
Aku pasti akan merebut semuanya milik papa, tak akan ku biarkan seperakpun jatuh ke tanganmu." Geram Ghea mengutuk Roy dengan tatapan yang penuh api.
Roy terkekeh.
Bagaimana mungkin wanita yang tak punya apa-apa bisa menjatuhkannya. Lagian papa sebagai kartu AS sudah ada dalam genggaman Roy sekarang. Ia sudah menyusun rencana ini matang-matang. Dan semua keberuntungan sedang berpihak padanya, bisa dengan mudah Roy menjalankan semua siasat yang sudah tersusun sesuai alurnya.
"Kau sudah tak punya wewenang apapun disini, silahkan keluar dari ruangan saya!!" Roy memelototkan matanya, menatap kakak tirinya dengan penuh kebencian.
Dengan amarahnya Ghea meraih jas dan juga tas tangan miliknya, kemudian bergegas pergi dari ruangan yang sudah menyimpan banyak cerita selama dua tahun ini.
Ghea mempercepat langkahnya, menuruni gedung dengan lift yang beroperasi disana, lalu bergegas menaiki mobil pribadi yang sudah terparkir di depan pintu lobbi. Membawa dirinya berlalu dari gedung tinggi yang setiap hari ia datangi.
Ia tak tau harus berbuat apa, papa yang telah mewariskan semuanya sedang kehilangan ingatannya, Ghea tak punya jalan lain kecuali menunggu papanya sembuh.
Sesuatu seakan menghimpit rongga dadanya begitu kuat, sampai ia tak bisa bernafas dengan baik. Pengar, itu yang Ghea rasakan di dalam hidungnya. Merasa bodoh karena tak bisa melakukan apapun. Matanya meremang, membuat kabur pandangannya seketika.
Ghea menepikan mobilnya di pinggiran jalan yang lumayan sepi. Air mata yang sedari tadi ia tahan di pelupuk mata seketika tumpah ruah membasahi pipinya yang baru beberapa waktu ia poles dalam perjalanannya ke kantor.
Wajahnya yang basah ia tenggelamkan pada setir pengemudi, tubuhnya berguncang hebat, menumpahkan segala kekesalan dan kecewa yang menekan dadanya dengan kuat.
Penyesalan selalu datang terlambat. Harusnya dia tetap disini, mempertahankan perusahaan yang sudah ada dalam genggamannya. Ia fikir adik tirinya cukup baik untuk menggantikannya sementara meski Ghea tau dia tak ada di pihaknya. Namun ternyata Roy dan Cristine telah merencanakan hal ini secara matang sebelumnya, sehingga bisa dengan mudah melancarkan aksinya ketika ada kesempatan.
"Kak Daren pasti akan marah mendengar hal ini." gumam Ghea merasa ciut.
Sejenak Ghea memikirkan cara yang baik untuk merebut perusahaan itu kembali, juga mengembalikan ingatan papa yang sudah menjadi boneka di tangan bu Cristine.
Ghea menghapus air mata dari wajahnya, menyalakan mesin mobilnya lagi, lalu segera berlalu dari sana, pergi ke rumah sakit tempat ayahnya di rawat.
Tak lupa ia membeli sekeranjang buah manggis untuk papa, buah kesukaan pak Morgan. Ghea melangkah pasti menuju ke lantai dua tempat pasien rawat inap. Berharap sudah ada sedikit perubahan dengan kondisi papanya.
Ghea berharap banyak tentang ingatan papanya, kesedihan tiba-tiba mendera wanita yang terlihat cantik dalam balutan pakaian berwarna putih, tatkala ia mengingat bagaimana kemarin papanya begitu menurut dengan perintah Cristine. Ia bahkan mengusir Ghea tanpa mempedulikan air mata yang deras mengalir di pipinya. Lelaki tua itu benar sudah melupakannya.
__ADS_1
Pintu kamar pak Morgan sudah terlihat dalam jangkauan pandangan Ghea. Tiba-tiba saja nyalinya menciut. Langkah Ghea melambat dan berhenti. Ia masih sedikit khawatir dengan keadaan papa Morgan. Akan sangat menyakitkan jika lelaki tua itu masih belum bisa mengingatnya, mengusirnya begitu saja meski Ghea sudah menjelaskan jika ia anaknya.
Hal yang menciptakan trauma tersendiri dalam ingatan Ghea, dilupakan oleh orang yang paling Ghea kasihi.
