Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 45


__ADS_3

Dokter Miko mulai menghidupkan monitor di sisi ranjang pemeriksaan.


Setelah meminta izin Alexa ia singkab kaos ketat yang ia kenakan, menampakkan perut mulus yang terbilang cukup langsing untuk ukuran tubuh sesintal Alexa, lalu Miko mengoles gel bening ke atas perut Alexa yang rata, dengan perlahan lelaki dengan setelan jas putih itu menempelkan transducer ke atas perutnya, menggerak-gerakkannya ke segala sisi. Mencoba mencari sesuatu yang tersembunyi di dalam perutnya.


"Selamat nona Alexa anda hamil, usia kandungan anda sudah 6 minggu" ucap dokter Miko sembari tersenyum lebar menatap pasien langganannya yang masih terbaring.


Seketika Alexa membulatkan matanya menatap dokter Miko dengan tanda tanya yang begitu saja ia lemparkan pada lelaki di hadapannya. Mulutnya hanya bisa menganga lebar tanpa tau harus berkata apa untuk mengekspresikan sesuatu yang begitu menghimpit rongga dadanya.


"Yang bulat ini adalah bayi anda nona" ucap dokter Miko lagi menerangkan sembari menunjuk monitor yang sudah ia dekatkan ke tepi ranjang.


Wanita dengan rambut hitam itu hanya bisa termangu menatap layar monitor yang memperlihatkan gambar abstrak bagi mata Alexa. Ia fokuskan pandangannya pada sesuatu yang lebih terlihat seperti bulatan baso di antara layar berwarna merah dengan kekontrasan yang berbeda. Sedangkan angannya melayang tak tentu arah, meratapi nasib yang tak tau harus ia apakan.


"Apa benar yang anda katakan dok?" Tanya Alexa dengan nada bergetar. Matanya mulai meremang sekarang.


"Ada apa nona Alexa, bukankah seharusnya senang dengan karunia ini?" Tanya dokter Miko mempertanyakan perasaan Alexa.


Terpaksa Alexa tersenyum mendengar pernyataan dokter Miko, ia tak ingin lelaki dengan jas putih itu tau tentang masalahnya.


"Iya dok..... Saya sangat mengharapkan kabar baik ini" ucapnya dengan senyum manis yang ia sandiwarakan.


Dokter Miko menjelaskan lebih detail tentang kandungan Alexa, menggerak-gerakkan transduser itu sembari menunjukkan bagian-bagian penting yang harus Alexa tau. Setelah di rasa cukup dokter Miko mengelap gel yang merata di seluruh perut Alexa lalu menyuruhnya duduk di kursi pasien.


Sembari membersihkan tangan di wastafel dokter Miko memberi tau makanan yang baik di konsumsi dan tidak baik di konsumsi oleh ibu hamil, ia juga menerangkan tentang batasan-batasan gerakan yang tak boleh Alexa lakukan.


Sedangkan wanita yang sedang di beri wejangan itu hanya terdiam, sama sekali tak menangkap apa yang di dengar oleh telinganya. Fikirannya kacau oleh sesuatu yang di luar dugaannya.

__ADS_1


"Aku hamil?" Kata-kata itu layaknya kaset yang terus di putar ulang dalam fikiran Alexa. Ia tak mengira akan mendengar kata itu begitu cepat, bahkan sebelum ia bersiap atas hal itu.


"Silahkan nona Alexa, ini berkas laporan atas kehamilan anda di sertai scan ultrasonografinya, lakukan pengecekan secara rutin agar anda tau perkembangan janin anda" pesan dokter Miko sembari menyodorkan amplop besar berwarna biru muda kepada Alexa.


Wanita yang semula fokus dengan lamunannya sedikit tertegun mendengar ucapan Miko, dengan sedikit tergagap ia terima amplop itu dan bergegas meninggalkan ruangan dokter Miko.


"Bagaimana bisa??? Anak siapa yang ia kandung???" Pertanyaan itu membuat Alexa menjadi gelisah seketika. Ia gigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menghapuskan kekhawatiran yang menghantam mentalnya.


