Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 72


__ADS_3

"Cristine....." teriak Ghea lagi, Cristine sempat mengalihkan pandangan kepada Ghea dengan tatapan tajam penuh permusuhan, namun beberapa detik kemudian ia segera menghilangkan tubuhnya ke dalam mobil van putih milik keluarga Morgan.


"Lepasin.....!!!" Ghea berusaha kian memberontakkan tubuhnya. Namun untuk yang kesekian kalinya usahanya itu berakhir dengan sia-sia.


Ghea kian bingung menanggapi hal ini. Ia benar-benar tak tau harus berbuat apa sekarang. Air mata yang terasa kian panas terus saja mengalir dari pelupuk matanya.


"Kenapa kalian menahanku seperti ini??? Apa salahku?" Tanya Ghea yang tak kuasa menahan emosinya.


Namun kedua orang di sisinya itu hanya terdiam.


"Papa..... Papa......" Teriak Ghea saat melihat mobil yang di kendarai pak Morgan mulai menyala dan melaju begitu saja meninggalkan halaman berpaving di kediaman keluarga Morgan. Diikuti dengan mobil van yang di tumpangi oleh Cristine beserta dengan pengawal pribadinya.


Baru setelah mobil mereka resmi keluar dari rumah itu, kedua pengawal meregangkan tangan mereka, memberi kesempatan kepada Ghea untuk meloloskan diri.


Dengan sekuat tenaga Ghea menendang kaki salah seorang pengawal dan segera melepaskan diri dari keduanya. Berlari ke arah mobil miliknya dan segera melaju dari sana.


Namun lagi-lagi usaha Ghea sia-sia ketika dilihatnya pagar setinggi empat meter di sana telah tertutup rapat.


"Aaah...." Keluh Ghea memukul setir di hadapannya.


Tak kehilangan akal, Ghea buru-buru mencari ponselnya yang ia lempar begitu saja di atas jok samping miliknya.


"Hallo kak....."


Ghea begitu gugup menengok ke kanan dan kekiri, memantau dua orang pengawal yang masih mengejar mobil Ghea.


"Ka.... Aku di rumah papa..... Ada masalah.... Segera kesini!!" Ghea berkata dengan suara yang masih terdengar parau.


"Kenapa kau terdengar begitu gugup??"


Daren masih sempat bertanya kegugupan sang adik, meski ia sudah punya feeling tak enak tentang ini.


"Pokoknya kakak kesini aja kak...." ucap Ghea penuh paksaan.


"Ok!!! Kakak kesana sekarang!" jawab Daren yang langsung bangkit dari duduknya. Bergegas meninggalkan kantor kejaksaan tempatnya bekerja.


Di sepanjang jalan Daren terus saja berfikir tentang kemungkinan yang terjadi di rumah papanya sampai Ghea terdengar begitu gugup dan ketakutan.

__ADS_1


Ia ingat betul semalam Ghea berkata tentang undangan dari Cristine untuknya, agar ia datang kesana guna memenuhi permintaannya menemui pak Morgan.


Ghea sangat gembira dengan itu, terlihat jelas bagaimana ekspresi Ghea saat mengabarkan hal itu padanya.


"Kak..... Cristine menyuruhku menemui papa di rumah." Ujar Ghea yang sengaja keluar dari kamar menemui sang kakak yang asyik bersantai di ruang tengah.


"Benarkah???"


Ekspresi Daren sangat datar, tak ada keterkejutan sedikitpun. Ia masih asyik mengunyah kacang mede yang sedang ia nikmati.


"Kenapa aku tidak??" Tanya Daren masih tak terlalu peduli dengan ucapan Ghea.


"Mungkin.... Papa hanya kangen denganku." Ledek Ghea yang tersenyum ceria menatap kakaknya dengan mata berbinar.


Daren melihat ke arah adiknya sejenak sembari berdecak sebal. Candaan murahan seperti itu sudah tak mempan padanya.


"Aku harus menyiapkan sesuatu bukan.... Sebaiknya membawa apa ya untuk papa??" Ghea nampak bingung dengan hadiah tangan yang ia bawa. Ia berjalan kesana kemari mencoba menemukan ide.


Daren yang terganggu dengan adiknya berdecak lagi, memutar bola matanya.


"Bawa saja buah manggis, ayah suka itu kan...." Daren memberi ide, lalu kembali berkonsentrasi dengan makalah di pangkuannya.


"Sudah sana pergi....!!" Ucap Daren menepuk lengan atas adiknya.


