Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 51


__ADS_3

Ia sedikit was was sekarang. Semua bermula ketika beberapa minggu yang lalu Daren mengajaknya memeriksakan kesehatan pada dokter pribadinya.Tentu saja tanpa sepengetahuan Cristine, akan berbahaya jika wanita itu sampai tau. Terakhir ibu tirinya itu menggagalkan rencana Daren untuk memeriksakan kesehatan papanya. Di larang begitu, tidak malah membuat Daren gentar dan mengurungkan niatnya, ia malah semakin bertekad untuk melakukan pemeriksaan itu, ia yakin ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada papanya.


Dan benar saja dugaannya tak meleset sedikitpun. Setelah dilakukan pemeriksaan, tes urin dan juga darah, hasilnya mengejutkan Daren dan juga Morgan, bahkan dokterpun ikut terkejut mengetahui hasil pemeriksaannya sendiri. Ada kandungan racun di dalam urine dan juga darah milik pak Morgan. Racun itu tak terlalu berbahaya, tapi akan menimbulkan masalah jika terus menerus di konsumsi oleh pak Morgan. Untuk efek pertamanya hanya akan menimbulkan pusing yang semakin lama semakin sering, lalu melemahnya daya ingat dan efek paling bahaya adalah lemahnya sistem syaraf pusat yang bisa mengganggu semua sistem kerja tubuh.


Seketika Morgan bisa menebak minum apa yang di konsumsinya setiap hari. Ramuan yang selalu di berikan Cristine dengan berkata jika itu adalah teh herbal kesehatan. Bodohnya Morgan begitu saja mempercayai Cristine tanpa nenaruh curiga sama sekali. Senyumnya getir.


"Apa papa yakin?" tanya Daren memastikan penjelasan papanya kala itu, jelas sekali tersirat kekhawatiran pada wajah anak sulungnya itu.


"Aku bisa menuntutnya jika itu sungguh dia yang melakukannya" Ancam Daren penuh amarah. Morgan letakkan tangan pada pundak anak lelakinya, mencoba memberikan ketenangan padanya.


"Jangan..... Kita sama saja melempar bumerang jika begitu, semua tuduhan itu akan berimbas pada kita sendiri nantinya. Papa akan mencari buktinya pelan-pelan. Kita harus bersandiwara dahulu" jelas Morgan mengatur rencana.


Meski kesal Daren memilih menuruti perintah papanya. Ia harus menghormati keputusan papanya untuk hal itu.


Morgan sangat yakin jika Cristine telah merencanakan sesuatu yang licik untuk menghancurkannya, pasti semua itu karena harta kekayaan miliknya. Harapan untuk bisa hidup bahagia dengan harta jerih payahnya sendiri nyatanya hanya sebuah angan saja. Kini ia tau jika Cristine tak sungguh-sungguh mencintainya, jauh sekali dengan mantan istrinya dahulu, ibu dari Ghea dan juga Daren.


Sebutir air mata mengalir begitu saja melewati lekuk lekuk di pipinya yang telah menua. Ada sebesit senyum yang tersungging di bibirnya yang tak lagi kencang, setidaknya ia tak mengambil langkah yang salah untuk menyerahkan harta miliknya kepada kedua orang anaknya meski mereka baru bertemu beberapa tahun terakhir.


DDRRTTT


Ponsel tipis di saku jasnya bergetar pelan, lelaki tua itu bergegas merogoh saku jasnya dan mengeluarkan benda itu dari dalamnya.


[Papa..... Bagaimana kabar papa hari ini? Apa papa sudah makan?]

__ADS_1


Sebuah pesan begitu saja masuk ke dalam notif ponselnya.


"Ghea....." Gumam Morgan tersenyum penuh kebahagiaan mengingat anak perempuannya itu. Seorang gadis kecil yang dulu sering ia timang sekarang sudah berubah menjadi wanita dewasa yang cantik dan bertanggung jawab, sangat bisa ia andalkan untuk meneruskan perusahaan yang sudah susah payah ia bangun dari awal.


Baginya Daren dan juga Ghea adalah kebanggaannya yang baru, yang bisa menjaga perusahaannya agar tetap berdiri kokoh meski tanpanya.


[Papa baik Ghe..... Kamu bagaimana disitu? Kapan kamu akan pulang?]


