
"Kenapa Ghe....??" Tanya bu Cristine dengan nada halus yang terdengar cukup lembut. Ia dekati anak tirinya, mencoba menutupi perbuatan liciknya dengan sikap baik yang ia dramakan.
"Jangan berlagak sok baik di depanku, kau bukan ibuku." Jawab Ghea yang merasa jijik dengan drama yang ibu tirinya mainkan.
"Pergilah kalian!!! Aku tak mengenal kalian berdua, jangan membuat kegaduhan di kamarku!" Pak Morgan berkata dengan suara yang masih tersekat sekat, namun ucapannya menjadi perhatian bagi semuanya.
"Jika memang kamu ibu yang baik, harusnya kau jelaskan padanya, bukan malah mengusir kami" ucap Ghea penuh penekanan. Air mata mulai berlinang di pelupuk matanya.
"Apa yang harus kami jelaskan?" ucap Cristine acuh. Ia mulai menyombongkan kemenangannya sekarang.
"Sudah nampak jelas Ghea, apa kamu tak melihat semuanya?" Wanita itu kian mendekat ke arah Ghea. Memberikan intimidasi tersendiri pada keberanian Ghea.
"Kau yang tiba-tiba datang ke dalam kehidupan kami dan merebut semuanya, apa aku salah jika aku berusaha merebut yang seharusnya milikku?" Ucap Cristine pelan, menyembunyikan kenyataan dari pendengaran suaminya yang masih terbaring di ranjang.
Ghea mengaitkan giginya kuat-kuat, berusaha meredam emosi yang siap menelannya bulat-bulat. Kata-kata ibu tirinya sangat menusuk perasaan Ghea. Disatu sisi ia tak mau merebut kebahagiaan orang lain, di sisi yang lain ia tak ingin semua jerih payah ayahnya jatuh pada tangan yang salah.
"Apa kamu menyadari itu Ghea??? Sama seperti Faruq yang telah di rebut oleh sahabatmu sendiri, bukankah kamu ingin merebutnya kembali?"
DEG...
Ghea tertegun, bola matanya membulat. Bagaimana bisa ibu tirinya tau soal itu? Bahkan kakaknya sendiri saja tak tau. Ghea benar-benar menyimpan rapat-rapat rahasia itu.
Melihat ekspresi Ghea yang seperti itu membuat Cristine kian besar kepala, dengan sombongnya Cristine berjalan mengitari Ghea yang terlihat gusar.
"Bagaimana? Apa ingin aku beberkan semuanya?" Tanya Cristine memberi ancaman. Ia lipat kedua tangan tepat di depan dadanya, tersenyum licik menatap Ghea.
Sedangkan Daren yang berdiri di dekat pintu hanya memperhatikan kedua wanita itu sedang berseteru, tanpa mendengar apa yang mereka ucapkan.
"Ghe .... Ayo kita pulang!! Tak ada gunanya kita disini selagi papa belum pulih dari ingatannya" Ajak Daren yang merasa sedikit curiga dengan bau pertempuran di antara keduanya.
Ia hampiri adiknya yang masih terdiam di tempat, menarik lengan wanita itu dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.
"Situasinya semakin rumit sekarang" ucap Daren selepas mereka keluar.
Keduanya berjalan santai merasa putus asa dan kehilangan arah atas kejadian yang menimpa papa mereka. Hanya tinggal papa satu-satunya keluarga yang mereka miliki disana, tak ada orang lain yang benar-benar mereka percaya sekarang ini. Kedudukan membuat mereka buta akan kebaikan semua orang, tak tau mana yang tulus dan mana yang hanya pencitraan.
__ADS_1
Ghea hanya terdiam, sibuk dengan fikirannya sendiri.
"Ghe....." Panggil Daren yang merasa tak mendapat respon.
"Eh...." Wanita itu terperangah dari lamunannya.
"Ya kak ....." Sahut Ghea yang baru saja tersadar.
"Apa yang kamu lamunkan?"
"Wanita itu bisa tau apa yang aku lakukan di kota M, apa mungkin dia memata-mataiku?" Ghea memandang kakaknya, menuntut jawab atas pertanyaannya.
Daren mengangkat kedua pundak dan alisnya, mencoba berkata tak tahu meski tanpa bicara.
Ghea menghela nafas.
Namun Daren mencurigai adiknya telah berbuat sesuatu yang sengaja ia sembunyikan.
"Apa?" Daren bertanya dalam hatinya.
......................
