Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 29


__ADS_3

Ghea mengalihkan pandangannya ke arah Leon yang entah sudah berapa lama berdiri di sampingnya.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Ghea datar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sebenarnya ia tak ingin ada yang mengganggu untuk saat ini, tapi Ghea tak akan sampai hatinya untuk mengusir lelaki yang sudah ada di hadapannya.


"Kamu terlihat begitu gelisah, apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" Tanya Leon dengan suara yang lembut.


"Tidak..... Aku baik-baik saja kok" Jawab Ghea menyunggingkan senyum manis.


"Kalo kamu menambahkan kata KOK di belakang kata -baik-baik saja-mu itu artinya kamu sedang tidak baik" Jawab Leon menekan kata-katanya.


Ghea melengkungkan senyumnya di salah satu sudut bibirnya.


"Belajar dari mana kamu?" Ghea mengambil sepotong potato di hadapannya.


"Itu kemampuan pribadiku...." Jawab Leon asal.


"Apa yang membuatmu kemari?" Tanya Ghea setelah menelan potato di mulutnya.


"Apa kau ada urusan disini?" Lanjutnya.


"Ya..... Aku memang ada suatu urusan" Jawab Leon sambil menganggukkan kepalanya, ada maksud terselubung yang ia sembunyikan dalam gerakan yang terlihat tabu.


"Apa???" Tanya Ghea lagi, memandang lelaki gagah yang terlihat salah tingkah itu.


"Aku ingin mentraktirmu makan malam. Mau??? Kamu sudah banyak membantuku" Senyum luwes begitu saja terukir di wajah Leon yang terlihat manis dengan tatapan mata yang lembut.


"Baiklah....." Ghea tak menolak sama sekali tawaran lelaki itu, baginya tak masalah membiarkan Leon mentraktirnya sesekali.


"Mau makan dimana?" Tanya Leon mencoba memberikan kesempatan untuk Ghea bisa memilih tempat.


"Disini saja, nggak masalah kan??"


Ghea berkata begitu santai, ia memang sedang malas bepergian saat ini, lagi pula makan bersama Leon bukanlah momen yang menurutnya penting dan tak perlu tersimpan ke dalam ingatannya sebagai kenangan indah. Itu hanya makan malam biasa menurut Ghea.


Berbeda dengan Leon yang ingin membuat Ghea terpesona dengan makan malam bersamanya, ia mulai merencanakan suatu momen indah di otaknya.


Leon melambaikan tangan dengan begitu bersemangat ke arah seorang pelayan yang berdiri di samping meja kasir.

__ADS_1


Seorang Waithers datang dengan membawa sebuah note kecil lalu menyodorkan buku menu kepada keduanya.


Setelah memesan menu yang ingin mereka nikmati Leon meminta diri untuk meninggalkan Ghea sebentar, senyumnya mekar indah sekali.


Ghea yang nampak bingung dengan sikap Leon yang menurutnya sedikit mencurigakan hanya bisa mengangkat kedua pundak dan alisnya, mencoba bersikap masa bodo dengan semua yang akan terjadi.


Memikirkan Faruq sudah membuat fikirannya kacau, ia akan gila jika memikirkan hal hal kecil yang tidak terlalu penting untuknya.


Tak lama seorang Waithers datang menghampiri Ghea.


"Nona Ghea..... Tuan Leon meminta saya untuk mengajak anda ke taman belakang, beliau sudah menunggu anda disana" Jelasnya sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Apa yang di rencanakan lelaki itu?" Batin Ghea mengernyitkan dahinya.


Ghea bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Waithers yang menuntunnya masuk ke taman belakang dengan kolam renang disana.


"Silahkan!!!" Waithers itu menunjuk sebuah meja dengan hiasan lilin dan beberapa bunga yang tertata rapi dengan ibu jarinya.


Mata Ghea mengikuti arah yang di tunjuk oleh sang Waithers, Ghea memastikan dengan isyarat jari tangan dan matanya yang bulat. Waithers itu mengangguk.


