
"Oh Faruq...... Apa benar sekarang?" Dalam hati Alexa meracau tak karuan, ia tak menyangka jika Faruq akan melakukan hal itu padanya.
Dengan gerakan yang cepat Faruq daratkan bibirnya pada leher Alexa yang terpampang tepat di hadapannya, mengecup dan memagutnya dengan cukup brutal.
Alexa yang merasa ada serangan tiba-tiba tak bisa menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Ia gigit bibir bawahnya kuat-kuat, namun.....
"Aaahhhh....." Satu ******* nikmat begitu saja lolos dari bibir Alexa yang sudah ia katupkan rapat-rapat. Sesuatu milik Alexa mulai berdenyut, mungkin Faruq bisa merasakan sesuatu milik Alexa mulai menghangat di paha Faruq.
Faruq begitu puas ketika mendengar ******* itu, beberapa detik kemudian ia melepaskan kecupannya dari leher jenjang Alexa, meninggalkan bekas merah di sana.
"Bagaimana????" Tanya Faruq kemudian sambil menarik diri dari tubuh Alexa.
"Kenapa..... kenapa berhenti Fa???" Racau Alexa dalam hati yang baru saja mulai merangkak menuju syurga.
"Aku tak pantas mendapatkan hal itu darimu, sebaiknya kau simpan saja untuk orang yang benar-benar menghargaimu nantinya" ucap Faruq yang kian menarik tubuhnya menjauh dari Alexa.
Wanita yang sedang merasakan birahi itu hanya bisa melepaskan genggaman tangannya pada kaos yang di kenakan Faruq, entah sejak kapan tangannya itu berada di sana. Alexa sama sekali tak menyadarinya.
Alexa hanya bisa menggigit bibirnya dengan kasar ketika melihat Faruq pergi dari hadapannya, begitu saja meninggalkan dirinya yang sedang di ambang kenikmatan.
"Kamu tega Fa......." ucap Alexa sambil meremas ujung lingerin miliknya.
......................
"Bagaimana kak......??? Aku tak menemukan kejanggalan apapun dalam dokumen-dokumen yang aku periksa" ucap Ghea sambil memasukkan sedotan ke dalam mulut mungilnya. Keningnya berkerut seketika, merasakan dingin es yang ia minum.
Daren ikut mengernyitkan dahinya, ia tak mungkin salah menyelidiki masalah ini.
"Apa kamu tau jika direktur Ari meninggal beberapa hari yang lalu?" Tanya Daren mendekatkan mukanya ke arah adik perempuannya.
Hampir saja minuman di mulut Ghea tumpah keluar saat mendengar pernyataan kakak satu-satunya itu. Namun ia berhasil menahan dan berhasil menelannya dengan susah payah.
Seketika mata coklat itu terbelalak seakan mempertanyakan keseriusan ucapan Daren.
"Ha....???" Mulut Ghea terbuka lebar menuntut Daren untuk mengulangi ucapan yang tidak sepenuhnya terserap oleh otak Ghea.
"Iya..... Direktur Ari mengalami kecelakaan, tapi dari pihak kepolisian mengatakan jika itu bukan murni sebuah kecelakaan. Ada orang yang merencanakan kecelakaan itu" Jelas Daren setengah berbisik.
__ADS_1
Ghea mengernyitkan dahinya, ia mencoba menerka orang di balik insiden itu.
"Siapa menurutmu?" Tanya Daren ingin tau tebakan adiknya.
"Entahlah..... Dia termasuk orang penting di perusahaan kita, pasti banyak orang yang ingin merebut jabatannya itu" Terka Ghea sambil menghela nafas santai.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menggantikan posisi Direktur Ari. Aku akan mengawasi dia" Geram Ghea yang merasa ada sesuatu dengan hal ini.
"Kau benar.... Kita harus kasih pelajaran orang licik seperti mereka" Darenpun ikut geram.
"Apa mungkin ini ada sangkut pautnya dengan Roy???" Tanya Daren yang masih penasaran.
Ghea memonyonkan bibirnya.
"Aku tak tau kak, masalah seperti ini bagiku masih terlalu sulit untuk ku hadapi, bukankah aku masih terlalu kecil?" Jawab Ghea sambil masih memonyongkan bibirnya dengan lucu.