Alexa berjalan pelan keluar dari klinik pribadi itu, menengok ke kanan dan ke kiri, mencari sebuah taxi untuk bisa membawanya pulang. Namun tak nampak sebuah taxipun di sana, hanya ada beberapa mobil pribadi yang bisa ia pastikan itu milik dokter Miko dan beberapa karyawannya.


Hari memang sudah larut saat Alexa selesai dengan semua pemeriksaannya, jadi sangat lumrah jika banyak taxi yang sudah pulang.


Alexa mengambil ponselnya, membuka sebuah aplikasi di dalamnya, namun internetnya tak berjalan sama sekali. Ia berdecak kesal, menggerutu atas kesialan yang menimpanya berulang kali.


Sedangkan di dalam mobil Faruq memperhatikan gerak gerik Alexa yang nampak tak senang. Feelingnya mengatakan Alexa tak bisa mengakses atau menjumpai taxi untuk membawnaya pulang.


Faruq raih ponsel yang ia letakkan di dasbor mobilnya, menggeser layar bercahaya itu ke atas dan bawah secara bergantian. Faruq berencana memesankan taxi online untuk Alexa, meski bagaimanapun ia merasa kasihan melihat seorang wanita berada di luar sendirian tak tau caranya pulang.


Namun belum sempat ia memesan taxi itu, ekor matanya menangkap Alexa yang entah mengapa ambruk begitu saja. Faruq merasa begitu kaget, ia letakkan ponselnya sembarang, lalu bergegas keluar dari mobil, menghampiri Alexa yang sudah tergeletak di atas trotoar.


"Alexa....." Panggil Faruq mencoba menyadarkan wanita yang masih tergeletak di hadapan Faruq, kemudian lelaki yang nampak gugup itu segera membopong tubuh Alexa, mengangkatnya ke dalam mobil Faruq yang ia parkirkan di pinggir jalan.


CIIITTTT


sebuah mobil hampir saja menabrak kedua orang itu, Faruq membungkukkan badan seakan meminta maaf atas keteledorannya yang menyebrang tanpa menoleh terlebih dahulu.

__ADS_1


"Fa....Faruq..... Alexa....." Gumam seorang wanita yang duduk di kursi pengemudi, jantungnya masih berpacu kencang ketika ia hampir menabrak beberapa detik yang lalu, untung saja ketangkasan mengemudinya lumayan hebat sehingga bisa menginjak pedal rem dalam waktu yang tepat.


Dilihatnya Faruq yang sedang gugup memasukan Alexa ke dalam mobilnya. Ada tatapan cemburu yang jelas terpancar dari matanya.


"Wanita itu......" Geramnya sebelum ia putuskan untuk berlalu dari sana.


Sementara itu Faruq yang tengah gusar mengendarai mobilnya pulang ke rumah, lalu mengangkat tubuh Alexa dari kursi penumpang, membaringkannya di atas sofa ruang tamu.


"Alexa....." Panggil Faruq lagi, namun wanita itu tak bergeming sama sekali.


Di tengah kegusarannya Faruq teringat dengan amplop yang Alexa bawa, ia buru-buru kembali ke dalam mobil dan mengambil amplop berwarna biru muda itu. Membukanya dengan perlahan.


Ia baca baris demi baris kata yang tercetak disana, juga beberapa kata yang sulit untuk di baca. Ia cermati setiap gambar yang tercetak dalam kertas foto yang terlampir disana.


Banyak kata yang sebenarnya tidak ia fahami, tapi dari keterangan keterangan yang tertulis di sana Faruq tau jika Alexa tengah hamil.


"Apa....????"


Lelaki itu kian gusar sekarang, ia tak tau harus berkata apa, harus bahagia atau harus sedih. Ia ingat saat terbangun di samping Alexa tanpa selembar pakaianpun menutupi keduanya.


Faruq berdecak.


"Kenapa harus begini sih...." Desahnya merasa kecewa dengan alur hidup yang menyimpang dari rencana yang telah ia susun sebelumnya.


Ia remas rambutnya dengan keras, merasa takdir telah bermain atas hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2