
"Ayo pak..... Duduk disana, dokter sedang mengambil tindakan" ucap seorang suster menegur Daren yang terkulai lesu di depan pintu UGD. Dengan sekuat tenaga Daren membawa dirinya bangkit, menyongsong kursi tunggu yang yang sudah tersedia disana. Mencoba untuk menenangkan diri.
Sebenarnya Daren adalah lelaki yang lemah untuk menghadapi kesedihan terhadap keluarganya, namun karena keadaan ia harus kuat, ia adalah seorang lelaki, seorang kakak, yang seharusnya bisa menjadi tumpuan adik perempuannya.
Matanya membulat, ia teringat dengan adik perempuannya. Ia raih ponsel yang masih ia simpan di saku celananya, mengetik sebuah nama dalam kontak teleponnya. Lalu menekan tombol hijau disana.
"Hallo kak......" Sapa Ghea setelah beberapa detik Daren menelfon.
Tak ada suara.
"Kak Daren????" Ulang Ghea lagi.
Suara isak mulai terdengar pada ponsel Ghea, hatinya langsung bergetar tak karuan, ia berfikir ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya.
"Kakak kenapa kak....???" Ghea mulai panik sekarang, matanya mulai memerah.
"Kak.... Jawab Ghea kak...!!!" suara Ghea seketika menjadi parau.
"Papa Ghe...... Papa kecelakaan" Dengan suara bergetar Daren menjawab pertanyaan Ghea.
Bagaikan di timpuk ribuan batu besar, Ghea ambruk di atas sofa kamar hotel. Segala kekhawatiran yang barusan ia fikirkan menjadi kepanikan yang menekan ketenangannya.
"A.... Apa yang barusan kakak katakan??? Apa itu benar??? Kakak tidak bercanda kan?" Ghea masih menganggap perkataan kakaknya hanyalah bualan belaka.
Bukankah selama ini pak Morgan hanya berdiam diri di rumah menikmati hari-harinya, ia tak pernah pergi kemanapun semenjak Ghea resmi menggantikan kedudukannya. Lalu bagaimana bisa lelaki paruh baya itu mengalami kecelakaan, hendak kemana ia pergi? Pertanyaan itu tak jua mendapat jawaban, hanya terngiang di otak Ghea yang kacau dengan semua kepanikannya.
__ADS_1
"La..... Lalu bagaimana keadaan papa sekarang?" Tanya Ghea begitu panik.
"Entahlah..... Aku tak tau, dia masih di ruang ICU" Jawab Daren dengan lemah.
"Aku akan pulang secepatnya,kirimkan alamat rumah sakitnya kak!!" Ucap Ghea seketika, Lalu dengan gusar ia akhiri panggilannya secara sepihak.
Air mata Ghea mengalir begitu saja, deras menggambar garis air pada pipinya yang putih mulus, entah mengapa ingatan saat ia kehilangan ibu mereka begitu saja melayang dalam fikirannya. Ia masih hafal betul bagaimana rasa sakit kehilangan salah seorang yang menjadi tumpuan hidup malah menghilang dari dunianya. Wanita tangguh yang dengan sukarela berjuang untuk menghidupi kedua anaknya.
Ghea begitu kehilangan arah saat itu. bagaimana tidak, seseorang yang menjadi tiang pegangan untuk Ghea kuat berdiri malah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Bahkan sesak dan sakit di dadanya masih terasa ngilu sampai sekarang, menghujamkan derita pada hati Ghea yang mulai koyak dengan kesedihan yang lain.
Wanita yang baru saja berganti piyama itu bangkit, meraih ponsel yang baru saja ia letakkan. Mencari pesawat dengan jadwal penerbangan tercepat. Lalu memesan tiketnya secara online. Setelah dirasa cukup, Ghea membereskan barang-barangnya. Memasukkan semua baju ke dalam koper besar miliknya. Bergegas cekout dari hotel megah yang sudah sebulan ini ia tinggali.
Sedangkan di rumah sakit Daren yang nampak gusar, berjalan kesana kemari menunggu proses operasi yang belum kunjung usai. Satu jam berlalu, seorang dokter keluar dari ruang ICU, ia buka masker yang menutupi mulutnya.
