
Cristine tertegun mendengar penuturan suaminya, ia alihkan pandangan kepada kedua anak tirinya yang berdiri tak jauh dari ranjang.
"Kenapa bukan kamu yang menunggu aku?" Tanya Morgan lagi.
Seketika rencana brilian hinggap begitu saja di fikiran Cristine, ia tak menyangka akan mendapatkan kesempatan sebaik ini sebelumnya.
Dengan suaminya yang amnesia, ia bisa melakukan segalanya sekarang, mengambil semua kekayaan dan juga menghancurkan kedua anak tirinya sekaligus. Piala kemenangan sudah tinggal beberapa langkah di depan Cristine, ia bisa melihatnya dengan jelas. Wanita licik itu tersenyum kecut.
"Suruh mereka keluar, akan aku jelaskan nanti" bisik Cristine pada telinga suaminya.
"Hey.... Kalian.... Keluar sekarang dari kamarku" Pinta Morgan dengan sedikit keras.
"Tapi pa????" Ghea berusaha menolak, namun genggaman tangan Daren menghentikan ucapan Ghea, ia tak melanjutkan kata-katanya.
Dengan amarah Ghea tatap wanita itu yang tersenyum licik menatap keduanya. Ghea menurut ketika kakaknya menarik lengan Ghea keluar dari dari ruangan itu.
Mereka kalah satu poin sekarang.
"Aduh..... Kenapa sih nenek lampir itu harus datang kesini segala" Keluh Ghea yang berjalan di depan kakak lelakinya.
Daren terdiam enggan menjawab omelan adiknya, sudah sejak Ghea kecil ia selalu bersamanya, tentu sudah faham dengan sifat dan tabiat wanita yang mulai beranjak dewasa itu.
Kedua kakak adik itu terdiam, enggan untuk bercakap satu sama lain. Sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
Lelaki yang masih mengenakan kemeja putih kerjanya itu menghela nafasnya, merasa putus asa. Jelas-jelas tadi dia sudah mengusir Cristine dari sana, ia tak mau jika papanya di ganggu oleh perempuan jahanam itu, tapi mengapa sekarang wanita itu malah datang lagi tanpa rasa sungkan sedkitpun menerobos masuk ke dalam kamar pak Morgan.
Ia sendiri tak tau darimana wanita biadab itu mendapatkan info tentang kesadaran pak Morgan. Kemungkinan besar dokter atau perawat disana yang memberitahunya. Tak akan sulit untuk keluarga besar Morgan mendapat pelayanan extra atau perhatian khusus mengingat keluarga besar itu sangat berpengaruh di kota tersebut. Tak ada seorangpun disana yang tidak mengenal pak Morgan dan keluarganya.
Keduanya terduduk lesu di kursi menatap lorong rumah sakit yang mulai ramai dengan orang yang berlalu lalang disana. Rumah sakit memang sudah mulai sibuk, dengan kegiatan pagi, dokter dan para perawat sibuk memeriksa setiap pasien rawat inap disana.
__ADS_1
"Bagaimana selanjutnya???" Tanya Ghea pada akhirnya, ia tolehkan pandangan ke arah kakaknya yang terdiam menatap sepatu kerja miliknya.
Lelaki itu diam, tak bergeming sama sekali dengan pertanyaan adiknya. Ghea menarik pandangannya ke arah lain, menatap plafon rumah sakit sembari menghela nafas pelan.
"Apa urusanmu di kota M sudah selesai??" Tanya Daren yang sebenarnya sedikit kesal dengan adiknya karena masalah itu.
"Sebenarnya itu bukan urusan yang terlalu penting" masih ia tatap plafon putih di atasnya.
"Kontrak dengan perusahaan YUC sudah selesai sejak dua minggu yang lalu" Lanjut Ghea pada akhirnya.
"Cih..... Lantas apa yang kau lakukan dua minggu ini disana?" Daren menatap adiknya, tak percaya dengan apa yang baru saja adiknya utarakan. Dahinya mengernyit dalam.
Ghea menundukkan pandangannya, merasa bersalah dengan semua tindakannya.
"Melakukan sesuatu yang tidak penting??" Tanya Daren dengan bola mata yang membulat. Kini ia tau adiknya belum benar-benar dewasa.
