
"Sudahlah bu, Aku enggan membahas ini." Jawab Faruq menghindari pembasan yang membuatnya tak nyaman.
"Kau ini." Nampak sekali ada kekesalan yang terlihat pada raut wajahnya.
"Bu..... Bisa jagakan Alexa, aku ada urusan lain." pinta Faruq menatap serius wajah ibunya.
"Memangnya kau mau kemana?" bu Jasmin mencurigai anaknya hendak berbuat macam-macam.
"Bekerja bu," Jawab Faruq yang menemukan alasan tepat untuk meredakan kekhawatiran ibunya.
"Oohh..... Baiklah." Bu Jasmin menganggukkan kepalanya.
"Nanti aku jemput sore selepas kerja ya bu." Pesan Faruq sambil melangkah pergi.
"Baiklah....."
Keduanyapun berpisah menuju arah yang berlawanan.
Selama jam kerjanya berlangsung, Faruq tak pernah sedikitpun lupa dengan agendanya selepas pulang kerja, bahkan bisa di bilang jika ia tak begitu konsentrasi dengan pekerjaannya hari ini.
Ia lirik jarum jam di pergelangan tangan kirinya. Mulutnya berdecak, kecewa dengan penglihatannya yang mendapati pemandangan yang seakan tek berubah sedikitpun. Waktu begitu lama dalam perasaan Faruq.
"Faruq..... Kenapa kamu baru sampai halaman ini....??" Tanya seorang lelaki yang berpakaian rapih seperti karyawan yang lain.
"Maaf pak, saya sedang tak fokus." Jawab Faruq jujur sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Tolong jangan bawa masalah di rumah atau dimanapun itu ke kantor ini. Saya tak mau pekerjaan kantor jadi terbengkalai dengan masalah yang sedang kamu hadapi."
Ucap lelaki itu berkata tegas sembari menatapkan mata ke arah Faruq yang terlihat fokus memperhatikan layar laptop di hadapannya.
"Maafkan saya pak, lain kali saya akan bersikap lebih profesional lagi pak." Ucap Faruq pada akhirnya.
Beberapa saat kemudian jam kerja telah usai, Faruq yang memang sudah tak fokus segera beberes dan meninggalkan kantornya dengan tak sabar. Ia bawa dirinya ke sebuah kantor besar di pusat kota Jakarta.
Matanya dengan jeli menatap pintu utama gedung di depannya, memperhatikan dengan jelas setiap orang yang keluar dari sana.
__ADS_1
Satu jam berlalu begitu saja, namun ia tak mendapati sesuatu yang ia tunggu sedari tadi. Pemandangan sekeliling sudah menghitam oleh malam, hanya ada beberapa orang yang masih berjalan keluar dari gedung itu.
Tak lama berselang, nampak seorang lelaki dengan setelan jas putih keluar dari pintu utama dengan di buntuti oleh seorang lelaki yang Faruq yakin dia adalah asisten pribadi lelaki itu.
Dengan tanpa aba-aba Faruq terburu menghampiri lelaki itu yang tak lain adalah Leon.
BBUUGGG
Sebuah pukulan besar begitu saja mendarat di wajah Leon, memberikan rasa sakit yang tak mampu Leon ekspresikan.
Jack buru-buru menjatuhkan map di tangannya, membalas pukulan Faruq dengan tindakan yang sama. Namun lelaki itu seakan tak merasa sakit sedikitpun, ia hanya meringis menatap nanar ke arah Leon dengan senyum masam yang mengukir di bibirnya.
"Kemana Ghea???" Tanya Faruq pelan. Faruq mengulang pertanyaannya dengan nada yg ia tinggikan.menghampiri lelaki yang hanya oleng dengan satu pukulan tangannya. Namun tubuhnya tertahan oleh serangan Jack yang dengan setia melindungi tuannya.
Leon memicingkan matanya, merasa ada yang janggal dengan ucapan Faruq.
"Tunggu dulu!!!"
Leon menghentikan gerakan Jack yang sudah siap menghantamkan tinju berikutnya ke wajah Faruq.
"Dimana kamu menyembunyikan Ghea?" Teriak Faruq lagi, menatap tajam ke arah Leon.
"Aku sudah lama tak pernah bertemu dengannya, aku fikir dia mengabaikan aku demi lelaki murahan sepertimu." Leon mendengus, merasa enggan menatap Faruq yang sudah basah oleh keringat kemarahannya.