"Dengan keluarga korban kecelakaan?" Ucapnya sedikit lantang, Daren yang berdiri di hadapan sang dokter mendekat dengan cepat.
Sedangkan pada saat yang bersamaan sebuah ranjang pasien nampak di dorong dari dalam ruang ICU keluar dari sana, sebuah tubuh terbujur di atas ranjang dengan di tutup kain berwarna hijau.
Mata Daren menatap nanar pemandangan di hadapannya itu, ia bingung harus berlari mengejar sang suster atau tetap berada di tempat mendengarkan penjelasan sang dokter.
"Maaf sekali pak..... Kami sudah berusaha sebisa kami, tapi karena kondisi luka beliau yang terlalu parah, sangat sulit untuk ditangani, juga lukanya terlalu banyak sehingga korban kehilangan banyak darah terlalu cepat. Kami tak bisa menyelelamatkan salah satu korban" Jelas sang dokter berkata pelan penuh penghayatan, seakan sudah terlatih untuk menyampaikan kabar menyedihkan itu.
Entah bagaimana Daren harus menanggapi penjelasan dokter, tubuhnya seketika lemas lunglai. Mulutnya hanya bisa menganga, tak bisa sedikitpun berkata. Air mata deras mengalir dari mata Daren yang kini terlihat begitu sayu. Ia raih pundak lelaki dengan jas putih di hadapannya.
__ADS_1
"Anda tidak bercanda kan dok???" tanya Daren begitu ambisius menggoyangkan tubuh sang dokter.
"Tidak pak..... Silahkan anda lihat dahulu pak di ruangan sebelah sana!" Sang dokter nampak menunjuk sebuah ruangan yang tidak terlalu jauh dari tempat Daren berdiri.
Dengan air mata yang masih mengucur deras Daren berjalan lunglai mendekat ke ruangan itu, mencoba memastikan ucapan sang dokter.
Saat melihat Daren berjalan ke ruangan itu, suster yang barusan mendorong ranjang ke ruangan itupun tak menutup kembali pintunya. Rupanya ia faham saat melihat gesture dan raut muka Daren yang begitu menggambarkan kesedihannya.
Langkah yang berat terus ia bawa ke ruangan tersebut meski terseok-seok, sampai pada akhirnya ia berhenti tiga langkah dari bibir pintu.
Baru saja melihat penutup jenazah berwarna hijau, jantung Daren sudah kian sesak di buatnya. Pemandangan itu seakan memojokannya dalam ruangan penuh kengerian yang begitu mengintimidasi Daren. Ia tak tau kemana harus berlari, ruangan itu terlalu kecil dan sesak, membuatnya kesulitan bernafas.
"Pa......" Rintihnya menatap tubuh yang terbujur kaku di atas ranjang.
Perlahan Daren mendekatkan dirinya ke arah tubuh yang terbujur di hadapannya, menatap postur yang tercetak pada kain penutup.
Jarak keduanya semakin dekat, semakin sesak pula dada Daren terasa, seakan sesuatu menghimpitnya dengan kuat.
Dengan tangan yang gemetar diraihnya kain itu, menariknya turun perlahan. Daren sedikit menutup matanya, merasa tak siap untuk melihat sesuatu yang mungkin akan ia ingat seumur hidupnya. Baru setelah kain itu resmi terbuka, menampakkan sebatas wajah sampai ke leher, Daren memberanikan diri membuka kelopak matanya yang sebelah kiri.
Namun kemudian Daren sedikit tercengang mendapati itu bukanlah wajah yang ia fikirkan.
"Pak Martin....." Gumam Daren menatap lelaki yang sudah terbujur kaku di hadapannya.
Wajah dengan banyak luka koyak dan juga jahitan di sana sini, juga beberapa luka memar dan lecet memenuhi wajah lelaki itu, tapi Daren masih sangat hafal dengan Lelaki yang sudah ia kenal semenjak pertama kali datang ke Jakarta. Lelaki yang menjemputnya di bandara sejak kedatangannya dua tahun silam di kota besar tersebut.
__ADS_1