Seorang wanita nampak melongo mendengar penuturan temannya yang menunjukkan sebuah foto dalam ponsel pribadinya.
"Darimana kamu dapat foto itu??" Tanyanya lagi.
"Ssstttt!!!" Desis Tatik menyadarkan teman yang lainnya, semua mata tertuju pada seorang wanita yang sedang berjalan anggun menuju meja mereka.
Semuanya seketika terdiam, hanya hening dengan sedikit suara denting gelas dan juga alat makan yang beradu dengan piring.
"Hay semuanya.... Lama sekali tak jumpa ya," sapa Alexa melambaikan tangan menyapa teman-teman yang sudah lumayan lama tak ia jumpai.
"Hay! ..." Balas yang lain.
Melihat tingkah kawan-kawannya membuat Alexa sedikit curiga, agaknya mereka sedang membicarakan dirinya sebelum ia datang.
__ADS_1
"Kalian lagi ngomongin apa sih? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Tanyanya tanpa ragu.
Alexa dudukkan dirinya di kursi yang memang masih kosong.
"Apa..... Nggak ngomongin apa-apa kok" Jawab Tatik seketika dengan raut muka masam.
Alexa yang sudah sangat faham dengan Tatik seketika merebut ponsel dari tangannya.
"Aaa......" Tatik terkejut dengan tindakan Alexa yang cukup mendadak, ia tak bisa menghentikan tindakannya itu.
"Jangan Lex...... Itu ponselku!!" Tatik berusaha merebut gadget itu dari tangan Alexa, tapi wanita itu cukup gesit untuk menghindari tangan Tatik yang serakah menggapai ke segala arah.
"Pinjam sebentar ...." Ucap Alexa memaksa, sembari ia pencet tombol on di sisi kanan ponsel kawannya itu.
Nampaklah sebuah foto yang seketika membuat Alexa membulatkan matanya yang hitam, mulutnya menganga lebar. Ia fokuskan pandangannya menatap foto yang terpasang di layar ponsel. Benarkah itu suaminya?
"Alexa....." Gertak Tatik sembari merebut benda pipih itu dari tangan Alexa yang seketika mematung. Tapi semua usaha Tatik sudah terlambat kali ini. Alexa sudah mengetahui foto itu.
"Darimana kamu mendapatkan foto itu?" Tanya Tatik yang masih terdiam dengan tatapan yang kosong.
Dengan tanpa berdosa, Tatik menunjuk salah seorang temannya disana. Wanita yang di tunjuk Tatik seketika terbelalak mendapati hal bodoh yang Tatik lakukan.
"Aa .... Aku ... Aku melihatnya malam itu, di hotel BLACK, aku tak sengaja menjumpainya" Jelasnya dengan gelagapan tak karuan. Ia takut penuturannya akan membuatnya dalam masalah.
Alexa menghela nafas. Memberikan raut muka sedih meski hatinya bersorak girang. Ia merasa sangat beruntung sekarang, hal bodoh yang Faruq dan Ghea lakukan telah memberikan kesempatan untuk Alexa.
"Huaaaa..... Kenapa tega sekali mereka. Ghea.... Aku sudah menduga jika dia bukan wanita baik-baik, ternyata beginilah kelakuannya. Pelakor" Umpat Alexa sembari mendramakan tangisannya.
"Kenapa tega dia merebut suami temannya sendiri..... Apalagi sekarang aku lagi hamil, hix hix" Alexa kian menghayati peran yang ia mainkan.
"Hamil..... Kamu hamil Alexa??" Tanya Tatik yang merasa kaget dengan penuturan temannya. Mata dan mulutnya terbuka lebar menatap wanita di hadapannya, begitu juga teman yang lain, nampak memperhatikan Alexa dengan begitu intens. Mereka bergantian menatap wajah dan perut Alexa yang masih terlihat rata.
"Itulah sebebnya aku tidak pernah bertemu dengan kalian" Alexa sengaja mengelus pelan perutnya, merasa bersyukur dengan kehamilannya meski ia sedikit curiga tentang lelaki yang ia jumpai di hotel malam itu.
"Aku yakin wanita itu merayu setiap pria, tak terkecuali suamiku....." Lagi-lagi Alexa menangis tersedu. Teman yang lain kian sedih di buatnya.
__ADS_1
"Pantas saja baju dan juga barang-barangnya brandad semua ya...." Ucap yang lain menimpali ucapan Alexa.
"Tapi kemarin ku baca dia adalah pemilik perusahaan besar di Jakarta" Sanggah yang lain.