Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 46


__ADS_3

"Fa......" panggil Alexa lemah, dengan sedikit kekuatan ia berusaha bangkit dari posisi tidurnya.


Faruq menolehkan pandangannya, menatap wanita yang entah mengapa terasa berbeda pada pandangan Faruq.


"Kamu sudah bangun?" tanya Faruq sekedar berbasa basi. Ia letakkan amplop besar di tangannya ke atas meja lalu ia hampiri wanita yang sedang mengandung anaknya itu.


"Kamu hamil??" Tanya Faruq serius, di tatapnya wanita itu dengan sorot mata tajam penuh todongan seakan menuntut jawaban pasti yang keluar dari mulut Alexa.


Alexa yang terduduk di sofa hanya bisa termangu, bingung harus menjelaskan apa tentang kehamilannya.


"Aku......."


"Karena malam itu......" Faruq menjeda ucapannya, menghela nafas sejenak.


"Tenang saja!! Aku akan tetap bertanggung jawab" ucapnya sembari berlalu dari sana, menenggelamkan dirinya ke dalam kamar. Merebahkan tubuh yang lelah ke atas ranjang yang selalu terasa dingin.


Suara detik jam terasa begitu jelas di kamar Faruq yang sunyi, seakan waktu sedang memberikan tekanan pada dirinya.


"Kenapa seperti ini??" gumamnya lagi.


"Bagaimana harus ku jelaskan kepada Ghea" lelaki itu tengah merutuki nasibnya yang buruk. Selalu saja ada halangan saat ia ingin bersama dengan kekasih hatinya, seakan dunia tak memihak pada hubungannya dengan Ghea.


Ingatan-ingatan manis saat bersama dengan Ghea seakan terhapus oleh asa yang mulai menyelimuti hati Faruq. Berkali-kali lelaki itu menghelakan nafasnya, berharap bisa merubah kedaan saat itu, namun hanya kecewa yang ia dapatkan.

__ADS_1


Sedangkan di sofa ruang tamu, Alexa masih terduduk lemah disana, merasa sedikit heran dengan ucapan Faruq yang baru saja bergema di liang telinganya.


Tatapan sayu ia lemparkan pada amplop biru di atas meja, amplop yang sudah terbuka, menampakkan lembaran kertas yang tercecer di atasnya. Alexa menghela nafasnya.


"Faruq pasti berfikir yang tidak-tidak tantangku" Keluhnya. Ia telan air liurnya yang entah mengapa terasa pahit sampai sulit sekali masuk ke dalam kerongkongan.


"Tapi bayi siapa ini???" Alexa mulai berfikir sesuatu sembari mengelus perutnya yang belum buncit.


Tiba-tiba matanya mengerling, seakan menemukan suatu pencerahan atas masalahnya. Ia anggukkan kepalanya berkali-kali tersenyum licik menatap pintu kamar Faruq yang sudah tertutup beberapa menit yang lalu.


"Pantas saja Faruq berkata akan bertanggung jawab. Pasti ia berfikir kita sudah melakukannya" senyumnya lebar menatap atap abu-abu di ruangan depan.


"Saat ia mabuk malam itu......" Alexa kembali mengingat malam saat ia mendapati Faruq yang mabuk berat, ia merebahkan Faruq di atas dipannya lalu melepas semua pakaian Faruq dan juga pakaian miliknya, menyelimuti tubuh mereka dengan selimut yang sama, berdrama telah menikmati malam bersama.


Rencana yang ia lakukan hanya untuk mencari perhatian Faruq malah bisa memberikan keuntungan yang berbeda, setidaknya atas rencana itu Alexa bisa bersama Faruq lebih lama lagi. Lelaki itu tak mungkin menceraikan Alexa dalam waktu dekat karena kehamilannya. Ia punya waktu lebih lama untuk menyusun rencana lain, rencana untuk menaklukkan Faruq sepenuhnya.


"Tunggulah Ghea, kehancuranmu akan segera dimulai" Ancam Alexa pada awang-awang.


................


Malam sudah mulai menyingsing bumi, semburat jingga menyebar di langit bagian barat, memancarkan keindahan yang mendamaikan mata.


