Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 24


__ADS_3

Ghea segera melepas makeup yang menutup wajah aslinya.


"Aku tidak buruk rupa tau....." Bentak Ghea kesal.


Ketiga orang itu nampak terkejut.


"Waah.... Kamu memang penipu yah" Sahut lelaki lain.


"Ayo ikut kami ke kantor polisi!!!" Kali ini Ghea tak bisa menghindar dari cengkeraman lelaki kekar itu.


Meski sudah memberontak Ghea tak bisa melepaskan genggaman lelaki itu, dia hanyalah wanita dengan fisik yang lemah, tak akan mampu melawan lelaki dengan badan besar bak binaragawan.


Ghea memilih pasrah ketimbang menghabiskan tenaganya dengan sia-sia. Di ikutinya lelaki itu yang menuntunnya masuk ke sebuah mobil, mereka juga membawa Leon ikut serta kedalamnya.


Ghea masih santai saat mereka tiba di kantor kepolisian, dengan ringannya ia langkahkan kaki ke ruang pemeriksaan. Menjawab datar semua yang di tanyakan pihak pemeriksa kepadanya.


"Berikan KTP anda!!" Ucap polisi di hadapannya setelah pemeriksaan sudah separuh jalan.


"KTP saya ada di hotel" Jelas Ghea dengan tatapan putus asa.


"Anda jangan berbohong nona...." Bentak polisi itu.


Ghea hanya menghela nafas lesu.


"Coba bapak telfon saja perusahaan YUC minta agar asistennya datang kesini" ucap Ghea sambil menatap malas lelaki di depannya. Kedua tangannya ia lipat tepat di depan perut yang sudah mulai menuntut untuk segera di isi.


"Memangnya apa hak anda menyuruh saya melakukan itu!!" Polisi itu nampak marah dengan perintah Ghea.


"Bapak ingin masalah ini cepat selesai tidak??? Atau bapak akan menyesal nantinya karena telah memenjarakan orang yang tidak bersalah" Ucap Ghea tanpa rasa takut.


Polisi itu segera mencari nomor perusahaan YUC di internet dan segera menelfon nomor yang tertera disana.


Setengah jam menunggu akhirnya asisten perusahaan YUC datang kesana bersama seorang pengacara dan bodyguard untuk mengawal mereka.


"Mr.Leon....." Teriak lelaki dengan kacamata bulat yang baru saja masuk ke kantor polisi.


Sontak saja para polisi merasa sedikit syok dengan ucapan lelaki itu.


"Siapa lelaki ini??" Tanya seorang kepala polisi sambil menunjuk ke arah Leon yang sedang terkulai lemas di atas meja introgasi.

__ADS_1


"Dia CEO perusahaan YUC pak.... Maafkan kekacauan yang di timbulkan beliau pak. Kami menemukan mobil Mr. Leon berada di jalan Delima, tapi tak nampak beliau disana" Jelas sang asisten.


"Benar kan..... Apa saya bilang..... Anda akan dapat masalah besar jika tak menuruti perintah saya pak" Ghea tersenyum penuh kemenangan.


Sang asisten mengalihkan pandangannya ke arah Ghea, seketika ia tertegun. Menatap wanita cantik dengan semua kedudukan dan kekayaan berdiri di hadapannya.


"Non.... Nona Ghea..... Apa anda terkena masalah karena bos kami?? Maafkan saya" Ucap asisten itu penuh dengan permohonan maaf.


Ghea hanya menganggukkan kepalanya sambil menyuruh asisten itu bangkit dari hormatnya.


Lelaki dengan seragam polisi itu terlihat menciut dengan nyalinya melihat asisten dari YUC bersikap demikian kepada Ghea


"Apa anda juga tidak tau siapa saya?" Tanya Ghea sambil mengangkat kedua alisnya.


Lelaki yang sudah mulai takut itu hanya bisa menggeleng pelan. Ghea segera memberikan kartu nama dari dalam dompetnya.


Seketika lelaki yang semula terlihat gagah dan garang itu menciut, tangannya bergetar ketika ia membaca nama perusahaan di kertas berbentuk persegi panjang itu.


"Ma.... Maafkan kami nona Ghea....." ucap sang polisi.


"Kenapa kau malah meminta maaf kepada wanita ini?" Driver itu mendelikkan matanya.


