. Ia tak tau harus berkata apa ketika dirinya sampai di rumah.


Baru saja sampai depan gerbang, kecemasan Alexa seketika luntur tatkala melihat mobil Faruq sudah terparkir di garasi rumah mereka.


Lalu ia kembali menginjak pedal untuk mengembalikan mobil yang sengaja ia sewa.


Alexa yang merasa butuh hiburan untuk menenangkan pikirannya yang kacau, memutuskan untuk menikmati secangkir cappuccino di cafe tempat ia nonggkrong bersama teman-temannya. Tanpa ia sadari waktu sudah semakin larut, dengan gugup ia memesan sebuah taxi dan segera pulang.

__ADS_1


Rumah terasa sangat sepi dan gelap, hanya ada sinar dari televisi yang menyala di ruang tengah.


"Darimana kamu?" Tanya Faruq ketus tanpa menoleh sedikitpun ke arah Alexa. Matanya yang tegas hanya fokus menatap acara televisi di hadapannya.


Alexa yang berjalan pelan seketika tertegun ketika mendapati Faruq ada di sana. Tidak biasanya Faruq menunggu Alexa ketika ia pulang larut malam.


Alexa merasa sangat senang mendapat pertanyaan seperti itu dari suaminya, tapi ia mengingat hal lain, tentang Faruq yang lebih tertarik kepada wanita yang terlihat cuek dan dingin. Seperti sikap Ghea.


"Apa urusanmu?" jawab Alexa tak kalah ketus sambil berdecak. Matanya yang berbinar menatap ke arah lain. ia harus menyembunyikan ekspresi kegembiraananya agar misinya berhasil


Sontak saja Faruq mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Sesaat Faruq termenung, meski di dalam cahaya remang-remang, Faruq masih bisa melihat betapa cantik dan elok wanita di hadapannya itu. Tapi tentu saja kalah jauh dengan Ghea. Faruq tersenyum simpul saat mengingat wanita yang ia cintai.


Alexa menyadari senyum Faruq meski hanya sekilas, jantungnya berdegup lebih kencang sekarang. Ia sungguh merasa gugup melihat ekspresi Faruq yang dingin tapi begitu mempesona.


"Baiklah.....!!! Lakukan sesukamu" Jawab Faruq datar sambil berlalu dari tempat duduknya.


Alexa merasa sedikit kecewa mendengar jawaban Faruq, bukan itu jawaban yang ingin Alexa dengar dari bibir indah yang selalu ia puja selama ini. Hatinya terasa sakit sekarang, matanya meremang di temaram malam. Ia tatap punggung lelaki pujaannya dengan sayu. Berharap lelaki itu faham dengan keinginan yang terus menekan nalarnya.


Pernikahan yang selalu Alexa impikan akhirnya hanya memberikan luka yang terus terasa perih dan tak pernah kering.


Memiliki lelaki yang ia cintai, tapi hanya sebatas lisan saja, pada akhirnya ia tak punya apapun selain status itu. Bahkan hanya menyentuh salah satu jarinya saja Faruq tak mengizinkan. Nafsu telah membawa Alexa ke dalam pernikahan yang penuh dengan racun.


......................


Langit sore berwarna jingga membawa angan seorang gadis dengan rambut pirang bergelombang terbang jauh ke ingatan masa lalunya.


Matanya yang coklat menatap langit senja dangan tatapan penuh kehampaan. Ingatan tentang sahabat dan cintanya yang begitu manis, seketika berubah menjadi racun dalam ingatannya.


DDDDRRRTTTT


Ponsel pipih dengan wallpaper andromeda itu berdering. Dengan sedikit malas ia dekatkan ponsel pada telinganya yang dingin.

__ADS_1


"Hallo....." Sapanya.


"Apakah kamu masih betah disitu?" Tanya seorang lelaki dengan suara dalam.


"Memangnya kenapa?" Tanya Ghea sambil mengangkat kedua bola matanya malas.


"Papa akhirnya menunjuk Roy untuk menggantikanmu sementara, aku khawatir jika dia tidak berada di pihak kita" Jelas Daren dengan nada cemas.


"Dua minggu lagi aku pasti kembali, kakak jangan khawatir!!" Jawab Ghea santai.


"Tapi Ghe...... Aku juga mencurigai Jeco"


"Mana mungkin....." Sanggah Ghea sembari tertawa.


"Percaya kepada kakakmu ini!!!!" ujar Daren dengan intonasi yang padat.


"Sepertinya kakak serius sekali" Ledek Ghea dengan sedikit senyum yang ia sunggingkan.


Lelaki di sebrang telfon hanya berdecak, ia tak menyangka jika adiknya tak pernah menganggap serius ucapannya.


"Ok! ok! Aku paham kak, aku minta kakak jangan terlibat dalam urusan perusahaan untuk waktu ini jika kakak tidak ingin sesuatu terjadi pada kakak" ucap Ghea berusaha membuat kakak lelakinya tenang.


"Apa maksudmu?" Geraldy tak faham dengan perkataan adiknya.


"Dan satu lagi, jaga dan awasi terus papa. Jangan sampai ada sesuatu terjadi pada kalian berdua" Tatapan Ghea berubah tajam, ia merasa jika Tuhan telah menciptakan dua medan pertempuran untuknya.


Ghea mengakhiri panggilan itu, rasa khawatir yang selama ini ia sembunyikan menyeruak ke dalam fikirannya dalam sekejap. Ia gigit bibir bawahnya dengan cukup kuat. Bola matanya ia edarkan kesana kemari untuk mencari sebuah jawaban dalam angannya. Ghea merasa jika ia memang belum siap untuk berdiri di medan perang sebesar ini.


Ia hanya anak kemarin sore yang kebetulan berada dalam lingkungan indah milik papanya, mentalnya belum cukup matang untuk menerima hempasan masalah seperti ini.


Ghea hembuskan nafasnya dengan kasar seakan ingin menghilangkan kegundahan yang bersemayam di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2