Ghea memainkan kaki untuk menghilangkan kegusarannya mendapati amarah kakaknya. Menghela nafas pelan sebelum akhirnya ia tatap mata kakaknya, menggenggam lengan Daren dengan erat.
Daren menatap kedua bola mata adiknya dalam-dalam, mencari kejujuran yang mungkin saja ia sembunyikan. Lalu mengalihkan pandangan itu ke arah tembok putih yang berjarak tiga meter dari tempat duduknya.
Daren berusaha mengatur nafasnya, meredam emosi yang hampir membara beberapa detik lalu, kalimatnya tidak terdengar jelas, namun Daren langsung faham dengan maksud adiknya, cinta. Ia mengagumi perkataan adiknya, Sungguh pandai wanita itu menyusun kalimat untuk meluluhkannya.
Ya,,,, Memang betul, cinta itu tak pernah penting bagi orang manapun, bahkan orang yang dicintainya, Hanya penting untuk seseorang yang mempunyai rasa cinta itu sendiri. Egois.
"Memangnya siapa??? Kenalin ke kakak!!!" Pinta Daren setelah beberapa menit terdiam.
Ghea menoleh ke arah kakaknya, melihat ekspresi datar Daren, lalu kembali menatap lantai keramik di bawah kakinya. Ia bingung harus menjawab apa sekarang.
"Itu......" Ghea menghela nafasnya, menyerah untuk melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
Mendengar ucapan adiknya yang tak bersemangat membuat Daren menoleh padanya, ia lihat adiknya termenung menatap lantai dengan tatapan kosong.
"Apa bertepuk sebelah tangan??" tanya Daren mengukir sedikit senyuman pada bibirnya.
Memang ekspresi itu yang harus ia tunjukkan untuk menghibur kesedihan adiknya, tiga tahun lalu ia masih bisa menggelitik Ghea untuk menghiburnya, tapi terakhir ini serasa sudah tak pantas melakukan itu pada Ghea. Umur membuatnya harus berkaca, menimbang sebatas apa dan bagaimana harus menghibur diri.
Ghea menggerutu mendengar tebakan kakaknya, ia tatap kakaknya sejenak, menodongnya dengan bibir yang sengaja Ghea monyongkan.
"Bukan begitu..... Dia juga mencintai aku, hanya saja....." Ghea tak berani melanjutkan kata-katanya, akan jadi masalah jika kakaknya tau yang sebenarnya.
Ia akan di marahi habis-habisan karena merendahkan harga diri Ghea, yang sekarang bukan lagi dalam golongan menengah kebawah. Kedudukan dan kebesaran nama keluarga Morgan bisa tercoreng karena perbuatan Ghea yang mementingkan perasaannya.
Akan ada banyak kecaman untuk keluarga itu, apalagi mengetahui Faruq adalah suami dari seseorang. Akan seheboh apa berita itu. Pimpinan AZK corp adalah seorang pelakor, sangat tidak lucu.
Daren menatap adiknya yang berubah murung seketika, seperti ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan darinya.
"Apa?" tanya Daren mulai mengintrogasi, tatapannya berubah serius.
"Aahhh Sudahlah!!! Itu tak penting lagi kak." Ghea mencoba menyudahi pembahasan itu. Mencoba menghindar dari amarah kakaknya lagi.
"Kalian sebaiknya pulang saja!!!"
Belum sempat Daren memprotes ucapan adiknya, tiba-tiba saja Roy sudah berdiri tak jauh dari mereka, menyilangkan tangan tepat di depan dadanya, menatap dua kakak beradik itu dengan tatapan yang tak ramah.
Daren dan Ghea menoleh, menatap lelaki jangkung yang berdiri tepat di depan pintu opname papa Morgan, keduanya berdiri dari tempat duduknya.
"Papa tak ingin di tunggu oleh kalian. Ibu akan menunggu papa mulai hari ini."
Lanjutnya lalu berlalu begitu saja dari sana, menciptakan tanda tanya yang belum selesai tersusun dalam benak Daren dan Ghea.
__ADS_1
Keduanya hanya menganga, dada sesak dan mata meremang, mereka tak tau harus berkata apa. Tapi kemudian Ghea mengikuti adik tirinya masuk ke ruangan opname untuk memperjelas semuanya.
"APA YANG KALIAN KATAKAN PADANYA??" tanya Ghea dengan amarah yang membakar fikirannya.