Satu tamparan begitu saja mendarat di pipi gembul driver taxi itu. Lalu ia tatap kartu nama yang di tunjukkan oleh sang polisi.


"Aku kan sudah bilang, kalo aku bisa saja membeli perusahaan milikmu itu" Ucap Ghea yang merasa sudah kembali ke atas tahtanya.


Tak ada seorangpun yang berani kepadanya sekarang.


"Cih..... Kalian itu.... Hanya takut pada kedudukan dan kekayaan..... Tak tau mana yang salah dan benar" Geram Ghea yang merasa kecewa dengan semua orang disana.


"Perbaiki sikap kalian itu!!!" Ucapnya lagi sambil berlalu dari kantor kepolisian.


......................


"Ghea.... Kau fikir kamu bisa membohongiku dengan akal bulusmu itu?" Gumam Faruq menatap sebuah bingkai bergambar Ghea yang terpajang rapi disana.


Faruq ingat bagaimana ia memojokkan Ghea sore tadi, manatap sorot mata penuh rindu yang sangat ia hafal begitu fasih.


"Hanya kamu yang punya sorot mata seindah itu Ghe..... Bagaimana aku bisa melupakan netra coklat milikmu" Lanjut Faruq yang kembali begumam bagai seorang yang di mabuk kerinduan.

__ADS_1


"Wangi itu....." Senyum Faruq hanya terlukis di sudut kiri bibirnya. Semerbak harum tubuh Ghea masih membekas di penciuman Faruq.


"Harummu itu tak pernah berubah Ghe..... Aku selalu menyukainya" Bisik Faruq pada potret di tangannya. Senyum manis ia sunggingkan tiada henti ke arah wajah yang ia rindukan itu.


Lelaki yang terduduk lesu itu kembali menuang sampanye ke dalam gelas kecil di hadapannya, lalu ia menegaknya dengan begitu nikmat.


Entah sudah berapa botol ia habiskan malam ini, kekacauan hati karena kehilangan Ghea telah merubah cara hidup Faruq.


Ia tak lagi bisa menikmati kebahagiaannya, hanya ada sakit dan sesak yang kian lama kian menghimpit dadanya.


......................


Matahari sudah kian terik memanggang jalanan dan gedung yang terhampar di luasnya bumi, Lelaki dengan jas coklat yang penuh dengan bau alkohol itu baru saja mulai membuka matanya.


Mata biru keabu-abuan itu mengerjap beberapa kali, memandang lingkungan sekeliling.


Ia raih gagang telepon di atas meja nakas, memencet sebuah nomor disana. Lalu ia segera meletakkan gagang itu ke arah telinganya.


"Sus......" Panggil Leon dalam telepon ketika menyadari dirinya berada dalam kamar megahnya.


Tak lama datanglah seorang wanita dengan baju putih berkerah berlari ke arah kamar Leon.


"Tuan Leon......" Ucap wanita itu sambil mengetuk pintu kamar Leon yang bercat hitam.


"Masuk....." Ucap Leon sambil bangkit dari tempat tidurnya.


Wanita setengah baya itupun bergegas membuka pintu dan mendekat ke ranjang tuan mudanya. Ia berdiri tegak dengan pandangan yang ia tundukan ke arah lantai marmer putih di bawah kakinya.


"Semalam siapa yang mengantar aku pulang?" Tanya Leon yang memang ingat tentang mabuknya semalam.


"Asisten tuan Leon yang mengantarnya kesini" Jawab sang wanita dengan suara yang sopan.


"Apa tidak ada seorang wanita yang bersamaku semalam?" Tanya Leon lagi.


Jelas-jelas ia bersama seorang wanita semalam. Apa Jake berusaha membohongi Leon? Rasanya tak mungkin. Sudah lebih dari 15 tahun ia mengabdi kepadanya.


"Tidak tuan. Tuan pulang bersama Jake saja semalam" Jawab wanita itu lagi.


"Baiklah baiklah..... Lanjutkan pekerjaanmu. Aku harus membersihkan diri" ucap Leon yang langsung di turuti oleh wanita pelayan itu.

__ADS_1


"Jake..... Apa aku mabuk semalam?" Tanya Leon yang baru saja memasuki ruang kerjanya.


"Ya tuan...." Jawab Jake yang mengekor Leon sambil membawa map berwarna kuning di tangannya.


__ADS_2