"Hemmbbb" Daren tersenyum masam sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ia tau adiknya itu sedang meminta perhatiannya sekarang.
"Kamu sudah sepantasnya menikah, kamu bukan anak kecil lagi tauk" Ejek sang kakak sambil meraih gelas minum miliknya.
"Harusnya kakak dulu yang menikah, kenapa harus aku" Ejek Ghea balas mengejek.
"Jangan sindir kakakmu begitu, kamu kan tau sendiri....." Daren tak melanjutkan kata-katanya, ia memilih diam dan meminum segelas es susu di hadapanya.
Ghea yang faham dengan kakaknya ikutan terdiam, ia tau kakaknya juga punya masa lalu yang pahit dengan mantan pacarnya, dan dia belum bisa sepenuhnya move on dari bayang wanita itu.
"Sudahlah!!!! Kakak harus segera move on, dan mencari wanita lain untuk kakak nikahi" Ucap Ghea datar.
"Kalo kakak nggak nikah secepatnya, lalu kapan aku akan menikah kak? Aku udah kebelet nikah nih" Ledek Ghea mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa dingin.
"Cih....." Daren terkekeh pelan.
"Lalu kamu mau nikah sama siapa???" Tanya Daren sambil terus terkekeh.
"Bukannya pacarmu nikah sama temanmu....." Ucap Daren menertawakan nasib Ghea yang cukup tragis.
__ADS_1
"Kakak......" Bentak Ghea dengan kesal. Ia memang sering bertengkar dengan kakaknya yang sering membuatnya kesal.
"La.... Lalu.... Bagaimana dengan mereka?" Tanya Daren sambil berusaha untuk menghentikan tawanya.
"Aku sedang membalas dendam pada mereka" Jawab Ghea jujur.
Sontak Daren memegang kepala dengan kedua tangannya, mulutnya menganga.
"Ya ampun..... Kamu kesana hanya untuk membalas dendam padanya???" Tanya Daren tak percaya.
Tanpa ragu Ghea menganggukkan kepalanya sambil cemberut.
"Astaga Ghea....." ucap Daren merasa kesal.
"Tak ku sangka adikku punya dendam sedalam ini....." Keluh Daren sambil berdecak beberapa kali.
......................
"Selamat pagi nona Ghea....." Sapa seorang lelaki tampan dengan wajah khas eropa yang begitu eksotis dengan rahang yang tegas dan kokoh.
Lelaki itu bangkit dari duduknya saat melihat Ghea datang ke arah meja yang sudah di reservasi untuk pertemuan mereka.
"Selamat pagi Mr.Leon Marcelo" Balas Ghea sambil menjabat tangan lelaki gagah itu.
Lalu keduanya duduk di kursi masing-masing. Leon tersenyum sumringah ketika tau Ghea mau menjabat tangannya, sangat jarang sekali ia menerima jabat tangan saat melakukan pertemuan di luar negeri.
Leon memang berencana mengembangkan bisnisnya yang menurutnya terlalu monoton. Ia adalah pemilik sebuah pertambangan batu bara. Memiliki bisnis lain adalah harapan pribadinya dari dahulu. Ia ingin mempunyai suatu bisnis yang ia dapatkan dari kerja kerasnya sendiri, dan bukan dari bisnis milik keluarga.
Keduanya nampak berbincang cukup serius saat itu. Ghea memang memilih untuk berdiskusi langsung dengan para investor besar yang ingin bergabung ke perusahaan mereka. Menurutnya itu akan memberikan kesan tersendiri untuk para investor tersebut.
Setelah satu dua jam berlalu, keduanya nampak selesai dengan diskusinya dan segera menutup semua dokumen yang ada di atas meja.
"Waahhh..... Anda memang wanita pekerja keras ya....." Puji Leon melihat Ghea dengan tatapan kagum.
Merasa sedang di sanjung, Ghea hanya tersenyum singkat untuk menghormati pujian manis itu. Baginya sekarang, pujian adalah tombak bermata dua yang siap menjunjung dan menjatuhkannya sekaligus.
"Aku membaca artikel tentang anda beberapa waktu yang lalu...." ucap Leon tak langsung menyelesaikan kata-katanya.
__ADS_1
Mata Ghea membulat, ia tak menyangka ada artikel semacam itu di internet.
"Apakah betul anda pernah tinggal di kota M?" Tanya Leon antusias.