Ghea menurut dan beringsut dari ruang tengah. Menyibukkan dirinya lagi dalam kamar pribadinya.


Sedetik kemudian Daren menyadari sesuatu yang janggal dalam fikirannya, kenapa tiba-tiba sekali ibu tirinya itu meminta Ghea untuk datang menemui papa setelah menyembunyikan papanya dari mereka. Bahkan Cristine dengan tega mengusir Daren dari rumah, juga merebut kepemilikan atas perusahaan AZK Corp dari Ghea.


Semua itu bermula dari kecelakaan pak Morgan di jalan pegunungan waktu itu,


"Sepertinya itu bukan kebetulan." Batin Daren mengernyitkan dahi.


Kecelakaan yang cukup parah itu sepertinya telah di rencanakan oleh seseorang, karena setelah itu semuanya menjadi berantakan, mulai dari pak Morgan yang kehilangan ingatannya dan tak bisa memberikan wewenangnya untuk penyerahan perusahaan. Juga Cristine yang sengaja menyembunyikan Morgan dari Daren dan juga Ghea agar bisa Cristine pengaruhi, mengatakan jika mereka bukan anak Morgan.


Bahkan setelah itu Ghea diminta untuk mengatakan kesalahannya pada awak media, yang mengatakan semua karena kesalahannya. Jelas sekali terlihat Cristine ingin menyingkirkan keduanya dari hidup mereka.


Namun apa kali ini?? Kenapa tiba-tiba mengundang datang ke rumah?

__ADS_1


Daren melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya, hanya butuh waktu satu setengah jam untuknya sampai di rumah kediaman pak Morgan.


Daren begitu terkejut tatkala ia lihat banyak mobil polisi terparkir di halaman rumah keluarga Morgan, keringat dingin seketika membasahi dahi dan tengkuknya. Ia mencium sesuatu yang terasa begitu menekan tekadnya.


"Ada apa ini???" Jantung Daren berdegup sangat kencang sampai hampir melompat dari tempatnya berdiam.


Daren buru-buru memarkirkan kendaraannya di halaman rumah. Ia lihat mobil merah milik Ghea terparkir di sana. Daren menghampiri mobil itu, mendongokkan kepala lewat pintu kaca yang tertutup. Tak ada siapapun.


Lalu Daren bergegas masuk ke dalam rumah, terlihat beberapa polisi memeriksa semua barang di rumah itu.


"Ada apa ini.....???" Tanya Daren yang seperti melewatkan sesuatu yang sangat penting.


"Apakah anda putra dari tuan Morgan?" tanya seorang lelaki yang terlihat berpakaian rapih dengan beberapa lencana besar yang melambangkan kedudukannya yang tinggi.


"Betul pak..... Ada apa dengan papa saya?" Daren bertanya dengan raut muka polos tak tau apapun.


"Bapak Morgan dinyatakan telah meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit karena gagal jantung." Jelas sang polisi itu dengan tatapan iba.


"APA....!!!!" Daren tak bisa menahan keterkejutannya. Jantung Daren seakan berhenti berdetak, seketika sesak, membuat nafasnya tersengal.


"Betul pak.... Jenazah sedang di otopsi untuk menganalisis penyebab kematian beliau." Jelas perwira itu mengangguk mantap meyakinkan ucapannya.


"Mana mungkin pak..... Gagal jantung??? Yang benar saja." Daren berteriak marah dengan pernyataan sang perwira polisi.


"Selama ini papa tak pernah punya riwayat penyakit jantung, kenapa dia bisa meninggal karena serangan jantung??" Daren berteriak lantang.


Seisi rumah nampak menoleh kepadanya, suaranya menggema di ruangan besar kuarga Arnoldy.


"Pasti ada seseorang yang sengaja mencelakai papa..... Apa kalian tak tau itu??? Papa selalu dalam bahaya karena kekayaan yang dia miliki. Dia berada dalam keluarga yang menginginkan kematiannya." Teriak Daren dengan amarah yang meledak-ledak.


Daren yang terbakar emosi berlari menghampiri sofa dan menggulingkannya dengan sekuat tenaga.


AARRRGGGHHH


Teriaknya menantang musuh.


"Cristine..... AKU TAU INI PERBUATANMU...." teriak Daren kian histeris. Ia lemparkan tinjunya pada meja kaca di depan sofa. Dengan satu pukulan,

__ADS_1


PRAANGGG


__ADS_2