Balas Morgan antusias, entah mengapa ia selalu merasa bahagia setiap mendapat pesan dari anak perempuannya itu, ia tatap pemandangan sekeliling yang di penuhi dengan pohon cemara yang menjulang tinggi.


Pertemuan kali ini memang di adakan di Villa pribadi, entah mengapa pak Jimmi mengaturnya seperti itu, mungkin untuk menciptakan suasana santai dan berbeda dari biasanya.


"PAK....." Teriak sang supir terlihat tegang.


"Sepertinya ada masalah dengan mobil bapak" Suaranya bahkan bergetar hebat. Morgan bisa merasakan kekhawatiran itu dari setiap kata-katanya.


"Apa maksudmu???"


Belum juga sempat sang sopir menjelaskan, mobil mereka sudah bergerak tak beraturan dan,


BRAAKKK


Mobil mewah mercedez benz berwarna hitam menabrak besi pembatas di tepi jalan yang menurun.

__ADS_1


Kekhawatiran begitu mengintimidasi kedua orang yang berada di mobil hitam itu, mobil terhempas begitu saja ke dalam jurang, menciptakan suara gaduh penuh dengan kengerian yang mendalam.


Sebagian mobil hancur karena hempasan yang terlalu kuat pada sisi kiri mobil. Teriakan dua orang lelaki dalam mobil itu membawa trauma tersendiri bagi orang yang mendengarnya.


Keduanya terhempas ke dalam jurang bersama mobil mewah yang mereka kendarai, selang beberapa detik darah berceceran di mana-mana seiring dengan menghilangnya suara teriakan pak Morgan dan juga sang sopir. Sebuah tangan nampak terkulai lemas di antara badan mobil yang hancur, dan juga sebuah badan yang remuk terhimpit bamper yang sudah meleyot tak berupa.


Suara riuh besi yang beradu dengan benda lain begitu nyaring di telinga kedua orang yang entah masih sadar atau tidak. Darah terus mengucur dari seluruh bagian tubuh keduanya yang terluka cukup parah, sakit dan perih seakan tak bisa mereka rasakan lagi, terlalu samar atau terlalu pekat rasa sakit itu, sangat sulit untuk dijabarkan.


Jalanan terlihat sangat sepi, tak ada satupun kendaraan yang lewat disana selepas mobil milik pak Morgan terjatuh.


Itu memang bukan jalan utama, hanya jalan kecil untuk menuju sebuah villa di puncak bukit, tentu saja keadaan sepi. Tak ada yang menemukan kedua orang yang sedang di ambang kematiannya itu.


Morgan yang masih tersadar mengerjap beberapa kali, mulutnya terasa sakit dan tak bisa berkata-kata, seluruh badannya bagaikan remuk dan mati rasa, hanya mata yang mengerjap beberapa kali, cairan merah mulai mengalir di kelopak matanya, membuatnya sulit untuk melihat keadaan sekeliling. Yang nampak olehnya hanya sebuah kaki yang terpental jauh dari badannya, rasa lemas seketika menjalar ke seluruh tubuh.


Morgan yakin sekali bibirnya terkoyak cukup dalam, juga pelipis dan juga tangannya, kakinya terhimpit dan tak bisa bergerak. Rasa sakit dan perih menggerogoti setiap inci dari bagian tubuhnya, seakan malaikat maut sedang bermain dengannya. Beberapa detik setelah itu, gelap. Pak Morgan kehilangan kesadaran.


......................


Senja mulai menyingsing di sebagian sisi bumi tempat Daren tinggal sekarang, matahari mulai menenggelamkan dirinya di balik lautan yang tak berujung, menciptakan kemilau sinar jingga yang membawa kehangatan pada setiap insan yang menatapnya.


Daren baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah megah milik orang tuanya yang berada di kawasan elite, seorang security nampak menghampirinya dan mengambil alih kursi pengemudi. Sedangkan Daren bercicit kecil sembari melangkah menaiki anak tangga di depan teras rumahnya.


"Papa lagi apa ya???" Gumam Daren tiba-tiba.

__ADS_1


Sudah lebih dari dua hari ia tak pulang lantaran kesibukannya dengan pekerjaan yang baru saja mulai ia tekuni.


__ADS_2