"Bagaimana jika papa masih melupakan aku??" Pertanyaan itu begitu saja terngiang di otak Ghea yang masih bimbang untuk mengunjungi papanya.
Setelah mondar mandir beberapa kali, Ghea membulatkan tekadnya, ia mengambil nafas dalam sebelum akhirnya melangkah pasti memasuki pintu di hadapannya.
GLEK
Mata Ghea membelalak. Jantungnya berdetak kencang, tak ada seorangpun disana, Ghea mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari seseorang yang seharusnya ada disana.
"Pah....." Panggil Ghea mengecek ke kamar mandi dan ruangan lain. Nihil. Ruangan itu benar-benar kosong. Ghea kembali mengecek ke pintu ruangan. Membaca tulisan yang terpampang disana. Tak menemukan sesuatu yang salah.
"Papa kemana???" Matanya meremang. Takut terjadi sesuatu kepada papanya.
Ghea berjalan cepat menghampiri meja resepsionis. Menanyakan nama papanya dan kamar tempat ia di rawat inap.
"Maaf nona, pasien atas nama Morgan Netrico sudah di bawa oleh keluarga untuk pindah ke rumah sakit lain." Jawab sang resepsionis lugas.
"Beliau berkata istrinya, nyonya Cristine." Jawabnya lagi.
"Kemana mereka pindah?" Tanya Ghea lagi dengan wajah yang kian pucat.
"Maaf nona, anda siapa?" Tanya sang resepsionis merasa curiga, ia tatap wajah Ghea dengan tatapan mengintrogasi.
"Saya anaknya." Ghea menatap sayu wanita berseragam suster di hadapannya.
"Kenapa anda tidak menghubungi keluarga anda saja nona. Kami tidak tau ke rumah sakit mana pak Morgan di pindahkan."
"Apa anda serius tidak tau?" Ghea mengangkat kedua alisnya, mencoba mengancam wanita itu.
__ADS_1
"Kami memang tidak tau nona." Jawab resepsionis itu.
"Jangan pernah membohongi saya!! Atau anda akan mendapat masalah karena itu." Ghea tersenyum sinis sembari berlalu dari meja resepsionis.
Ghea berjalan ke luar dari rumah sakit. Tangannya menggapai sesuatu yang ia simpan dalam saku jas putih miliknya. Sebuah ponsel canggih keluaran terbaru dari merek yang sudah terkenal.
Ghea menarikan jarinya di atas layar datar miliknya, mendapati sebuah nomor yang sangat ia hafal, lalu menekan gambar telepon berwarna hijau yang nampak di layar.
Tut..... Tut.....
Dengan perasaan yang berkecamuk Ghea mendekatkan ponsel pada telinga kanannya, menunggu seseorang menerima panggilannya.
"Hallo Ghe......" Ucap Daren begitu lelaki itu mengangkat panggilan adiknya.
"Kak..... Papa......" ucapan Ghea tersekat sesuatu yang membuat hidungnya pengar.
"Kenapa???" Daren berusaha tenang meski fikirannya sangat kacau mendengar aduan adiknya itu.
"Papa di bawa pergi oleh bu Cristine."
Suara Ghea pelan, namun mampu mencambuk perasaan Daren dengan begitu keras. Dadanya sesak seketika, ia bingung harus bagaimana berekspresi, sedih ataukah marah?, kedua perasaan itu menyatu dan sangat sulit untuk Daren pisahkan.
"Aa.. Apa maksudmu Ghee .... ??"
"Bu Cristine telah membawa pergi papa ke rumah sakit lain. Aku sudah menanyakan hal itu kepada pihak rumah sakit." Jelas Ghea yang sudah hampir sampai pada mobilnya yang terparkir di depan rumah sakit.
"Kamu dimana sekarang?"
Daren ikut khawatir setelah mendengar penjelasan sang adik. Ia berdiri dari kursi kerjanya, meraih jas hitam miliknya, berlalu dari sana dengan panggilan yang masih tersambung dengan Ghea.
"Aku di rumah sakit kak, ini sudah di dalam mobil." Jawab Ghea, membuka pintu mobil dan mendudukkan dirinya disana.
__ADS_1
"Kita ke rumah papa, kayaknya perlu di kasih pelajaran itu nenek sihir" ucap Daren merasa geram dengan kejahatan ibu tirinya.
Ghea mengangguk, lalu mematikan panggilannya, menghidupkan mesin mobil dan segera berlalu dari halaman rumah sakit itu.