Suara mesin kendaraan juga klakson yang bersahutan menggambarkan suasana kota Jakarta yang ramai, terutama pada jam pulang kerja.

__ADS_1


Ghea memandang deretan kendaraan yang berbaris rapih di jalanan, mengantri untuk berjalan menuju rumah mereka masing-masing, pemandangan yang sangat Ghea hafal betul di Jakarta. Ia tidak berfikir jika kota M juga mempunyai jam sibuk sampai harus terjadi macet juga layaknya Jakarta.


Senyum kilas ia sunggingkan sebelum akhirnya ia kembali memperhatikan secangkir cappuccino di hadapannya.


Ia memang jarang sekali bisa berjalan santai atau sekedar nongki-nongki cantik ketika tinggal di Jakarta, setiap waktunya selalu penuh dengan jadwal pekerjaan yang harus rutin ia kerjakan. Bahkan terkadang ia sampai tak punya waktu untuk memanjakan dirinya sendiri, Jeco akan terus berada di dekatnya, atau sering menelfon ketika mereka tak sedang bersama.


Merasakan waktu senggang di sana, bersenggama dengan teman-teman membuatnya bahagia, melepas semua lelah dan penat yang selama ini ia simpan.


Awalnya Ghea merasa senang mendapat keberuntungan menjadi pemimpin perusahaan, kedudukan yang sangat orang lain inginkan, tak terkecuali Ghea. Itulah mengapa ia mengambil jurusan management busnis agar ia bisa berkecimpung dalam dunia bisnis yang selalu ia inginkan.


Namun baru dua tahun menggeluti profesinya, ia sudah merasa jengah dengan kesibukan yang harus ia lakukan setiap harinya. Kini ia faham mengapa kakaknya menolak kedudukan penting itu, lelaki dengan perawakan tinggi dengan badan yang ramping itu memilih kuliah dengan juruan hukum. Menurutnya bekerja di pengadilan lebih baik untuknya ketimbang memimpin perusahaan yang di wariskan dari ayahnya.


Ia raih gagang cangkir berwarna hijau tua di hadapannya, mengecap cairan yang masih terasa sedikit panas di mulutnya, seketika hormon dopamin dalam otaknya meningkat, memberikan sensasi bahagia dan kesenangan yang langsung menjalar ke dalam hatinya. Wanita itu tersenyum sembari meletakkan kembali cangkir pada pada


Lapiknya yang berwarna sanada.


Telinganya ia fokuskan kembali mendengar celoteh teman-temannya yang sebenarnya sama sekali tak berfaedah, namun ia merasa rindu dengan moment seperti ini yang sudah sangat lama tak pernah ia jumpai. Biasanya hanya ada kata-kata dan sambutan formal yang selalu ia dengar setiap hari dari para colega dan juga para rekan bisnisnya.


Bahkan suara tawa nyaring dari para temannya sama sekali tak mengganggunya, ia merindukan tawa renyah seperti itu.


Ghea begitu fokus memperhatikan teman-temannya sembari tersenyum senang meski candaan mereka tak pernah terdengar lucu di telinga Ghea. Entah terlalu receh selera humor mereka atau memang Ghea yang terlalu sulit untuk di ajak tertawa. Mungkin karena kesibukannya selama ini mempengaruhi selera humor Ghea atau mungkin karena ia hidup dalam lingkungan yang terlalu formal juga. Seakan pribadinya yang periang telah hilang dari dirinya sekarang.


"Ini Ghe..... Kamu tak makan?" Tawar Tatik pada Ghea, menyodorkan beberapa macaroon yang tertata begitu elok dalam piring panjang berwarna putih abu.

__ADS_1


"Terimakasih" ucap Ghea sembari mengambil sebuah macaroon dari sana, senyumnya ia sunggingkan lebar-lebar ke arah Tatik, merasa terhormat telah di perlakukan baik oleh wanita itu.


Selly yang duduk tepat di sebelah Ghea sedikit tertegun melihat temannya yang satu itu, biasanya ia adalah salah satu dari beberapa temannya yang sering sekali menyuruh teman yang lain. Sangat absurd di mata Selly jika Tatik bersikap baik seperti itu pada Ghea.


__ADS_2