
Faruq masih enggan melepaskan Alexa dari pangkuannya, malah dengan sengaja Faruq meletakkan telapak tangannya di atas paha Alexa yang memang sedikit terbuka. Sedangkan ujung matanya menatap Ghea yang terlihat mulai meremang.
Faruq kian senang melihat Ghea dalam keadaan seperti itu, meski ia sangat ingin mengatakan.
"Maafkan aku.... Ghea......" Batin Faruq merasa iba.
"Sini aku suapin....." Tawar Alexa sambil mengambil sesendok nasi goreng yang sudah tersaji di hadapannya.
Tanpa ragu Faruq pun membuka mulutnya dan membiarkan nasi itu masuk ke dalam rongga mulutnya.
"WAAA...... PEDAS......." Teriak Faruq sepontan saat merasa lidahnya mulai terbakar oleh rasa panas yang teramat sangat.
Mukanya memerah seketika. Alexa yang duduk di pangkuan Faruq ikut kaget mendengar teriakan suaminya. Buru-buru ia lari ke dapur dan menuang segelas air es dan memberikannya kepada Faruq.
Lelaki yang tengah di landa rasa pedas itu dengan sigap menyambar gelas tinggi yang di sodorkan Alexa dan segera menegaknya dengan cepat.
"Ada apa dengan wanita itu?" Gumam Faruq merasa kesal dengan perbuatan Ghea.
Sedangkan Ghea yang sudah berlari ke ruang belakang hanya tertawa pelan merasa menang atas sesuatu yang memang sudah ia rencanakan.
................
Udara malam yang berhembus cukup kencang tak jua menggoyahkan Faruq yang masih asyik menikmati seteguk demi seteguk wine di hadapannya, kembali di lihatnya wajah cantik seorang wanita yang masih setia menjadi pengisi bingkai berwarna biru muda miliknya.
senyuman manis terus saja tersungging dari bibir berwarna coklat kemerahan milik Faruq, tatapan sayu dan kepala yang mulai terantuk antuk di atas meja masih saja ia pertahankan.
"Memang kamu wanita sialan Ghea....." Umpat Faruq pada bingkai di tangannya.
"Aku itu sungguh mencintai kamu, tapi kamu mengkhianati janji cinta kita. Aku menikahi Alexa karena terpaksa Ghe...." Faruq menggebrak kasar meja di hadapannya.
Sejenak ia tundukkan wajahnya pada meja kayu bercat hitam, mencoba menetralisir sesak yang mulai menghimpit dadanya.
Terlihat jelas betapa depresinya lelaki itu, tatapan sayu tak berarah ia lemparkan ke sembarang tempat.
"Kenapa kamu malah bersama pria itu...."
__ADS_1
Bayangan tentang Ghea yang tertawa bahagia bersama dengan Leon menari nari di ingatannya.
"SIA*AN" umpat Faruq berusaha menuang minumannya lagi ke dalam gelas, namun botol itu telah kosong.
PRAAANGGG
Botol berwarna bening itu terlempar beberapa meter dan menghantam lantai dengan begitu keras, emosi Faruq meledak ledak kala itu. Dengan langkah yang gontai ia menghampiri pintu kamar dan keluar dari kamarnya. Melanjutkan langkahnya yang rapuh ke arah dapur.
Dari kejauhan Alexa memperhatikan Faruq yang tengah mabuk itu, dirasa cukup berbahaya Alexa segera menghampiri Faruq dan merangkul lelakinya. Dengan kasar Faruq menepis rangkulan istrinya.
"Minggir..... Aku tak menginginkanmu Ghea......" Teriak Faruq geram.
"Aku Alexa....." Rintih Alexa berusaha menggapai lelaki yang tingginya 170an itu. Namun ia hanya bisa meraih sepucuk sweter hitam yang Faruq kenakan.
"Aku juga tak menginginkanmu...... Tak ada seorangpun yang aku inginkan" Teriak Faruq mengibaskan telapak tangannya dengan kasar. Alexa berusaha meraih tangan Faruq yang bergerak tak tentu arah.
"Apa karena aku tidak kaya sehingga Ghea pergi dari ku dan memilih lelaki itu" Faruq mulai menangis dan meratapi nasibnya, pelan Alexa meraih pundak yang mulai terguncang itu dan menenggelamkan wajah Faruq pada pundaknya.