Sedetik kemudian Ghea sudah berdiri sendiri di pintu taman yang terlihat remang dengan beberapa lampu sorot yang tak terlalu terang. Cahaya terang hanya ia dapatkan dari sebuah meja yang sepertinya telah di seting seperti itu.


Seumur umur ini pertama kalinya melihat meja seperti ini, ia memang tak pernah makan malam romantis sebelumnya. Ghea tersenyum sesaat.


"Hay....." Sapa Leon yang dalam sekejap sudah berada di belakang Ghea dengan sebuah buket bunga di tangannya.


Leon menghampiri Ghea yang masih termangu disana, memberikan buket itu kepada Ghea dengan senyuman manisnya.


"Hadiah untukmu" ucapnya.


Ghea menerima buket itu dan mencium harumnya, indah dan cantik.


Entah mengapa ia mengingat momen di saat Faruq memberikan sekuntum mawar merah dan mengungkapkan perasaannya, momen indah yang selalu membuat jantung Ghea berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Ah..... Lelaki itu selalu sukses membuat aku salah tingkah" Gemas Ghea dalam hati, ia tersenyum memandang bunga indah yang tertata begitu apik dengan plastik craft berwarna emas di sekelilingnya.


"Apa kau menyukainya?" Tanya Leon saat melihat senyum indah yang tak sengaja Ghea sunggingkan.

__ADS_1


Ghea terkesiap mendengar pernyataan Leon dan seketika melupakan masa lalu yang melintas begitu saja, ia membalik badannya dan segera duduk di kursi yang sudah tersedia di sana.


Tak lama seorang Waithers datang dengan membawa 2 gelas minuman dan juga apetizzer, menghidangkannya di atas meja.


Keduanya mulai menikmati makan malam mereka, saling mengobrol dan bertukar fikiran.


Tak di sangka, Leon adalah lelaki baik nan romantis, ia juga begitu perhatian kepada Ghea, namun semua kebaikan itu tak jua bisa memberikan ruang untuknya singgah di hati Ghea. Wanita dengan rambut ikal itu masih terfokuskan dengan perhatian yang pernah Faruq berikan kepadanya. ingatan itu terus saja datang silih berganti, merusak momen indah yang seharusnya bisa Leon ukirkan untuknya.


"Kenapa kamu selalu datang di ingatanku saat aku berusaha untuk melupakanmu?" Batin Ghea sedikit kesal.


"Apa kau menyukainya?"


"Tentu saja....." Jawab Ghea tersenyum lebar.


Ghea merasa jika Leon punya sedikit rasa padanya, tapi ia tak mau terlalu memikirkan itu, baginya Faruq yang telah di miliki orang lain itu adalah hak nya, ia harus bisa merebutnya kembali walaupun harus menghempaskannya di kemudian hari.


Ghea tak mau jadi salah seorang yang tersakiti di atas kebahagiaan yang lain, semua yang menyakitinya harus ikut merasakan sakit yang ia rasa.


......................


"Kenapa Faruq itu?" Alexa nampak begitu gusar dengan ingatannya tentang Faruq tempo hari.


Fikirannya seketika kacau dengan semua spekulasi yang ia fikirkan sendiri, apa maksud Faruq berubah baik pada Alexa.


"Apa karena malam itu?" Alexa mengingat malam saat ia mabuk di hotel.


"Apa itu sungguh Faruq?" Fikir Alexa lagi.


Namun tiba-tiba mata hitamnya membulat, ia mengingat sesuatu tentang malam itu, ia mabuk dan menghampiri seseorang yang sedang menikmati wine bersama beberapa wanita disana.


Alexa memukul kepalanya sedikit keras.


"Kenapa Xa....???" Tanya seorang kawan.


Alexa hanya menggelengkan kepalanya dan mencoba fokus dengan makanan dan teman-temannya saat ini. Namun ia gagal mengalihkan fikirannya.


Dengan sedikit gusar Alexa menggigit bibir bawahnya, keningnya berkerut seketika.

__ADS_1


"Apa yang terjadi selanjutnya?" Alexa masih mencoba mengingat alur selanjutnya yang hilang dari ingatannya sejak malam itu.


__ADS_2