"Bohong....!!! Aku tak percaya sedikitpun padamu." Sentak Faruq menantang Leon. Ia yakin jika Leon telah berbuat yang tidak-tidak pada kekasihnya.
"Aku tak mungkin bohong. Mana mungkin aku menyembunyikan seseorang." jawab Leon.
"Tapi..... Terimakasih informasinya, aku akan segera mencarinya. Kita lihat siapa dari kita yang berhasil menemukannya lebih dahulu." Leon begitu menyombongkan kedudukannya di depan Faruq. Lalu Leon segera berjalan memasuki mobilnya, meninggalkan Faruq yang menjadi heran dengan jawaban Leon.
"Jika tidak bersama dengan Leon,,, Lalu kemana Ghea pergi??" fikiran Faruq semakin keruh sekarang, ia tak tau harus mencari informasi kemana lagi.
Dengan lunglai Faruq berjalan memasuki mobilnya, ia tatap pantulan bayangannya pada spion tengah. Menatap betapa tak bergunanya dia. Merasa bodoh dengan kedudukan yang tak bisa ia manfaatkan sama sekali.
"Apa perlu kita bawa kasus ini ke kantor polisi tuan?" Tanya jack mencoba memberikan opininya.
__ADS_1
"Tidak perlu, ini hanya masalah ringan saja." Lalu kemudian Leon tersenyum masam sambil melanjutkan jalannya menuju mobil.
"Kamu kemana Ghe....??" Nada putus asa jelas sekali terdengar dari bibirnya yang bergetar.
Helaan nafas beberapa kali ia hembuskan kasar, sembari menghidupkan mesin mobil dan melajukannya ke sebuah tempat. Dalam perjalanan ia terus saja melamun, memikirkan kekasih hati yang baru beberapa waktu lalu ia temui kembali setelah dua tahun tak pernah bersua.
Butuh waktu lebih lama untuk Faruq sampai di rumah sakit tempat Alexa di rawat, ia tak lupa untuk menjemput wanita yang bersetatus sebagai istrinya itu.
Dengan langkah yang gontai Faruq memasuki kamar tempat Alexa tinggal pagi tadi. Namun ruangan itu telah kosong, tak ada seorangpun disana.
Faruq melirik jam tangan di lengan kirinya, itu sudah jam sembilan lebih. Lelaki yang nampak putus asa itu mencengkeram kepalanya kasar, seakan menyadari suatu kebodohan yang baru saja ia lakukan.
"Sus.... Pasien yang tadi pagi di ruangan ini dimana ya??" Tanya Faruq pada seorang suster yang lewat disana.
"Sudah pulang bersama ibunya pak sore tadi jam enam." Jawaban yang sudah bisa Faruq tebak sebelumnya akhirnya terdengar.
"Baik sus terimakasih." Jawab Faruq lalu berlalu keluar dari sana.
Faruq meraih ponsel di saku celananya, mencari sebuah kontak di dalamnya.
"Hallo bu....." Sapa Faruq saat panggilannya telah tersambung.
"Kamu kemana saja Fa..... Kenapa nomormu tidak aktif dari tadi sore?"
"Apa ibu sudah pulang ke rumah?"
Faruq malah menanyakan hal lain, tidak mempedulikan berondongan pertanyaan yang bu Jasmin lontarkan.
"Ya..... Kami telah pulang ke rumah dengan taxi online." Jawab bu Jasmin dengan sedikit kesal karena kesalahan anaknya.
"Baiklah aku pulang sekarang." Kemudian Faruq mengakhiri panggilannya, meletakkan ponsel di atas dasbor mobilnya, membawa diri pulang ke rumah tempat ia tinggal.
Sedangkan di dalam kamar, Alexa nampak kesal sekali dengan kelakuan Faruq yang jelas tak mempedulikannya sama sekali. Ini sudah jauh dari jam pulang kerja, lalu kemana Faruq pergi empat jam ini?.
Alexa tak menyangka jika ia harus berada dalam situasi seperti ini, ia kira lambat laun Faruq akan jatuh hati padanya, apalagi melihat kemolekan tubuhnya, tak ada lelaki yang akan menolaknya.
__ADS_1
Namun, nyatanya Faruq bukan lelaki seperti umumnya lelaki yang ia ketahui selama ini. Dia jelas sekali berbeda. Ia telah salah menilai Faruq selama ini.