"Aku sangat mencintaimu Fa...... Aku tak akan meninggalkanmu sperti Ghea" Bisik Alexa pada telinga Faruq.
Alexa menyelimuti tubuh Faruq dengan badcover batik yang tergeletak disana, tersenyum menatap tubuh lelaki yang ia cintai.
"Andai bisa setiap malam seperti ini, aku akan sangat senang Fa" Bisik Alexa lembut sambil menahan mata yang mulai meremang. Lalu segera beranjak dan pergi ke arah pintu.
Ekor mata Alexa menangkap wajah tampan Faruq yang terlelap di atas dipan miliknya, ada suatu rencana yang tiba-tiba terlintas di fikirannya saat itu.
................
"Pah..... Apa papa ingat hari ini hari apa??" Tanya Cristine yang nampak sudah rapi dengan dress casual, menambah cantik penampilan saat usianya mulai menua.
Lelaki yang sedang menikmati sepotong sandwich itu menghentikan aktifitasnya sejenak, mencoba memikirkan sesuatu yang hasilnya nihil.
"Aku tak ingat..... Memangnya ini hari apa?" Tanya Morgan, menyelidik.
"Ini hari ulangtahun pernikahan kita pa....." ucap wanita itu terlihat girang.
__ADS_1
"Benarkah?" Morgan hanya tersenyum simpul, ia sedang malas menanggapi keinginan istrinya yang selalu meminta sesuatu setiap hari.
"Katakan kau ingin apa!!!!" Morgan masih menikmati sandwichnya.
"Aku ingin beli rumah..... Bolehkan....." Mata wanita itu nampak berbinar-binar.
"Belilah!!" Jawab Morgan yang sudah mulai bosan dengan tingkah istrinya setiap hari.
Baru 2 minggu yang lalu istrinya mengatakan hal yang sama, juga 2 minggu sebelumnya, Namun Morgan enggan berkomentar apapun. Usianya baru 55 tahun sekarang, ingatannya masih tajam.
Entah apa yang direncanakan wanita itu Morgan pun tak tau. Ia hanya berfikir jika istrinya menginginkan hadiah sehingga dengan bodohnya ia melakukan hal itu.
Cristine melirik ke arah Roy yang berdiri mematung di lorong ruang makan. Lalu mengerlingkan mata ke arahnya.
"Pah......" Sapa Roy seketika menghampiri lelaki yang masih terlihat gagah di usianya yang mulai menua.
Morgan menoleh ke arah anak angkatnya yang sudah mulai ia anggap sebagai anaknya sendiri, terlebih lagi sekarang Roy menggantikan Ghea memimpin perusahaan keluarga mereka. Morgan harus bisa memberikan perhatian lebih agar Roy tak bersikap sewenang-wenang. kepada perusahaan yang telah susah payah ia rintis sejak awal.
"Ada apa????" Tanya Morgan meletakkan pisau dan garpu di tangannya.
"Aku butuh bantuan papa....." Ucapnya dengan nada memelas.
"Memangnya kenapa?" Morgan mengambil segelas air putih lalu meminumnya seteguk.
"Aku ada dokumen perusahaan yang harus papa tandatangani" Ucap Roy dengan wajah polos penuh permohonan.
"Aku sekarang hanya sebagai pemimpin pengganti, jadi ada beberapa hal yang tak bisa ku lakukan, aku butuh persetujuan kak Ghea ataupun Papa sebagai pemimpin yang berwenang" jelas Roy tersenyum manis.
Lelaki dengan setelan jas lengkap itu menyodorkan sebuah kertas berisi deretan huruf yang tersusun rapi disana.
"Memangnya tentang apa?" Tanya pak Morgan sambil meraih kacamata di depannya.
"Pembukaan perusahaan baru pah" Ucap Roy singkat sembari melirik bu Cristine yang tersenyum manis.
Lelaki dengan banyak uban itu mulai mengenakan kacamata berframe hitam miliknya, lalu ia mulai memfokuskan pandangannya ke arah kertas itu.
__ADS_1
"Aduh..... Kenapa nggak kelihatan ini" Pak Morgan melepas kacamatanya, matanya yang kecil memicing untuk memfokuskan pandangannya ke arah frame kacamata miliknya.